Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Tampan Tapi Menyebalkan


__ADS_3

Aku benar-benar merasa kesal terhadap pria yang bernama Jonathan itu, dia malah terus saja mengingatkan aku tentang masa dulu.


Dia juga tidak menyerah untuk meyakinkan aku jika dia benar-benar serius dengan ucapannya, dia kembali untuk mencoba peruntungannya mengambil hatiku.


Sebenarnya aku juga merasa kesal padanya, karena dia terus saja mencoba berinteraksi dengan aku. Padahal di sini ada ayah dan juga bunda, kenapa dia tidak menyapa mereka terlebih dahulu coba.


Bahkan di sini juga ada ketiga sahabatku, sapa dulu kek mereka. Karena walau bagaimanapun juga dia sangat tahu jika dari dulu kami berteman dekat


"Bang Jo, please deh jangan maksa-maksa gue buat jadi pacar elu. Orang tuh kalau dateng yang sopan, ada bonyok gue. Ada sahabat-sahabat gue juga, sapa mereka juga napa?" keluhku.


Pria yang bernama Jonathan terkekeh seraya menepuk jidatnya, dia seolah-olah menyadari apa kesalahan yang sudah dia lakukan.


"Eh? Sorry Om, Tante. Aku terlalu bersemangat bisa bertemu kembali sama Anes, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar soalnya. Rasanya kangen banget sama cewek cantik dan manis kaya Anes, kalau boleh aku malah pengen langsung nikahin Anes aja," kata Jonathan seraya terkekeh.


"Mana ada kaya gitu!" kataku penuh protes.


Dia malah seolah tidak mendengarkan apa yang aku katakan, dia malah menyapa ketiga temanku dengan ramah. Setelah itu, dia kembali menatapku dengan lekat.


"Ada, Nes. Kalau elu udah siap, kita langsung ke penghulu," kata Jonathan.


Duh, itu si Jonathan beneran nyebelin banget ya, ada karet ngga sih. Rasanya pengen aku iket tuh bibirnya biar ngga ngoceh mulu.


"Gila! Dulu elu diem banget, sekarang elu cerewet, Bang! Gue mana mau nikah sama orang cerewet," kataku.


Mendengar apa yang aku katakan, dia malah tertawa lepas. Kemudian dia terdiam dan menatapku dengan lekat.

__ADS_1


"Karena gue sadar, diam itu ngga bikin elu tahu kalau gue sangat suka sama elu. Dengan gue banyak bicara seperti ini, elu bisa tahu kalau gue sayang banget sama elu dan gue serius. Gue pengen jadiin elu bini gue," kata Jonathan.


Sumpah ya, dengar ucapan dia aku bener-bener kesel. Rasanya pengen banget aku menendangnya sampai terdampar di planet mars, karena dia benar-benar konyol menurutku.


Sayanganya, saat aku hendak membalas ucapan dari Jonathan ayah malah mengelus lembut punggungku seolah dia berkata jika aku tidak boleh berkata apapun lagi.


"Sudah-sudah, kami mau pulang. Kalau mau ngobrol sama Anes nanti kamu ke rumah saja, ngga enak ngomong di depan Cafe begini," celetuk Ayah.


"Siap, Om. Nanti saya datang, sekalian sama daddy," jawab Jonathan.


"Mau ngapain bawa bokap elu segala?" tanyaku sedikit kesal.


"Ehm, maaf Bunda Kiara. Masih ingat sama James William, kan? Pemilik perusahaan Z grup, sudah lima tahun loh perusahaan Z grup kerja sama dengan perusahaan Bunda. Ingat ngga?" tanya Jonathan.


"Hem, Bunda ingat. Tuan Terus apa hubungannya sama kamu?" tanya Bunda.


"Wah, kasihan sekali. Sampaikan salam saya, semoga tuan James cepat sembuh," kata Bunda.


"Aamiin," jawab Jonathan.


"Ya sudah, kalau begitu Tante sama Om sama pamit pulang. Nanti kamu ke rumah aja kalau mau ngobrol sama Anas," kata Ayah.


Aku langsung memelototkan mataku mendengar apa yang ayah katakan, kenapa ayah malah berkata seperti itu coba.


Padahal aku ingin sekali menjauhi lelaki yang bernama Jonathan itu, dulu memang aku pernah berkata kepada Jonathan jika ingin mendekatiku dia harus menjadi seorang pria yang tampan dan juga mapan, bukan culun seperti Jonathan yang dulu.

__ADS_1


Namun, bukan berarti setelah dia tampan dan juga mapan dia bisa melakukan hal semaunya dia. Aku tidak bisa langsung menyukainya dia, apalagi harus menjadi pacarnya.


Ieeeeww, aku kok ogah ya. Padahal dilihat dari sisi manapun Jonathan keren parah, aku sampai pangling banget lihatnya.


"Ya, tentu saja. Nanti malam saya akan datang, semoga Anes suka dengan kedatangan saya," jawab Jonathan.


"Oh ya, kalau perlu sama ayah kamu juga ke rumah. Ada perlu soalnya Om sama ayah kamu itu," kata Ayah lagi.


Sumpah demi apa pun aku semakin kesal dibuatnya, karena ayah seenaknya saja mengundang


Udah gitu dia juga malah mengundang ayahnya, tuan James. Aku benar-benar takut jika ayah akan menjodohkan aku dengan pria yang bernama Jonathan itu, aku tidak mau.


"Pasti, Om. Aku dan ayah akan menyempatkan waktu untuk datang," kata Jonathan.


Oh ya ampun, aku benar-benar kesal mendengar apa yang dia katakan. Kenapa sih ngga dia bilang aja kalau dia ngga punya waktu? Kenapa juga harus menyempatkan waktu untuk datang ke rumah ayah untuk makan malam bersama? Ayah juga ih, benar-benar menyebalkan.


"Syukurlah, ini urgent soalnya. Kalau begitu Om pamit," kata Ayah.


"Silakan Om, sampai jumpa nanti malam," kata Jonathan.


Akhirnya aku bisa bernapas lega karena kami akan pulang, tapi aku merasa kesal karena saat aku hendak pergi dia menunduk lalu berkata tepat di cuping telingaku.


"Jangan lupa dandan yang cantik untuk menyambut kedatangan calon suami," bisik Jonathan.


****

__ADS_1


Selamat sore Bestie, selamat menikmati waktu libur kaleyan. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan juga like ya, sayang kalian semua.


__ADS_2