Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Bangun Kesiangan


__ADS_3

Benar saja sesuai dengan dugaanku, ternyata hari ini kami bangun kesiangan. Aku yang bisa tertidur dengan pulas saat hari menjelang subuh, membuat diriku bangun kesiangan.


Begitupun dengan ketiga sahabatku, mereka bangun kesiangan. Mungkin karena mereka juga sangat lelah, karena kami menghadapi hari yang penuh tantangan beberapa hari ini.


Berbeda dengan Alex, selain lelah dia juga menemaniku hingga aku bisa tertidur dengan lelap. Sepertinya hal itulah yang membuat Alex bangun kesiangan.


Kami terbangun pukul delapan pagi, shalat subuh pun tidak sempat kami jalani. Kami semua ribut ingin memakai kamar mandi, semuanya merasa ingin segera membuang air kecil.


"Gue duluan, kandung kemih gue penuh ini!" keluh Naura seraya berlari.


Alex dan Mario terlihat menghela napas berat aku tertawa melihat kekesalan di wajah mereka. Melihat akan hal itu, kemudian aku berkata.


"Kamar mandi dekat dapur ngangg--"


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Mario sudah bangun dan berlari keluar dari dalam kamarku.


Aku tertawa melihat akan hal itu, mungkin dia takut jika aku dan Alex akan mendahului dirinya untuk masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dekat dapur, sehingga dia berlari terlebih dahulu.


Kembali aku melihat Alex yang terlihat menghela napas berat, aku menepuk pundaknya kemudian berkata.


"Kalau elu sudah ngga tahan, elu bisa pakai kamar mandi yang ada di kamar tamu," kataku.


"Ya, gue rasa itu lebih baik. Gue ke kamar tamu saja, biar cepet juga," kata Alex.


"Ya sudah, sono gih. Gue juga mendingan mandi aja di kamar bunda," ucapku.


Alex terlihat mengangguk setuju dengan apa yang aku katakan, karena sepertinya jika kami mandi bersama-sama di tempat yang berbeda, itu akan lebih mempersingkat waktu.


"Iya, Nes. Gue ngerti," kata Alex.


Setelah mengatakan hal itu, aku dan Alex berjalan beriringan. Dia terlihat masuk ke dalam kamar tamu, sedangkan aku langsung masuk ke kamar bunda.


Tentu saja selain ingin menuntaskan hajatku, aku juga ingin kami semua cepat mandi dan cepat berangkat ke fakultas tempat kami akan menimba ilmu.


Aku takut jika kami terlalu lama, nanti kita malahan kami tidak bertemu dengan ibu Riyani Ibu dari Rayena.


Selama aku mandi di kamar bunda, aku berpikir jika beralasan untuk memberikan data yang ketinggalan rasanya itu akan sulit dicerna oleh akal sehat.


Aku pun berpikir dengan keras, bagaimana caranya agar kami bisa bertemu dengan ibu Riyani.


Saat aku sedang menggosok tubuhku, tiba-tiba saja terbersit di otak minimalisku untuk menunggu kedatangan dari ibu Riyani di depan gerbang kampus saja

__ADS_1


Rasanya berpura-pura makan bubur ayam di sana akan lebih baik, dari pada berkata untuk mengantarkan data yang ketinggalan.


Namun, sepertinya aku membutuhkan bantuan dari Mario untuk melancarkan aksiku. Karena hanya dia yang gesit dalam masalah ini.


Aku segera menyelesaikan ritual mandiku, kemudian segera memakai baju dan keluar dari kamar bunda.


Saat aku keluar dari kamar bunda, ternyata ketiga sahabatku juga sudah melaksanakan ritual mandinya.


Mereka terlihat berjalan ke ruang makan, aku paham mungkin mereka sudah kelaparan. Apalagi saat mencium aroma wangi makanan yang dibuatkan oleh bibi, tentu saja membuat perut terasa meronta-rontak ingin diisi.


"Nes! Mandinya lama banget!" keluh Naura.


"Sorry, gue sambil mikir," kataku.


"Mikir apa sih?" tanya Mario.


Aku menghampiri ketiga sahabatku, kemudian aku membisikan rencanaku. Mereka terlihat tersenyum, tapi ketika aku meminta Mario untuk melakukan sesuatu hal, dia terlihat cemberut.


"Kenapa harus gue yang jadi tumbal?" kata Mario. Sontak aku langsung memukul lengan Mario dengan cukup keras.


Enak saja dia berkata dijadikan sebagai tumbal, memangnya dia aku korbankan sebagai Tumbal Pesugihan apa.


"Yaelah, bantu gue napa!" kataku memelas.


"Baiklah, ini demi elu," kata Mario dengan nada tidak mengenakkan.


Namun, walaupun seperti itu aku tidak masalah. Karena yang terpenting dia mau menuruti keinginanku, bukankah ini demi kelancaran misi yang akan kami lakukan?


"Terima kasih my super hero, yuk sarapan. Biar kuat menghadapi kenyataan," kataku seraya nyengir kuda.


Sontak Mario terlihat memelototkan matanya, kemudian dia menoyor jidatku dengan seenaknya.


"Haish! Jahad!" kataku seraya berlalu meninggalkan mereka bertiga, aku pura-pura merajuk.


Namun bukannya Mario bersimpati terhadap diriku, dia malah tertawa dengan terbahak-bahak.


Bahkan yang tidak mengenakannya lagi, Naura dan juga Alex ikut terkekeh melihat diriku yang terlihat pura-pura merajuk.


Tentu saja aku merasa kesal, aku duduk di salah satu bangku yang ada di ruang makan. Kemudian, mereka bertiga menyusulku dan ikut duduk.


Mario terlihat duduk di sampingku, lalu dia merangkul pundakku lalu berkata.

__ADS_1


"Elu ngga usah marah, elu tau gue kaya apa. Ntar gue bantu deh, pokoknya. Yang penting elu jangan marah lagi," kata Mario membujuk.


Aku menolehkan wajahku ke arah Mario, lalu aku tersenyum kaku ke arah sahabatku itu. Mario langsung tertawa melihat diriku yang seperti itu.


"Elu lucu banget," kata Mario seraya mencubit gemas pipiku.


"Berisik!" kataku seraya mengendok nasi.


Sarapan yang bisa disebut makan ini berlangsung sangat cepat tapi tetap diselingi canda tawa.


Pukul setengah sepuluh aku dan ketiga sahabatku pergi ke Universitas tempat kami akan menimba ilmu.


Tiba di depan gerbang kampus kami langsung duduk di bangku di mana tukang bubur Ayam mangkal di sana.


Kami berempat memperhatikan kedatangan dari nyonya Riyani, ibu dari Rayena. Mata kami terus melihat ke arah gerbang, takut-takut dia akan datang.


"Ck! Kalian teh cuma duduk wae, kirain saya mah mau pada makan bubur Ayam," keluh Kang bubur Ayam.


"Yaelah, Bang. Gue udah sarapan, kenyang gue. Nanti gue kasih uang pajaknya," kata Mario.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Mario, kang bubur Ayam terlihat mencebikkan bibirnya. Dia seolah tidak suka dengan apa yang Mario katakan.


"Halah, paling entar ngasihnya ceban doangan!" kelunya.


Mario terlihat merogoh saku celananya, kemudian dia mengambil dompet dan mengeluarkan uang Rp100.000 lalu menempelkannya ke jidat kang bubur Ayam.


"Elu berisik, Bang. Gue numpangnya juga ngga bakal lama," kata Mario dengan raut wajah kesal.


Mendengar Mario berkata seperti itu, kang bubur ayam malah terlihat nyengir kuda. Apalagi saat melihat uang yang diberikan oleh Mario, dia terlihat menatap uang itu dan mengusap-usapnya.


"Makasih, ya. Udah duduk aja ngga apa-apa, tadi saya hanya bercanda," kata Kang bubur Ayam.


"Heleh, lihat duit merah aja langsung tuh mata kek mau jatoh!" kesal Mario.


Saat Mario dan kang bubur ayam sedang berdebat, aku langsung menepuk pundak Mario. Karena aku melihat sebuah mobil mewah masuk ke dalam universitas di depan kami.


Tidak lama kemudian mobil itu nampak berhenti dan seorang wanita nampak turun dari mobil tersebut.


Wanita itu terlihat sangat cantik walaupun usianya tidak muda lagi dan aku sangat yakin jika itu adalah ibu Riyani, ibu kandung dari Rayena.


Karena wajahnya begitu mirip dengan fotonya yang terpampang jelas di media sosial yang tadi malam aku sudah lihat.

__ADS_1


**/


Selamat malam Bestie, kuy ramein kolom komentar. Othor baru bikin gc, kuy gabung dan ramaikan. Masih sepi, hehehe.


__ADS_2