
Tidak lama kemudian mobil itu nampak berhenti dan seorang wanita nampak turun dari mobil tersebut.
Wanita itu terlihat sangat cantik walaupun usianya tidak muda lagi dan aku sangat yakin jika itu adalah ibu Riyani, ibu kandung dari Rayena.
Karena wajahnya begitu mirip dengan fotonya yang terpampang jelas di media sosial yang tadi malam aku sudah lihat.
"Elu Kenapa bengong?" tanya Alex.
Mendengar pertanyaan dari Alex, sontak aku langsung memalingkan wajahku ke arahnya. Kemudian, aku menunjuk wanita yang pastinya itu adalah ibu Riyani, Ibu dari Rayena.
"Kenapa sih, elu malah nunjuk-nunjuk wanita itu?" tanya Alex.
Aku langsung berdecak sebel kala Alex malah bertanya, seharusnya dia paham dengan apa yang aku kodekan. Karena kami ke sini memang untuk bertemu dengan ibu Riyani, ibunya Rayena.
"Dia Ibunya Rayena, Ibu Riyani," bisikku tepat di telinga Alex.
"Oh," jawab Alex seraya memonyongkan bibirnya.
Rasanya ingin sekali aku mencubit bibir tebalnya, tapi aku tidak tega. Karena walau bagaimanapun juga dia tetap sahabatku.
Setelah mengatakan hal itu, Alex nampak menepuk pundak Mario yang masih saja berdebat dengan kang bubur ayam.
Kemudian Alex mulai berbisik kepada Mario Mario terlihat menatap ke arahku. Sedangkan Naura sedari tadi malah asik memainkan ponselnya.
Dia benar-benar tidak sadar jika wanita yang kami tunggu sudah datang, sesekali Naura malah terlihat tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya.
Entah apa yang dia lihat, entah apa yang dia perhatikan. Aku tidak tahu. Namun, aku menjadi sebal dibuatnya.
Setelah berbicara dengan Alex, Mario nampak menghampiriku. Kemudian, dia menunduk dan berbisik tepat di telingaku.
"Jadinya gue beraksi sekarang, nih? Mumpung sepi nih, gue ke sana sekarang, ya?" tanya Mario.
Aku senang karena Mario langsung berkata seperti itu, itu artinya dia sudah sangat siap untuk melakukan misi yang sudah kami rencanakan.
"Iya, elu harus memastikan semuanya aman," jawabku.
"Beres," kata Mario seraya mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi.
Padahal tadinya dia bersikeras tidak mau melakukan hal tersebut. Namun, kali ini dia terlihat bersemangat. Mungkin dia juga ingin membantu Rayena.
__ADS_1
Ketiga sahabatku memang sangat iba kepada Rayena, karena aku sudah menceritakan apa yang terjadi terhadap Rayena.
Mereka sangat mengutuk perbuatan bejad dari sosok lelaki yang bernama Anggara itu, lelaki tidak berperasaan yang tega membunuh anak tirinya.
Setelah berpamitan kepada kami, Mario terlihat meninggalkan kami bertiga. Kemudian dia masuk ke dalam universitas yang sebentar lagi akan menjadi tempat kami menimba ilmu.
"Eh? Mario ke mana?" tanya Naura tiba-tiba saja. Rupanya dia baru sadar jika Mario sudah tidak berada lagi di dekat kami.
"Mario sedang menjalankan misi," ucapku kepada Naura.
Dia terlihat kaget saat aku mengatakan hal itu, dia bahkan langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas ransel yang sudah dari tadi dia bawa.
"Lah, memangnya orangnya udah datang?" tanya Naura.
"Sudah, sudah datang dari tadi. Elunya aja yang terlalu fokus sama handphone, lihatin apa sih sampai nyengir-nyengkir kaya orang gila?" kataku.
Naura hanya menggaruk-garuk pelipisnya yang sepertinya tidak gatal, entah apa yang dia lihat aku tidak tahu. Dia juga seakan enggan untuk mengatakannya.
Kami memang berteman sejak kecil. Namun, bukan berarti bebas mengorek privasi masing-masing. Karena setiap manusia mempunyai hal yang memang harus dibatasi dan tidak seharusnya diberitahukan kepada orang lain. Aku mengerti akan hal itu.
"Sorry gue tadi--"
"Ngga apa-apa, gue paham," kataku.
Tidak lama kemudian Mario nampak datang. Dia terlihat mengelus-ngelus dadanya, tapi di bibirnya tersungging sebuah senyuman kelegaan.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Beres!" kata Mario.
Aku tersenyum, lalu aku merentangkan kedua tanganku. Alex, Mario dan juga Naura langsung menghambur ke dalam pelukanku.
Kang bubur ayam hanya melongo melihat kelakuan kami yang menurutnya mungkin sangat aneh, setelah itu kami duduk kembali dan memperhatikan situasi.
Tidak lama kemudian, kami melihat ibu Riyani nampak berjalan ke arah mobilnya. Lalu dia nampak menunduk dan memperhatikan ban mobil miliknya.
Kami langsung berdiri dan segera berjalan ke arah wanita yang sudah berumur tapi terlihat masih sangat cantik itu.
Tentu saja aku akan menghampiri Ibu Riyani, karena inilah saat yang kami tunggu. Saat-saat yang memang sudah termasuk dari bagian rencana kami.
__ADS_1
"Ehm! Selamat siang, Nyonya. Kenapa dengan mobilnya?" tanya Alex.
Ibu Riyani yang sedang menunduk langsung menegakkan tubuhnya, kemudian dia menatap ke arah kami secara bergantian.
Tidak lama kemudian dia nampak tersenyum hangat, lalu perempuan yang terlihat masih sangat cantik itu berkata.
"Ini loh, ban mobilnya kok kempes ya? Mana keempat ban mobilnya kempes semua lagi, mana saya sedang terburu-buru. Saya harus ke rumah karena ada berkas yang tertinggal di sana, saya ada meeting penting soalnya," kata Ibu Riyani.
Wanita itu terlihat bingung, sesekali dia terlihat menatap jam mewah yang ada di pergelangan tangannya. Lalu, dia berdecak kesal.
"Maaf, Nyonya. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanyaku.
"Aku harus segera pergi tapi--"
"Apa tidak sebaiknya saya antar saja ke rumah Nyonya saja? Mobil saya ada di luar, anda bisa ikut sekalian," kataku lagi.
"Ho'oh, Nyonya. Ikut kita aja, nanti kita antar. Untuk masalah mobil Nyonya bisa meminta security untuk membawa mobilnya ke bengkel," kata Mario.
Wanita itu terlihat terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan tawaranku. Namun, tidak lama kemudian Ia pun berkata.
"Baiklah, tolong kalian antar aku ke rumahku," ucap Ibu Riyani.
Dalam hati aku bersorak senang, begitupun dengan ketiga sahabatku. Mereka terlihat menyunggingkan sebuah senyuman, lalu kami mengajak Ibu Riyani untuk masuk ke dalam mobil yang memang terparkir di depan gerbang.
Alex terlihat masuk dan duduk di balik kemudi, disusul dengan Mario yang duduk tepat di samping Alex.
Aku, nyonya Riyani dan juga Naura langsung duduk di bangku penumpang, kami duduk dengan canggung dan tanpa obrolan apa pun.
Tiba di kediaman Ibu Riyani, dia nampak turun dan mengucapkan terima kasih. Terlihat tidak ada tanda-tanda untuk mengajak kami mampir ke rumahnya, karena memang dia juga terlihat terburu-buru.
Aku terpaksa berakting di hadapannya, kurapatkan kedua kakiku lalu kugoyangkan tubuhku.
Aku meringis seperti orang yang benar-benar sedang menahan agar tidak pipis saat itu juga, Ibu Riyani nampak mengerutkan dahinya, kemudian dia bertanya kepadaku.
"Kamu kenapa, Nak? Kenapa terlihat meringis seperti itu?" tanya Ibu Riyani
"Eh? Ini aku mau numpang pipis boleh gak? Numpang pipisnya hanya sebentar, Kok," ucaku.
Tidak lama kemudian, Ibu Riyan terdiam. Namun, tidak lama kemudian dia tersenyum dan menganggukan kepalalanya.
__ADS_1
***
Selamat sore Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki.