Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Kaget


__ADS_3

Alex dan juga Jonathan terlihat saling tatap, kedua pria itu seolah-olah berkata jika dialah yang paling berhak. Dengan bersikap seperti itu, aku justru merasa jika mereka malah terlihat seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.


Lucunya akulah di sini yang menjadi bahan dari rebutan keduanya, sungguh aku ingin tertawa sekaligus marah.


Aku mengedarkan pandanganku, melihat ke arah tuan Louis, ayah, bunda dan juga Mario serta Naura.


Mereka semua terlihat menetap ke arah kami bertiga, sungguh aku merasa tidak enak hati dengan keadaan seperti ini


Sungguh aku tidak mengerti, sebenarnya apa keinginan dari keduanya. Namun, satu hal yang aku pahami, kedua pria di hadapanku itu sama-sama menyukaiku.


"Ngga bisa gitu, gue yang duluan di sini. Itu artinya gue yang bisa bicara duluan sama Anes," kata Jonathan.


"Elu emang duluan dateng, tapi gue udah jannjian sama Anes kalau kita mau bicara," kata Alex tidak mau kalah.


Alex dan juga Jonathan terlihat saling tatap dengan sengit, mereka seolah dua kubu yang berlainan yang sedang memperebutkan sesuatu yang sangat berharga.


Melihat akan hal itu, tiba-tiba saja kepalaku menjadi pusing. Aku memijat keningku dengan perlahan, lalu aku memutuskan untuk segera pergi dari ruang keluarga tersebut.


Tanpa banyak bicara aku langsung menganggukkan kepalaku ke arah bunda,ayah dan juga tuan Louis.


Mereka seolah paham, mereka hanya tersenyum lalu membiarkan aku untuk pergi. Rasanya aku ingin menenangkan diriku, Mario dan juga Naura seolah ingin menghentikan langkahku.


Namun, dengan cepat ayah menggelengkan kepalanya. Sehingga mereka langsung kembali duduk dan memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Jonathan dan juga Alex.


Aku berusaha untuk tidak peduli, kulangkahkan kakiku menuju kolam renang yang berada di belakang rumah.


Aku langsung duduk di tepian kolam renang, lalu kumasukkan kakiku ke dalam air. Rasanya sangat dingin, tapi terasa bisa menenangkan hatiku.


Kuhela napas sepenuh dada, lalu aku keluarkan dengan perlahan. Rasanya semua terasa begitu rumit, semenjak kejadian di gunung tersebut aku merasa... ah, sudahlah.


Jika bisa memilih, aku lebih baik tidak melakukan pendakian kala itu jika pada akhirnya akan seperti ini.


Amdai waktu bisa terulang kembali, aku akan memilih untuk pegi ke luar kota dan bersenang-senang dengan ketiga sahabatku.


Berkali-kali aku menghela napas dan berusaha untuk mengeluarkan rasa sesak dan perasaan yang berkecamuk di dalam dada.


Aku begitu asik melamun, sampai aku lupa sudah berapa lama kini berada di tepian kolam renang. Hingga tanpa terasa bulu kudukku terasa meremang.


Ada hawa panas dan juga dingin yang terasa menyentuh kulitku, tidak lama kemudian aku melihat pocong yang beberapa hari ini selalu mengikutiku.


Aku benar-benar kaget melihat akan hal itu, jika saja aku tidak berpegangan ke tepian kolam renang, mungkin aku sudah terjatuh ke dalam kolam renang.


"Ya Tuhan, kenapa Bapak pocong ini senang sekali mengagetkanku!" keluhku seraya memukul air yang berada di depanku.

__ADS_1


Hening, tidak ada yang menjawab. Tentu saja tidak ada yang akan berbicara, karena hanya aku dan pocong tersebut yang berada di sini.


Pocong itu berada di seberang kolam renang seraya menatapku, dulu aku selalu merasa takut jika bertemu dengan makhluk halus seperti bapak pocong ini.


Namun, kali ini aku merasa kesal bukan takut lagi. Aku membalas tatapan pocong itu, lalu aku pun langsung berkata.


"Kenapa mengagetkanku? Ada apalagi?" tanyaku dengan ketus.


Ketika aku berkata se seperti itu, bapak pocong itu tidak marah. Walaupun mukanya gosong, bahkan terlihat tidak dikenali. Namun, aku bisa melihat ada sebuah senyum yang tersungging di bibirnya.


"Terima kasih sudah mau membantu, bisakah kamu datang ke rumahku? Katakan kepada anak dan istriku jika aku tidak akan pernah pulang, karena aku sudah tiada. Tolong katakan juga kepada ayahmu, jika aku mati terbakar di gudang lama yang sudah terbengkalai."


Aku mendengar pocong itu membisikkan kata-kata tersebut di telingaku, walaupun dia jauh, tapi aku bisa mendengar dengan jelas bisikkan itu.


Aku merasa aneh, bukankah dia ditugaskan di kantor cabang? Lalu, kenapa dia bisa dibunuh di gudang yang terbengkalai? Semuanya terasa tidak masuk akal untukku.


Bapak pocong itu seakan mengerti dengan apa yang aku pikirkan, belum juga aku bertanya, tapi dia sudah berkata.


"Sesaat sebelum aku dibunuh, mereka sengaja menculikku dan membawaku ke gudang terbengkalai. Mereka ingin menjadikan aku sebagai kambing hitam,  sepertinya mereka sengaja memilihku karena aku hanya orang tidak punya. Tidak akan mungkin bukan, jika aku mempunyai kuasa untuk melawan?"


Terdengar lagi bisikan dari bapak pocong tersebut, aku langsung menghela napas berat karena merasa lelah dengan semua ini.


Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti, aku juga paham jika keadaannya hanya orang biasa.


Aku menjadi kasihan dengan keluarga yang ditinggalkan, apalagi anaknya Doni. Dia terlihat begitu sedih saat mengetahui ayahnya yang tidak juga kunjung pulang.


"Baiklah, aku akan menyampaikannya kepada anakmu," kataku.


"Terima kasih, terima kasih sekali lagi. Di gudang terbengkalai itu masih ada sisa tulang belulangku, di bawah tumpukan kayu yang tidak terbakar. Tolong makamkan aku dengan layak, walaupun hanya tersisa tulang belulang saja," kata pocong itu.


"Ya, pasti aku akan melakukannya," ucapku seraya tersenyum.


Tidak lama kemudian pocong itu nampak menghilang, aku menghela napas berat. Semua ini benar-benar terasa berat untukku, aku mulai berpikir jika sekarang lebih baik aku masuk ke dalam rumah dan berbicara kepada ayah tentang apa yang diminta oleh pocong tersebut.


Aku berusaha untuk bangun dan memutar tubuhku untuk melangkahkan kakiku agar segera masuk ke dalam rumah, tapi langkahku terhenti karena tiba-tiba saja ada yang memelukku dengan erat.


"Eh, eh? Lepasin gue ngga!" kataku seraya memukul pundak orang yang memelukku itu dengan sekuat tenaga.


"Sakit, Nes! Ini gue," kata pria itu yang ternyata adalah Alex.


"Elu ngagetin gue, dodol. Lepas!" kataku seraya menggoyangkan tubuhku.


"Iya, sorry," kata Alex seraya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Ck! Awas gue masuk," ucapku ketus karena kesal terhadap dirinya yang asal peluk aja.


"Tunggu bentar gue mau ngomong, besok siang gue bakal pergi. Gue pasti balik kalau gue udah layak buat elu," kata Alex.


Aku langsung mengernyitkan dahiku, karena jujur aku tidak paham dengan apa yang dia katakan saat ini.


"Maksudnya?" kataku seraya menatap. wajah Alex lekat.


"Elu ngga mau jadi cewek gue, kan? Gue tahu kalau gue belum layak kaya dia, dari pada gue sakit hati, mending gue pergi aja ikuy bokap. Kalau memang elu mau nunggu gue, gue bakal balik kalau gue udah layak buat elu," kata Alex.


Aku terdiam dengan apa ya g Akex katakan, jujur aku tidak paham. Sebenarnya apa sih maksudnya? Apa dia mau ninggalin gue, gitu?


"Elu mau ninggalin gue?" tanyaku.


"Ya, gue bakal pergi. Gue ngga sanggup kalau harus liat elu bareng cowok laen," jawab Alex.


Duh, aku jadi bingung harus jawab apa. Lidah ini rasanya begitu kelu untuk berkata-kata, Alex tersenyum getir. Kemudian dia menunduk dan tiba-tiba saja dia mengecup bibirku.


"Manis! Seengganya bibir elu udah gue perawanin," kata Alex seraya terkekeh tapi sudut matanya menetekan air mata.


Aku sangat bingung harus bicara apalagi, aku hanya bisa menatap netranya denagn dalam. Aku melihat rasa kecewa, sedih dan juga takut di matanya.


"Elu ngga cegah gue, berarti elu mau gue pergi. Jaga diri elu baik-baik, gue yakin kalau jodoh itu ngga akan ke mana. Jangan kangen sama gue, karena gue ngga bakal nelpon elu," kata Alex dengan air mata yang sudah berurai.


Sumpah demi apa pun hatiku terasa sangat sakit, ingin bicara tapi lidah terasa kelu. Ingin rasanya tangan ini mengusap air matanya, tapi tangan ini seakan terhimpit batu besar dan susah digerakkan.


Ingin rasanya bibir ini berucap, tapi serasa ada lem yang membuat bibir ini menutup dengan sempurna.


"Gue pergi dulu, maaf kalau gue udah egois. Gue, gue berabgkat siang." Alex tersenyum kecut.


Alex kembali menunduk dan mengecup bibirku, kali ini cukup lama dan dalam. Dia seolah mengungkapkan rasa cintanya lewat kecupan itu.


Aku hanya terdiam seraya memperhatikan wajah Alex yang sangat tampan dengan mata tertutup, bulu matanya terlihat panjang dan lentik. Aku baru sadar akan hal itu.


"Terima kasih karena udah ngizinin gue jadi yang pertama buat nyicipin bibir ini," kata Alex seraya mengelus lembut bibirku dengan ibu jarinya.


Setelah mengatakan hal itu Alex nampak pergi tanpa menolehkan wajahnya kembali ke arahku, ada rasa sakit yang teramat menusuk ke dalam hatiku.


Terasa ada batu besar yang menghimpit jantungku, rasanya untuk bernapas saja terasa sulit.


"Alex!" kataku lirih kala melihat tubuhnya yang menghilang di balik pintu.


**/

__ADS_1


Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. Jangan lupa like dan komentnya, sayang kalian semua.


__ADS_2