Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Ketakutan Aneska


__ADS_3

Aku merasakan tubuhku terasa sangat sakit, kepalaku juga terasa sangat pusing. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi kepadaku.


Aku langsung terlonjak kala aku mengingat ada seorang pria bertubuh besar dan juga  tegap memaksa aku untuk masuk ke dalam mobilnya.


Aku berusaha untuk mencoba membuka mata, aku merasa kaget karena kini aku berada di sebuah kamar yang terlihat begitu mewah.


Aku tertidur di sebuah ranjang yang begitu besar dan terasa sangat nyaman, tapi saat aku mencoba bergerak, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.


Karena ternyata tangan dan kakiku masih terikat, hanya saja sekarang mulutku tidak lagi di lakban. Aku mencoba berteriak dan meminta tolong, siapa tahu ada orang yang datang dan menolongku.


"Tolong! Tolong aku, tolong keluarkan aku dari sini, tolong buka ikatanku!"


Aku berteriak sekuat tenagaku, bahkan tenggorokanku sampai terasa sangat sakit. Namun, tidak ada orang yang datang satupun.


Aku benar-benar merasa bingung, sebenarnya aku ada di kamar siapa? Kenapa juga ada orang yang menculikku dan membawaku ke sebuah kamar seperti ini?


Aku berusaha menggerakkan tubuhku, agar ikatan di kaki dan tanganku bisa segera terlepas. Sayangnya, tidak.


Tubuhku mulai terasa sangat lemas, karena aku terus bergerak dan mencoba untuk melepaskan ikatan di tangan dan juga di kakiku.


Tidak lama kemudian, aku melihat pintu kamar yang aku tempati terbuka. Nampaklah seorang lelaki seusia ayah yang masuk ke dalam kamar yang aku tempati.


Orang tersebut tidak lain tidak bukan adalah tuan Edward, lelaki jahat yang sudah tega membayar orang untuk membunuh pak Sutomo.


Dia terlihat mendekatiku dan langsung duduk di tepian ranjang, dia menatapku dengan seringai di bibirnya.


Aku benar-benar merasa takut saat melihat wajahnya itu, sepertinya dia memiliki niat yang jahat kepadaku. Dalam hati aku berdo'a semoga Tuhan melindungiku.


"Hay, Cantik. Kamu tidurnya lama banget, Om harus menunggu lama. Tapi Om ngga nyesel nunggu gadia cantik kaya kamu," kata Tuan Edward.


Tanpa aku duga dia menyentuk wajahku, dia bahkan mengelus pipiku sampai ke rahangku. Aku terkesiap, dengan cepat aku menolehkan wajahku.


Melihat apa yang aku lakukan, Tuan Edward malah tertawa dengan sangat kencang. Dia seperti sedang menertawakan apa yang aku lakukan.


Dia merangkum pipiku, lalu menarik paksa wajahku agar bisa menatap wajahnya yang terlihat tampan tapi mengerikan.


"Kamu cantik banget, wajah kamu mirip sama Kiara." Tuan Edward langsung mendekatkan wajahnya, lalu mengendus rambutku.

__ADS_1


Sungguh aku sangat takut dengan apa yang dia lakukan saat ini, wajahnya terlihat begitu mengerikan. Aku benar-benar takut jika dia akan memperkosa aku.


Walaupun aku tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan pria mana pun, tapi aku tahu jika seorang lelaki yang sudah mendekati perempuan seperti itu, dia menginginkan wanita tersebut.


Apalagi kini aku melihat wajah Tuan Edward begitu bergairah saat menatapku, dia seperti singa lapar yang siap menerkam mangsanya.


'Oh Tuhan, lindungi aku. Kumohon kirimkanlah malaikat-malaikat penolong untukku,' do'aku dalam hati.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Justru aku akan memberikan kenikmatan untukmu," kata Tuan Edward.


Deg!


Jantungku benar-benar terasa berhenti kala dia mengatakan hal itu, aku tahu apa itu artinya.


"Tolong lepaskan saya, Tuan. Tolong lepaskan ikatan di kaki dan tangan saya, ini sangat sakit," ucapku.


Dia tertawa mendengar apa yang aku minta, dia kembali mengelus pipiku menyusuri rahangku dengan tangannya yang terasa begitu lembut walaupun dia seorang pria.


"Tentu saja aku tidak bisa melepaskanmu, karena masih ada yang harus di tuntaskan. Setidaknya aku tidak bisa mendapatkan ibumu, aku masih bisa mendapatkanmu," kata Tuan Edward.


Aku langsung ketakutan saat mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Edward, bahkan tubuhku langsung bergetar hebat.


"Jangan takut, sudah kubilang. Jika aku tidak akan menyakitimu, aku menyukai wajahmu yang begitu mirip dengan Kiara," ucapnya lagi.


Ya Tuhan, tuan Edward benar-benar terobsesi ingin memiliki bunda. Kumohon kirimkanlah malaikat penolong untukku, aku tidak mau berakhir di sini.


Aku merasa jika masa mudaku masih sangat panjang, aku tidak mau hal buruk terjadi kepadaku. Tolong aku Tuhan.


Aku berusaha memberontak untuk bisa melepaskan pelukan tuan Edward, sayangnya kaki dan tanganku yang diikat membuat aku begitu sulit untuk melepaskan diri.


Sialnya dia malah mengelus ketiaku sampai ke pinggang, hal itu membuat aku takut sekaligus geli.


Apalagi saat aku menatap matanya, sungguh tatapan mata dari tuan Edward begitu mengerikan.


Aku berusaha berteriak untuk meminta tolong dengan air mata yang terus berlinang, dia seolah tidak peduli. Bahkan dia malah tertawa mengejek.


"Ini sangat jauh dari perkotaan, Sayang. Ini adalah Villa pribadiku, tidak akan ada yang bisa menolongmu," kata Tuan Edward lagi.

__ADS_1


Sungguh kata-kata yang dilontarkan dari mulutnya itu sangat menakutiku, dia sudah seperti iblis yang menjelma seperti manusia.


"Tolong lepaskan saya, Tuan. Kumohon, saya mau pulang," ucapku seraya terisak. Bukannya merasa kasihan, dia malah tertawa lalu mulai menunduk dan mengecupi ceruk leherku.


Aku berusaha untuk memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri, agar dia tidak bisa menjamah tubuhku.


"Diamlah! Jangan terus bergerak, kalau tidak aku akan merobek baju kamu dan aku akan berbuat kasar terhadapmu," jawab Tuan Edward.


Ucapannya terdengar pelan, tatapannya juga terlihat lembut  Namun, kata-katanya terasa menghujam jantungku.


Bagaimana ini, aku benar-benar bingung harus apa. Setidaknya aku harus mempunyai alasan agar dia tidak bisa menyentuhku, aku tidak mau menjadi santapan lezat untuk tuan Edward.


"Aku mau pipis, Tuan. Tolong buka ikatan tanganku dan juga kakiku," pintaku memelas.


Dia langsung menatap lekat wajahku, seolah dia sedang berusaha mencari kebenaran dari apa yang aku ucapkan. Dia terlihat tidak percaya.


"Benarkah? Om pipisin aja, mau?" tanya Tuan Edward.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Tuan Edward, aku langsung mengernyitkan dahiku. Karena aku tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh tuan Edward.


Dia langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat reaksi dari wajahku, entah apa yang dia tertawakan aku tidak tahu.


"Ya sudah, Om buka ikatannya. Tapi, jangan coba-coba untuk kabur. Kalau kabur aku pastikan kamu akan berakhir di sini," ucapnya seraya mengelus perutku lalu turun ke area intiku.


Mataku langsung membulat dengan sempurna kala mendapatkan perlakuan seperti itu dari tuan Edward, perbuatannya benar-benar membuatku takut.


Aku segera mengganggukan kepalaku, yang penting ikatan di kaki dan tanganku bisa lepas dulu, pikirku.


Tuan Edward tersenyum lalu terlihat membuka ikatan tangan dan juga kakiku, dia. melemparkan talinya dengan sembarang.


Tanganku terasa kebas bahkan sulit untuk digerakkan, dia tersenyum lalu mengangkat tubuhku.


Aku langsung memundurkan wajahku, karena wajah tuan Edward begitu dekat denganku. Aku takut dia akan menciumku atau bahkan melakukan hal lebih.


"Aku hanya membantumu untuk ke kamar mandi, nanti kamu bisa keburu pipis di sini," kata Tuan Edward seraya menatap mataku dengan lekat.


Ya Tuhan, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku harus bagaimana ini? Bagaimana kalau dia menungguku di dalam kamar mandi?

__ADS_1


*****


Selamat siang Bestie, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, sayang kalian semua.


__ADS_2