Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Melihatnya Kembali


__ADS_3

Aneska dan ketiga sahabatnya bisa bernapas dengan lega, karena akhirnya Wira bisa dimakamkan dengan layak.


Setelah menghadiri acara pemakaman Wira, akhirnya ayah dan bunda Aneska memutuskan untuk mengajak mereka pulang ke ibu kota.


Sebenarnya masa liburan mereka masih ada beberapa hari lagi. Namun, polisi meminta untuk membantu dalam menangkap Jony, lelaki yang sudah membunuh Leni.


Karena setelah dilakukan pemeriksaan dan oleh TKP, semua bukti tertuju kepada Jony. Namun, polisi ingin menangkap Jony dengan mudah.


Maka dari itu mereka meminta bantuan kepada ayah Aneska, tentu saja ayah dari Aneska sangat tidak keberatan.


Selama itu untuk keadilan, apalagi ini menyangkut mang Asep. Lelaki paruh baya yang bekerja kepada dirinya.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang, berbeda dengan saat mereka berangkat. Suasana di dalam mobil nampak hening, hanya ada deru mobil yang terasa berisik di telinga.


"Nes, gue ngga nyangka banget ya, hidup kita bisa lebih berguna," kata Naura.


"Maksud elu?" tanya Aneska.


"Maksud gue, ternyata kita bisa bantu orang lain. Rasanya hidup gue jadi lebih berarti," kata Naura.


"Hem, elu bener. Cuma kadang gue takut kalau--"


Aneska tidak melanjutkan ucapannya, dia langsung memeluk Naura dengan erat. Bahkan dia menyembunyikan wajahnya di pundak sahabatnya tersebut.


Naura menjadi kebingungan dibuatnya, bahkan Alex dan juga Mario langsung saling pandang, lalu mereka berpikir jika pasti ini karena Aneska melihat makhluk astral lagi, pikir mereka.


Mario terlihat menepuk-nepuk pundak Aneska, kemudian dia bertanya kepada sahabatnya itu.


"Apa yang elu lihat, Nes?"


Aneska tidak segera menjawab, dia malah mengeratkan pelukannya kepada Naura. Sungguh dia merasa takut dengan apa yang sudah dia lihat di pinggir jalan barusan.


"Ngga usah takut, ada kita semua," kata Alex menenangkan.


Ayah dan Bunda Aneska yang ada di depan terlihat memantau Aneska dari kaca tengah, mereka juga paham jika saat ini Aneska pasti telah melihat hal yang tidak ingin dia lihat.


"Biarkan dia tenang dulu, nanti kita tanya setelah kita sampai saja," kata Bundanya Aneska.


"Iya, Tante," jawab Mario.


Suasana di dalam mobil menjadi hening, setelah kejadian itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka.

__ADS_1


Tentu saja itu terjadi karena mereka merasa enggan, apalagi kini mereka malah melihat Aneska yang tertidur di dalam pelukan Naura.


Mereka menjadi tak tega kepada sahabatnya tersebut, mereka berpikir jika beban yang ditanggung oleh Aneka sangatlah berat.


Karena melihat makhluk tak kasat mata itu tidak seindah yang mereka bayangkan, pasti hal itu menjadi sebuah beban yang begitu berat untuk Aneka.


Setelah melakukan dua jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di kediaman ayah Aneska.


Bunda aneska berkata jika mereka bertiga tidak usah pulang terlebih dahulu, mereka diminta untuk menemani Aneska agar tidak ketakutan lagi.


Mario, Naura dan juga Alex menurut. Karena mereka juga merasa kasihan kepada Aneska, mereka tidak ingin Aneska ketakutan sendiroan.


"Ya sudah, kalian ke kamar Anes aja dulu. Biar Tante buatkan minuman dan juga camilan untuk kalian," kata Bundanya Aneska.


"Iya, Tante," jawab ketoika sahabat Aneska bersamaan.


Aneska terlihat menghampiri bundanya, dia memeluk wanita yang sudah melahirkannya tersebut, lalu berkata.


"Anes pamit ya, Bun," kata Aneska.


"Iya, Sayang," jawab Bunda Aneska.


Setelah mengatakan hal itu, bundanya Aneska nampak masuk ke dalam dapur. Sedangkan ayahnya Aneska masuk ke dalam ruang kerjanya, karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.


Naura dan juga Aneka langsung merebahkan tubuh lelah mereka di atas tempat tidur, sedangkan Alex dan Mario terlihat merebahkan tubuh mereka di atas karpet tebal yang ada di samping kasur milik Aneska.


"Nes, sebenarnya elu lihat apaan sih pas tadi di jalan?" tanya Naura yang memang sangat penasaran.


Aneska terlihat bangun, lalu duduk tepat di samping Alex dan juga Mario. Naura akhirnya ikut bangun dan ikut duduk tepat di samping Aneska.


Mario dan juga Alex yang sedang merebahkan tubuhnya terlihat bangun, karena mereka merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Aneska.


"Jadi, tadi pas di jalan gue lihat ada cewek nggak pakai baju gitu. Kondisi tubuhnya mengenaskan, semuanya terlihat mengalami luka lebam gitu. Dia kayak yang habis disiksa," kata Aneska seraya membayangkan wanita yang dia lihat.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, Naura terlihat bergidig ngeri dibuatnya. Dia tidak menyangka jika Aneska bisa melihat sosok wanita yang teramat menyeramkan, baginya.


"Kok bisa seperti itu itu, ya? Tuh cewek diapain orang semasa hidupnya? Kok bisa matinya kaya gitu?" tanya Naura.


"Mungkin lagi hidupnya dia diperkosa dan dibuang di dekat jalan tol," ceplos Mario.


"Bisa jadi, pas mau dipake dia ngelawan. Terus digebukin sambil dipake, abis itu dibunuh terus tuh cewek dibuang," sambung Naura.

__ADS_1


"Sadis banget pemikiran elu," kata Alex seraya menggelengkan kepalanya.


"Praduga, coy. Hanya praduga," jawab Naura.


"Terserah elu aja," jawab Alex.


Aneska terdiam, mungkin tebakan kedua temannya itu benar. Namun, jika memang keadaannya seperti itu, kenapa ada orang yang begitu tega melakukan hal tersebut, pikirnya.


Hal Itulah yang menyebabkan Aneska sampai saat ini masih enggan untuk berpacaran, karena dia takut menemukan lelaki yang salah dan akan menyakiti dirinya.


"Nes, kok diem?" tanya Alex.


"Eh? Itu aku cuma mikirin rencana besok, gini aja kita pura-pura minta bantuan dia buat ngerjain tugas gitu. Bilang aja tugas sekolah, terus kita bawa ke ruangan yang sudah disipakan sama ayah," kata Aneska mengalihkan perhatian.


"Maksud elu si Jony?" tanya Mario.


"He'em, biar masalahnya cepat selesai. Gue kasihan sama Leni," kata Aneska.


"Elu bener, besok kita langsung eksekusi tuh si Jony. Kalau bisa besok kita kerjain dulu tuh burungnya, biar nyaho sakit itu kaya apa. Bukan tahu enaknya aja!" geram Mario.


"Ieeww! Elu jorok," keluh Naura.


"Sekarang elu boleh bilang jorok, entar kalau udah tahu enaknya kek apa elu bakal ngejerit minta lagi," kata Mario seraya terkekeh.


"Mario!" seru Naura seraya memukuli dada bidang sahabatnya itu.


"Aduh! Aduh! Ampun Ra, pan gue cuma bercanda," kata Mario.


"Makanya jangan suka ngomong jorok," keluh Naura.


"Iya, maaf. Sakit nih dada gue," kata Mario seraya menarik tangan Naura dan mengusapkannya ke dadanya.


"Iya, maaf," kata Naura seraya mengelus-elus dada Mario.


Aneska dan Alex saling pandang, kemudian mereka tersenyum. Mereka berdua sangat paham, jika Mario memang menyukai Naura.


Hanya saja, Naura tidak menyadari akan hal itu. Jujur saja baik Alex ataupun Aneska tidak masalah jika mereka berdua berpacaran.


Asalkan, tidak akan ada perselisihan dan dendam jika nanti kisah cinta mereka pupus di tengah jalan.


***

__ADS_1


Masih berlanjut, jangan lupa ramaikan kolom komentar.


__ADS_2