
Akhirnya aku dan ketiga temanku memutuskan untuk pergi ke kantor ayah, tiba di sana ayah terlihat sangat kaget melihat kedatanganku bersama dengan teman-temanku.
Karena memang aku tidak memberitahukannya terlebih dahulu kepada ayah jika aku akan datang, aku lupa akan hal itu.
"Hey! Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba datang ke kantor Ayah? Ngga bilang-bilang lagi!" celetuk Ayah.
Aku langsung nyengir kuda, kemudian aku langsung menghampiri ayah yang sedang duduk di kursi kebesarannya dan memeluknya dengan penuh kasih.
Lelaki yang selalu berusaha untuk membahagiakan aku dan juga bunda, ayah tersenyum hangat lalu membalas pelukanku.
"Ada apa, hem? Kenapa datang tanpa memberi kabar?" tanya Ayah lagi.
"Aku mau minta tolong sama Ayah? Apakah ayah ada waktu? Atau mungkin Ayah sedang sibuk?" tanyaku.
Mendengar pertanyaan dariku, ayah langsung tersenyum. Dia bahkan melerai pelukanku dan mengecup keningku dengan penuh kasih.
"Untuk putri Ayah yang tersayang, Ayah selalu ada waktu, Sayang. Pekerjaan bisa dikerjakan lain waktu," kata Ayah seraya mencubit gemas hidungku.
Aku selalu merasa senang jika ayah memperlakukan aku seperti itu, karena aku merasa menjadi anak yang tidak penuh kekurangan kasih sayang sama sekali.
Walaupun pada kenyataannya ayah dan juga bunda sering pergi meninggalkan aku di rumah hanya dengan bibi saja, atau ketiga temanku.
"Oh iya, Ayah. Bunda ke mana?" tanyaku.
Aku bertanya seperti itu tentu karena aku sudah mengedarkan pandangan, tapi ternyata aku tidak menemukan bunda di ruangan ayah.
"Bunda sedang keluar, bunda sedang bertemu dengan klien penting," kata Ayah. Aku langsung mengangguk-anggukkan kepalaku tanda mengerti.
"Ya sudah, kalau begitu aku minta waktu sebentar. Aku dan juga teman-temanku mau bicara dulu sebentar sama Ayah. Kita duduk di sofa dulu biar enak bicaranya," ucapku.
__ADS_1
Ayah tersenyum mendengar apa yang aku katakan, dia langsung bangun lalu menuntunku untuk duduk di atas sofa di mana di sana juga sudah ada ketiga temanku yang sudah duduk dengan terlihat begitu gelisah.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu gelisah?" tanya Ayah.
"Ehm, kami mau minta bantuan, Om," jawab Alex.
"Bantuan apa? Apa masalahnya sangat penting sehingga butuh bantuan dari Om?" tanya Ayah seraya menatap ketiga sahabatku secara bergantian.
"Ini sangat serius, urgent!" seru Mario bersemangat dengan menggerak-gerakkan tangannya.
Ingin sekali aku menertawakan tingkah Mario, tapi aku tahu jika kami sedang membahas masalah serius. Aku tidak boleh tertawa, hanya karena melihat tingkah dari Mario.
"Ya ampun kamu bersemangat sekali, coba ceritakan sama Om. Sebenarnya ada apa? Kalian mau minta bantuan apa?" tanya Ayah.
Alex terlihat tersenyum hangat ke arah ayah, kemudian dia mengambil ponsel yang berada di saku celananya dan memberikannya kepada ayah.
"Apa ini? Kenapa kamu malah memberikan ponsel kamu ke pada Om?" tanya Ayah seraya mengambil pinsel dari tangan Alex.
Ayah terlihat mengernyit bingung mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, sepertinya Alex harus memperjelas lagi apa yang sudah dia katakan, agar ayah bisa lebih paham.
"Rekaman percakapan? Maksudnya bagaimana?" tanya Ayah lagi.
Alex tersenyum, kemudian dia kembali mengambil ponsel miliknya dari tangan ayah dan memutarakan video percakapan antara pak sanjaya dengan pria jahat itu.
Ayah terdiam mendengarkan dan memperhatikan video percakapan tersebut, tidak lama kemudian ayah terlihat mengernyitkan dahinya. Lalu, dia berkata.
"Ya Tuhan, sepertinya mereka sudah melakukan kejahatan yang sangat besar. Mana bunda sekarang sedang bertemu lagi dengan dia," kata Ayah.
"Maksud Ayah bagaimana?" tanya aku tidak paham.
__ADS_1
"Klien penting yang Ayah sebutkan tadi adalah dia, lelaki ini adalah pemilik perusahaan asing. Namanya tuan Andrew," kata Ayah.
"Oh ya ampun, bagaimana dengan bunda, Ayah? Apakah bunda tidak akan dalam masalah?" tanya aku.
"Tidak, sepertinya bunda tidak akan dalam masalah untuk saat ini. Namun, jika bunda menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan milik tuan Andrew, pasti ke depannya akan sangat rumit. Sebentar-sebentar, biar Ayah telepon bunda dulu," kata Ayah.
Ya Tuhan, aku benar-benar kaget mendengar akan hal itu. Semoga saja bunda belum menandatangani kontrak kerjasama dengan pria jahat itu, aku sungguh takut nanti bunda akan kenapa-kenapa.
Aku melihat ayah terlihat sedang menghubungi bunda, sedangkan Naura langsung menghampiriku dan memelukku. Dia seolah tahu kegelisahanku dan berusaha untuk menenangkanku.
"Elu tenang dulu, Nes. Gue yakin bunda elu baik-baik saja. Dia wanita yang smart, ngga mungkin dia tanda tangan gitu aja," kata Alex berusaha untuk menenangkan.
Mendengar ucapan dari Alex, aku hanya berusaha untuk tersenyum. Walaupun hatiku benar-benar merasa gelisah, aku berusaha untuk tetap tenang.
Tidak lama kemudian, aku melihat ayah terlihat sedang berbicara dengan bunda. Di saat seperti ini, pasti sangatlah sulit untuk mengambil keputusan.
Karena tidak mungkin bunda langsung membatalkan proyek kerjasamanya dengan tuan Edward secara sepihak, walaupun bunda memang belum menandatangani berkas tersebut.
Hanya saja, pasti mereka sebelumnya pernah bertemu dan pernah membicarakan proyek yang akan mereka garap secara bersama. Pasti pihak dari tuan Edward tidak akan langsung setuju.
"Bagaimana?" tanyaku kepada Ayah.
"Tuan Edward tidak senang hati jika bunda memutuskan untuk tidak melakukan kerja sama dengan tuan Edward," kata Ayah.
"Memangnya kenapa? Bukankah belum tanda tangan kontrak juga?" tanyaku.
"Kami pernah bertemu, kami juga pernah berbicara dan sepakat untuk kerja sama," kata Ayah.
***
__ADS_1
Selamat sore, di saat lelah setelah lomba balap karung. Yuk rebahan sambil baca karya receh Emak, sayang kalen semua.