Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Dia Memang Pandai


__ADS_3

Aku dan ketiga temanku masuk kedalam Cafe dengan tergesa-gesa, tentu saja hal itu kami lakukan agar tidak kehilangan jejak lelaki jahat yang berada di dalam mimpiku itu.


Tiba di dalam Cafe aku langsung menghentikan langkahku, karena aku melihat pria jahat itu duduk tidak jauh dari tempat aku berdiri.


Aku begitu kaget saat melihat lelaki itu duduk saling berhadapan dengan pak Sanjaya, ya... lelaki yang diikuti oleh pocong yang meminta tolong kepada aku.


Naura yang menabrakku karena aku yang berhenti secara mendadak, langsung melayangkan protesnya.


"Nes! Hidung gue sakit kena kepala elu, kalau hi--"


"Sssst! Jangan berisik, kita duduk di sana. Diem-diem dan jangan banyak omong, bersikaplah yang wajar," kataku.


Setelah mengatakan hal itu, aku menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Sungguh aku benar-benar merasa gugup dan juga takut saat akan duduk tepat di dekat pria jahat yang kini sedang duduk bersama dengan pak Sanjaya itu.


Padahal dia tidak mengenalku, tidak mungkin bukan jika dia akan langsung curiga kepadaku? Namun, tetap saja hatiku terasa deg-degan.


Aku benar-benar takut berhadapan dengan orang besar seperti lelaki jahat itu, dari penampilannya saja bisa disimpulkan jika dia adalah orang yang mempunyai pengaruh besar di kota ini.


"Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan yang tiba-tiba saja menghampiri kami ketika kami duduk bersama.


Kami tersenyum ramah lalu menyebutkan apa yang kami pesan, setelah mencatat semua pesanan kami pelayan tersebut nampak pergi.


Di antara kami tidak ada yang berbicara sama sekali, kami benar-benar fokus untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pria jahat itu bersama dengan pak sanjaya.


"Bagaimana dengan misi kita, aman?"

__ADS_1


Setelah lama kami terdiam, terdengar pertanyaan dari pria jahat itu yang ditujukan untuk pak sanjaya. Rasanya dadaku begitu sesak, aku ingin berhenti bernapas karena begitu tegang.


Padahal, mereka baru saja memulai obrolan. Namun, entah kenapa aku sudah merasa takut duluan.


"Sudah beres, tidak ada yang curiga tentang masalah itu," jawab Pak Sanjaya.


"Bagus! Kamu akan mendapatkan bagian kamu, besok malam saya ada misi buat kamu. Barang x akan dikirim ke negara S lewat jalur. laut, kapal akan disediakan pukul dua dini hari. Jangan sampai bocor keluar!" kata pria jahat itu.


"Maksudnya?" Saya yang harus mengawal di sana?" tanya Pak Sanjaya.


"Ya, upah untuk kamu akan lebih besar. Saya tunggu kabar baiknya, ini dpnya." Pria jahat itu nampak memberikan cek kepada pak Sanjaya entah berapa jumlahnya


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih," kata Pak Sanjaya kegirangan.


Pria jahat itu hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis, kemudian dia pergi dari sana dengan langkah tergesa. Aku bersama ketiga temanku saling pandang, lalu kami menghela napas berat.


Setelah puas tertawa, pak Sanjaya terlihat melangkahkan kakinya menuju kasir. Dia terlihat membayar pesanannya, setelah itu dia nampak pergi meninggalkan Cafe.


Aku dan ketiga sahabatku bisa bernapas dengan lega, aku juga bisa mulai membahas rencana apa yang akan kita lakukan.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyaku.


"Lapor polisi?" jawab Alex cepat.


"Hey! Lapor polisi itu harus ada bukti, bagaimana bisa kita melaporkan kejadian ini tanpa ada bukti?" tanyaku.

__ADS_1


"Gue ini selain tampan pinter juga," kata Alex seraya memberikan ponsel miliknya kepadaku.


"Maksudnya apa sih?" tanyaku tidak paham.


"Di dalam ponsel gue ada rekaman percakapan antara kedua pria tadi, adi itu bisa dijadikan sebagai bukti tentang kejahatan yang akan mereka lakukan nanti malam," jawab Alex.


Oh ya Tuhan, ternyata dia sangat pintar sekali. Sesuai dengan apa yang dia katakan, dia sangat tampan dan juga smart. Sayangnya, aku tidak mau memujinya. Takutnya nanti dia malah akan besar kepala.


"Iya, yang elu omongin itu bener banget. Jika seperti itu kita bisa lapor ke polisi. Tapi... bagaimana dengan urusan pocong itu?" tanya Mario.


"Yang penting kita laporkan dulu kejadian hari ini, jangan sampai orang orang itu berhasil melakukan hal yang tidak benar. Karena sepertinya feeling gue mengatakan kalau mereka akan melakukan penyelundupan barang haram," celetuk Alex.


Aku langsung menganggukan kepala, aku merasa setuju dengan apa yang Alex katakan.


"Sepertinya orang yang tadi gue lihat adalah seorang mafia, siapa tahu kita bisa menemukan titik terang setelah hal ini," kata Alex lagi.


"Kalau begitu, kita ke kantor polisi sekarang," usulku.


"Ya, elu bener," jawab Naura.


"Tunggu dulu, gue butuh bantuan bokap elu Nes! Kalau kita yang jalan sendir, takutnya polisi tidak menganggap laporan kita," kata Alex.


Aku dan Mario juga Naura terdiam, lalu tidak lama kemudian kami kompak mengangguk-anggukan kepala tanda setuju dengan apa yang Alex usulkan.


****

__ADS_1


Selamat pagi menjelang siang, jangan lupa tinggalkan komentarnya sebelum baca bab selanjutnya. Sayang kalian semua.


__ADS_2