
Sebenarnya aku benar-benar tidak paham kenapa ayah mau mengundang Jonathan bersama dengan ayahnya, belum lagi ayah berkata akan meminta bantuan terhadap ayahnya tersebut.
Sebenarnya ada apa? Apakah ayah dari Jonathan itu sangat berkuasa? Atau mungkin ayahnya itu mempunyai pengaruh yang besar?
Ah, aku tidak paham. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja, aku benar-benar tidak mengerti. Biarlah itu menjadi urusan orang tuaku dengan ayahnya Jonathan.
Satu hal yang sangat tidak aku harapkan, semoga saja ayah tidak menjodohkan aku dengan Jonathan. Ini jaman modern, jangan sampai ada kata yang selalu terungkap di jaman Siti Nurbaya itu.
Walaupun aku merasa tidak suka dengan Jonathan, tapi aku berusaha untuk duduk santai sambil menonton serial drama tv yang dirasa sangat membosankan.
Bunda terlihat melangkahkan kakinya menuju ruang makan, mungkin dia ingin membantu bibi menata makanan yang sudah siap untuk disajikan.
"Repot amat, kaya ayah Jo itu penting aja," gerutuku.
Tidak lama kemudian, terdengar bel pintu berbunyi. Aku hendak bangun untuk membuka pintu, tapi ternyata bunda dengan cepat keluar dari ruang makan dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Padahal aku pun bisa membukakan pintu, tapi bunda sepertinya ingin menyambut sendiri tamu yang datang kali ini.
Aku berusaha acuh, walaupun aku tahu itu pasti Jonathan yang datang bersama dengan ayahnya. Aku kembali menonton tv, walaupun acaranya terasa membosankan.
Tidak lama kemudian, bunda datang dengan Jonathan dan juga pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Sepertinya usianya lebih tua dari ayah, wajahnya juga terlihat ada turunan luar negerinya gitu. Mungkin saja ayahnya Jonathan keturunan bule, pantas saja wajah Jonathan juga terlihat tampan.
Blasteran gitu, kaya campuran Indo-amrik. Sayangnya aku tidak tertarik, walaupun wajahnya terlihat menggelitik. Namun, tetap saja aku tidak begitu suka.
"Wahh, selamat malam Aneska. Senang sekali Om, bisa berkenalan dengan seorang wanita yang sudah membuat putra saya jatuh hati sejak lama," kata pria paruh baya tersebut seraya menghampiriku.
Aku langsung bangun, aku berusaha untuk tersenyum dengan hangat. Lalu, aku mengulurkan tanganku. Aku raih tangannya dan kemudian kukecup punggung tangannya.
"Malam juga, Om. Senang bisa bertemu dengan Om," kataku.
Pria paruh baya itu terlihat tersenyum hangat ke arahku, dia bahkan sampai menepuk-nepuk pundak Jonathan dengan penuh kasih.
"Wahh, tidak salah kamu menyukainya. Ternyata dia anak yang baik dan juga sopan," puji pria paruh baya tersebut.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya, mau apalagi coba. Takutnya kalau aku menimpali disangka sombong akunya, hehehe.
"Tentu dong, Yah. Kan, sudah aku bilang Anes itu selain cantik dia juga baik, ramah lagi," kata Jonathan.
Jonathan terlihat tersenyum manis, lalu dia menolehkan wajahnya ke arahku. Aku hanya terdiam seraya memperhatikan apa yang akan dia lakukan.
"Oh iya, Nes. Tadi bokap gue lo cium tangannya, gue ngga?" tanya Jonathan seraya mengulurkan tangannya.
Dih! Sumpah demi apa pun aku benci banget denger dia ngomong kaya gitu, apalagi pas lihat senyumnya yang manis itu.
__ADS_1
Rasanya pengen aku remet aja tuh mulutnya, nyebelin. Melihat aku yang hanya diam saja, Jonathan terlihat mengerutkan bibirnya.
Aku semakin kesal melihat wajahnya yang dibuat merajuk, berbeda dengan bunda dan juga ayahnya Jonathan, mereka malah menertawakan tingkah dari Jonathan.
Tidak lama kemudian, ayah nampak datang dan langsung bersalaman dengan ayahnya dari Jonathan. Sepertinya mereka saling mengenal, karena ayah terlihat sangat mengenalnya.
"Wahh, ternyata Tuan Louis sudah datang. Selamat datang di rumah sederhana saya," sapa Ayah.
"Terima kasih atas undangannya, Tuan Diandra. Saya sangat senang mendapatkan undangan dari anda," ucap Tuan Louis.
"Sama-sama, sepertinya makan malam terlebih dahulu akan lebih baik. Setelah itu kita bisa mengobrol dengan santai," ajak Ayah.
"Ya, ya. Itu lebih baik," jawab Tuan Louis.
Pada akhirnya kami berjalan menuju ruang makan secara bersamaan, aku duduk tepat di samping bunda. Sedangkan Jonathan terlihat duduk di samping ayahnya, tepat berseberangan denganku.
Dia terus saja terlihat menatapku dengan tatapan memuja, aku sungguh tidak suka. Makan malam kali ini terasa begitu ramai, karena ayah dan juga tuan Louis terlihat makan sambil mengobrol.
Terkadang Jonathan juga akan menimpali obrolan mereka, aku hanya menjadi pendengar setia. Sedangkan bunda sesekali ikut menimpa apa yang diucapkan ayah, karena memang bunda mengerti bisnis yang sedang mereka jalankan.
Sungguh aku merasa bosan berada dalam situasi yang tidak nyaman ini, tapi... satu hal yang membuat aku lebih kesal.
Terkadang Jonathan mengajakku untuk bicara dan terkadang Jonathan merayuku dengan kata-kata manisnya, itu terdengar garing di kupingku.
Entah kenapa, aku lebih menyukai pria yang diam tapi terkesan lebih banyak bertindak dari pada pria yang cerewet dan kerjanya hanya merayu saja.
Sontak aku langsung membulatkan mataku dengan sempurna, berani sekali dia menggodaku seperti itu di depan kedua orang tuaku.
Herannya, kedua orang tuaku dan ayah Jonathan tidak marah. Mereka malah menertawakanku, duh... sebel banget jadinya
Setelah selesai makan malam, kami pun bersantai di ruang keluarga. Aku duduk bersama dengan bunda, ayah duduk satu sofa dengan tuan Louis dan juga Jonathan, karena mereka memang sengaja memilih sofa yang panjang.
"Oh ya, Tuan Diandra. Kata Jonathan anda mau meminta bantuan saya, memangnya apa yang perlu saya bantu?" tanya Tuan Louis.
Ayah terlihat menepuk-nepuk lengan Tuan Louis, kemudian dia tersenyum dan mulai berkata dengan wajah yang serius.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena sudah mau datang, tapi ini urgent. Saya benar-benar membutuhkan bantuan anda," kata Ayah.
Tuan Louis terlihat menatap ayah dengan raut wajah bingung, dia seolah mempertanyakan apa yang sebenarnya ayah inginkan.
"Bantuan apa? Kenapa anda terlihat sangat serius sekali?" tanya Tuan Louis.
"Jadi begini, perusahaan saya sedang mengalami kerugian besar. Ada penggelapan dana yang dilakukan secara besar-besaran, semua bukti tertuju pada pak Sutomo. Orang kepercayaan saya yang ada di kantor cabang," jelas Ayah.
"Lalu?" tanya Tuan Louis.
__ADS_1
"Akan tetapi setelah Aneska menceritakan apa yang dia dan teman-temannya lihat, tentunya ada orang lain yang turut andil dalam hal ini," kata Ayah lagi.
"Maksudnya seperti apa? Saya tidak paham," kata Tuan Louis.
"Jadi begini, Aneska dan teman-temannya memergoki tuan Edward sedang berbicara dengan tuan Sanjaya," kata Ayah.
"Lalu, apa hubungannya Edward dengan tuan Sanjaya?" tanya Tuan Louis bingung.
Tanpa banyak bicara ayah terlihat mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman cctv yang Alex ambil kepada tuan Louis.
Untuk sesaat dia terdiam seraya memperhatikan apa yang dibicarakan oleh tuan Edward bersama dengan tuan Sanjaya, tidak lama kemudian dia terlihat menghela napas berat lalu dia berkata.
"Sepertinya dia membuat masalah lagi," kata Tuan Louis. Ayah terlihat kaget dengan apa yang dikatakan oleh tuan Louis.
"Jadi anda tahu?" tanya Ayah.
Aku benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya dibicarakan oleh ayah dan juga tuan Louis, begitupun dengan Jonathan. Dia terlihat kebingungan, berbeda dengan bunda, ayah dan juga tuan Louis.
Mereka sepertinya sudah tahu akar masalahnya di mana, hanya saja aku benar-benar belum paham karena ayah belum mengungkapkannya seperti apa kebenarannya.
"Ada apa sih, Yah? Tolong katakan sama Jo, Jo ngga paham," pinta Jonathan.
"Maaf jika selama ini Ayah tidak pernah bercerita, Jo. Jadi, Edward adalah anak dari selingkuhan grandpa. Sayangnya mereka tidak menikah, maka dari itu Edward tidak mendapatkan hak waris dari grandpa. Ibu dari Edward begitu marah dan berjanji akan menghancurkan keluarga kita," jelas Tuan Louis.
"Lalu?" tanya Jonathan.
"Wanita itu juga berjanji akan menghancurkan semua orang yang sudah menyakitinya, kamu tahu kan, kenapa kamu Ayah minta datang?" tanya Tuan Louis.
"Apa tujuan Ayah yang sebenarnya?" tanya Jonathan.
"Tentu saja untuk meminta mengurus perusahaan, karena perusahaan kini sedang dalam keterpurukan karena ulahnya Edward," jawab Tuan Louis.
"Maksud Ayah? Ayah mempunyai saudara tiri?" tanya Jonathan.
"Ya, Edward adalah saudara tiri Ayah. Anak dari grandpa yang terlahir tanpa status," jelas Tuan Louis.
"Oh ya Tuhan, lalu apa hubungannya dengan perusahaan ayah Aneska? Kenapa perusahaan Om Diandra ikut dirugikan?" tanya Jonathan.
"Sepertinya ada dua hal yang membuat dia ingin menghancurkan perusahaanku," celetuk Ayah.
"Apa?" tanya Jonathan dan juga Tuan Louis bersamaan.
Ayah terlihat menghela napas panjang, dia terlihat begitu enggan untuk menceritakannya kepada kami.
"Sepertinya--"
__ADS_1
***
Selamat sore Bestie, selamat beraktivitas. Salam sayang selalu dari Othor receh seperti saya, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky.