Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Kepikiran


__ADS_3

Aneska benar-benar merasa senang karena pada akhirnya dia bisa kembali menyelesaikan misinya, setelah Ibu Riyani menelpon polisi dan mengumpulkan semua barang bukti, akhirnya tuan Anggara dipenjarakan.


Walaupun dia sempat melakukan perlawanan dan berusaha untuk kabur, tapi dengan gerak cepat para polisi bisa melumpuhkan tuan Anggara.


Ibu Riyani juga meminta alamat jelas di mana tuan Anggara membuang mayat dari Rayena, putrinya kepada Aneska.


Karena sekeras apa pun Ibu Riyani berusaha untuk bertanya kepada tuan Anggara, lelaki paruh baya itu nampak terdiam.


Bibirnya seolah terkunci dengan rapat, dia seolah tidak mau mengingat-ingat kejadian yang sudah dia lakukan.


Entah merasa bersalah, merasa sedih, merasa kecewa atau merasa marah karena dia bisa dengan cepat ditangkap dan semua bukti kejahatannya bisa dengan cepat diungkap.


Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran lelaki paruh baya tersebut, karena kini wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Dia hanya diam dengan tatapan matanya yang terlihat kosong.


Beruntung Aneska masih mengingat di mana pertama kalinya dia bertemu dengan Rayena, walaupun tidak ingat di mana letak pastinya.


Security yang bertugas untuk menjaga rumah tersebut pun ikut dibekuk oleh polisi, karena dia terbukti bersalah sudah membantu tuan Anggara dalam melakukan kejahatannya.


Kini Aneska, Mario, Naura dan juga Alex sudah bersiap untuk pulang. Jika saat berangkat Aneska duduk tepat di samping Alex yang mengemudi, kini Aneska memilih duduk di belakang bersama dengan Naura.


Dia meminta Mario untuk duduk tepat di samping Alex, rasa canggung masih menguasai dirinya setelah Alex mengatakan hal yang tidak dia duga-duga.


Selama perjalanan pulang, Aneska hanya terdiam. Dia duduk seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Begitupun dengan Alex, dia nampak terdiam. Dia fokus dalam menyetir. Pandangannya lurus ke depan, entah apa yang mereka pikirkan. Tidak ada yang bisa menebaknya.


Namun, Mario dan juga Naura merasa jika suasana di dalam mobil tersebut terasa berbeda. Naura terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aneska, lalu dia menepuk pundak dari sahabatnya tersebut.


"Elu sebenarnya kenapa, sih? Kenapa Elu diam saja dari tadi? Gue kan, jadi bingung. Biasanya elu suka ngajakin gue ngomong, kalau ngga elu suka ngeledekin gue," kata Naura.


Naura melayangkan protesnya, dia merasa tidak suka karena dia merasa terabaikan. Dia juga merasa tidak nyaman dengan diamnya Aneska.


Aneska yang merasa tidak enak hati langsung menolehkan wajahnya ke arah Naura, dia takut jika Naura akan curiga terhadap dirinya.

__ADS_1


"Eh? Ngga apa-apa, gue cuman lelah. Gue cape, setiap kali ngelihat makhluk kayak gitu tubuh gue suka lemes," kata Aneska beralasan.


Dia sengaja mengusap-usap kedua lengannya, dia juga sengaja memijat-mijat tangguk lehernya seolah-olah dia benar-benar sangat lelah.


Akting Aneska ternyata sangatlah bagus, Naura jadi menyangka jika Aneska benar-benar merasa lelah karena memang beberapa hari ini mereka mengerjakan misi yang begitu penting.


Misi yang menurut mereka sangat mulia, karena mereka bisa membantu arwah-arwah yang belum sampai ke Rahmatullah, sehingga mereka bisa dikuburkan dengan layak.


"Ya, gue paham," jawab Naura walaupun tidak yakin.


Aneska terlihat kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, sedangkan Naura terlihat menghela napas berat.


Kemudian dia menyadarkan tubuhnya yang terasa lelah, tidak lama kemudian Aneska terlihat terlonjak kaget.


Dia bahkan langsung memeluk Naura dengan sangat erat, Aneska terlihat begitu ketakutan. Sepertinya ada sesuatu yang dia lihat kembali.


"Ada apa? Apa ada yang elu lihat lagi?" tanya Naura seraya menepuk-nepuk dengan lembut punggung dari sahabatnya tersebut.


Aneska tidak menjawab, bibirnya seolah kelu. Bahkan tubuhnya terlihat gemetaran, dia hanya mampu menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Naura.


Alex sempat memperhatikan tingkah Aneska dari kaca tengah, dia merasa iba karena Alex bisa menebak jika Aneska pasti melihat sesuatu hal yang ghaib lagi, pikirnya.


Mario pun tak kalah kaget, dia langsung menolehkan wajahnya ke arah belakang. Dia takut Aneaka kenapa-kenapa.


"Elu kenapa, Nes? Elu baik-baik aja kan? Kenapa tubuh elu bergetar kayak gitu?" tanya Mario


Aneska masih belum bisa menjawab, dia malah mengeratkan pelukannya kepada Naura, karena dia benar-benar merasa sangat takut


Naura terlihat melototkan matanya kepada Mario, bibirnya terlihat komat kamit seolah berkata jika Mario tidak usah bertanya apa pun terlebih dahulu, karena Aneska perlu ketenangan.


Mario paham dia pun diam, tapi sesekali matanya menoleh ke belakang. Dia ingin sekali meminta Alex untuk menepikan mobilnya, lau dia berusaha untuk menenangkan hati dari sahabatnya itu.


"Ya, kalau memang elu belum mau cerita ya, ngga apa-apa," kata Naura.

__ADS_1


"Nanti saja," jawab Aneska dengan suara lemahnya.


Setelah mengatakan hal itu Aneska nampak melerai pelukannya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah jendela, sedangkan Alex kembali anteng mengemudi.


Tidak lama kemudian, mobil yang Alex kendarai kini sudah berhenti tepat di depan rumah milik Aneska.


"Sudah sampai, ayo turun," kata Alex.


Aneska seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, dia masih diam dengan wajahnya yang dia tolehkan ke arah jendela.


Namun, tatapan matanya terlihat kosong. Alex, Naura dan juga Mario terlihat saling pandang. Kemudian, pandangan mereka tertuju pada Aneska.


Mario dan Naura yang tidak paham dengan apa yang terjadi, terlihat menggedikan kedua bahunya.


Berbeda dengan Alex yang memang sangat paham kenapa Aneska bisa bersikap seperti itu, sudah barang tentu Aneska memikirkan apa yang telah dia ucapkan.


Alex terlihat meghela napas berat kemudian dia menatap wajah Naura seolah meminta Naura untuk menegur Aneska.


"Nes!" Naura terlihat menepuk lembut punggung sahabatnya itu.


"Eh? Iya, Ra. Ada apa?" tanya Aneska gelagapan.


"Sudah sampai, kita mau sampe kapan diem di dalem mobil terus?" tanya Naura dengan bibir mengkrucut.


"Kalau sudah sampai ya kita turun, kenapa harus diem aja di dalem mobil?" tanya Aneska bingung.


Naura terlihat menghela napas berat dengan apa yang dikatakan oleh Aneska, dia tidak habis pikir kenapa sahabatnya itu bisa berkata seperti itu. Apakah mungkin karena Aneska terlalu asyik dengan lamunannya?


Berbeda dengan Mario, dia malah menertawakan sikap dan juga pertanyaan dari Aneska. Kemudian, Mario mulai berkata.


"Elu itu dari tadi ngelamun mulu, gimana kita mau turun dari mobil kalau yang punya rumahnya aja malah ngelamun terus," kata Mario.


Aneska terlihat sangat kaget kala Mario mengatakan hal tersebut, dia memang terlalu asyik memikirkan apa yang ditanyakan oleh Alex saat di rumah ibu Riyani.

__ADS_1


***


Selamat pagi Bestie, maaf kemarin ngga up. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky.


__ADS_2