
Tiba di kampus, kami langsung berjalan menuju lapangan yang ada di kampus karena akan ada perkenalan. Entah perkenalan apalah aku tidak terlalu paham, hehee aku tidak terlalu fokus akhir-akhir ini, soalnya.
Akan tetapi, sekilas aku mendengar jika hari ini akan ada perkenalan universitas, perkenalah akademik, perkenalan ekskul dan banyak lagi lainnya.
Aku berjalan beriringan dengan Naura, sedangkan Alex dan Mario berjalan di belakangku. Aku sengaja jaga jarak dengan Alex, karena kejadian tadi pagi masih membekas di dalam ingatanku.
Sebenarnya aku ingin sekali berbicara empat mata dengan Alex dan mempertanyakan hal itu, tapi rasanya sekarang ini bukan waktu yang tepat.
Tiba di lapangan ternyata sudah banyak calon mahasiswa dan mahasiswi lainnya juga di sana, ada beberapa orang-orang penting yang sepertinya berpengaruh di sana.
Aku juga melihat Ibu Riyani di sana, mungkin dia sedang ada urusan atau apa aku kurang paham juga. Lagi pula dia itu donatur terbesar di kampusku, mungkin saja dia sedang ada hal yang harus diurus.
Pandangan mata kami bahkan sempat bersibobrok, Ibu Riyani nampak tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. Aku pun membalas lambaian tangan Ibu Riyani seraya membalas senyumannya.
"Nes! Gue haus, lupa ngga bekel air minum. Mana kita ngumpulnya di lapangan lagi, gue beli air dulu," kata Naura.
Naura terlihat mengelus lehernya dengan sangat lebay, padahal kami baru saja sampai. Namun, dia selalu saja melebih-lebihkan.
"Gue anter, sekalian jagain elu dari para mata lucnut yang selalu saja jelalatan kalau liat kecantikan elu," kata Mario.
"Modus!" seruku.
Mario langsung terkekeh saat aku mengatakan hal itu, dia bahkan terlihat salah tingkah dan mengelus tengkuk lehernya dengan gugup.
"Ngiri aja sih," jawab Mario.
"Gue kagak ngiri!" jawabku ketus.
__ADS_1
"Ya ampun," kata Mario seraya terkekeh.
Tanpa ragu Mario langsung merangkul kedua pundak Naura dan mengajaknya pergi menuju kantin, walaupun terlihat risih tapi Naura mengikuti langkah Mario.
"Kita gabung duluan sama calon mahasiswa dan mahasiswi lainnya yuk," ajak Alex seraya merangkul pundakku.
Rasa canggung seketika menghapiriku kala Alex kini marangkulku dan mengajakku untuk duduk bersama dengan calon mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
"Ngga usah rangkul-rangkul juga," kataku sewot seraya menepis tangan Alex dari pundakku.
Mendengar kalimat protes dariku, Alex langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Aku menjadi kesal dibuatnya, padahal sedari dulu juga kami memang sering saling memeluk dan merangkul.
Akan tetapi, untuk saat ini rasanya sangat canggung dan tidak enak hati. Rasanya saat Alex melihat wajahnya, terasa... ah sudahlah.
"Jangan marah, Cantik. Nanti cantiknya ilang," kata Alex seraya mendorong punggungku dengan pelan.
"Ngga usah dorong-dorong, gue bisa jalan sendiri," ucapku seraya menggedikkan kedua bahuku.
Aku langsung mandelika kesal kala Alex memanggilku dengan sebutan sayang, bagaimana kalau ada orang lain yang mendengar? Ah, rasanya itu sangat tidak pantas.
Geram rasanya, sepertinya aku harus berbicara kepada Alex. Aku langsung mendongakkan kepalaku, lalu aku berbisik tepat di telinga Alex.
"Jangan macem-macem deh, entar yang lain denger jadi salah paham," kataku.
"Ish! Ngga ada yang salah sama perasaan gue, Nes. Gue ngga peduli dengan prasangka orang, yang pasti gue--"
"Hey! Elu berdua ngapain, kenapa berdirinya mepet banget kek gitu?" tanya Mario.
__ADS_1
Mendengar apa yang Mario katakan, sontak aku langsung memundurkan tubuhku. Aku takut Mario dan juga Naura salah paham.
"Ehm, roman-romannya gue rasa ada cinta yang terselip di antara kata persahabatan kita," kata Naura seraya terkekeh.
Saat aku mendengar apa yang Naura katakan, aku langsung menyenggol perutnya. Enak sekali dia berkata seperti itu, walaupun pada kenyataannya memang seperti itu.
Ada rasa cinta yang tumbuh dan begitu sulit untuk ditampik oleh Alex kepadaku, Naura terlihat mengaduh kesakitan.
"Sakit, Dodol!" keluh Naura seraya mendorong bahuku lumayan kencang, sepertinya dia sangat kesal.
Mendapatkan dorongan seperti itu dari Naura, sontak saja tubuhku langsung terhuyung ke depan. Aku hampir saja jatuh tersungkur, beruntung ada Alex yang langsung menangkap tubuhku.
"Ciee, roman-romannya el--"
Mario langsung terdiam kala Alex menepuk pundaknya, dia seolah paham dengan apa yang Alex kodekan.
"Iye, gue paham. Ayo ikut ngumpul, noh udah ada yang koar-koar pake toa," kata Mario.
Setelah mengatakan hal itu, Mario langsung merangkul kedua pundak Naura. Kemudian dia berkata dengan lembut, dia seolah sedang memenangkan hati Naura.
"Elu juga ngga usah sensi banget, biasa aja. Kita semua bersahabat sejak kecil, harus saling me-ma-ha-mi!" jelas Mario.
"Udah ayo jalan, nanti diomelin kakak kelas loh. Gue minta maaf," kata Naura. Aku langsung menghampiri Naura dan memeluknya dengan erat.
"Gue juga minta maaf," kataku penuh sesal.
"Iyes, udin jangan lebay!" celetuk Naura.
__ADS_1
***
Selamat malam Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan komentarnya, kita selipin cinta ala remaja dulu sebelum digeber masalah yang bertubi.