
Aku benar-benar bingung harus dari mana aku menyampaikannya, karena belum aku berbicara apa pun wanita di hadapanku sudah terlihat begitu bersedih.
Sepertinya dia sudah bisa menebak apa yang akan aku katakan, bahkan Doni yang awalnya hanya diam saja kini terlihat memeluk ibunya dengan erat.
Dia seakan berusaha untuk menenangkan hati ibunya yang tiba-tiba saja menangis tanpa sebab, sepertinya dia bisa merasakan jika suami yang sudah tiada.
"Ada apa? Ada apa dengan suamiku? Tolong katakan!" kata wanita itu dengan wajah sendunya.
Aku langsung menghela napas berat, sungguh ini sesuatu yang sangat sulit bagiku untuk mengatakan yang sebenarnya.
Aku sempat melirik ke arah pak Sutomo yang masih anteng berdiri di belakang anak dan istrinya, aku melihat bibirnya yang melengkung ke atas.
Sepertinya dia setuju jika aku mengatakan yang sebenarnya saat ini juga, walaupun pastinya kabar ini akan membuat istrinya pak Sutomo terluka.
Namun, akan lebih baik jika segera diungkapkan bukan, karena pada akhirnya istrinya pak Sutomo juga pasti akan mengetahui jika suaminya telah tiada.
"Sebenarnya pak Sutomo sudah meninggal, Bu. Maaf baru memberitahukan, karena saya juga baru tahu sekarang ini," ucapku.
Aku terdiam dan berusaha untuk melihat ekspresi wajah dari istri pao Sutomo tersebut, dia terlihat begitu syok. Bahkan, sepertinya bibirnya pun terlihat susah untuk berbicara.
Begitupun dengan Doni, anak itu langsung menangis histeris. Dia seakan tidak rela mendengar apa yang aku katakan.
Berbeda dengan istri pak Sutomo, dia tidak menjerit. Namun, air matanya terus luruh membasahi kedua pipinya.
Aku berusaha untuk memeluk istri dan anak pak Sutomo, aku berusaha untuk menenangkan mereka.
Tanpa sadar aku pun ikut menangis, kami bertiga berpelukan sambil menangis. Meluapkan rasa sedih dan sesak di dalam dada.
Tidak lama kemudian, istri dari pak Sutomo terlihat melerai pelukannya. Dia yang merasa penasaran langsung bertanya.
"Di mana mayat suamiku? Tolong katakan, aku ingin bertemu dengannya walaupun sudah tidak bernyawa, apakah dia sudah dikuburkan atau belum? Karena ini sudah hampir satu minggu dia pergi dari rumah," kata istri Pak Sutomo.
Dia terlihat tidak sabar sekali, mungkin karena dia ingin segera mengetahui di mana jasad suaminya berada.
"Pak Sutomo dibunuh di kantor lama yang sudah terbengkalai, hanya ada sisa tulang belulangnya saja. Sekarang ayah sedang ke sana untuk mengambil tulang belulang tersebut, agar bisa segera dimakamkan dengan layak," ucapku menerangkan.
Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia menangis tanpa suara. Tubuhnya terlihat bergetar hebat, aku tahu dia terluka.
__ADS_1
Doni menangis histeris seraya memeluk ibunya, aku tahu keduanya begitu sedih karena aku pun merasakan hal yang sama, walaupun pak Sutomo bukanlah ayah kandungku.
Walaupun dia hanyalah bawahan dari ayah, aku tetap saja bisa merasakan kesedihan yang mendalam.
Tidak lama kemudian, aku melihat istri pak Sutomo berusaha untuk tegar. Dia tersenyum kecut lalu berkata.
"Tolong antarkan aku ke sana, aku ingin melihat jenazah suamiku walaupun hanya berupa tulang belulang," pinta istri pak Sutomo.
"Tunggu sebentar lagi, Bu. Nanti ayah akan ke sini untuk membawakan tulang belulang milik pak Sutomo.
"Tidak! Aku ingin melihatnya sekarang juga, aku sudah tidak sabar," kata istri Pak Sutomo seraya menangis sesenggukan.
Aku menjadi tiga tidak tega dibuatnya, apalagi saat Doni menatapku dengan tatapan sendunya, rasanya aku benar-benar tidak tega.
"Baiklah, kalau begitu ibu dan Doni pergilah bersama dengan pak sopir. Mintalah padanga untuk diantar ke kantor lama, aku akan pulang dengan naik taksi," ucapku memberi solusi.
"Terima kasih, Nona. Terima kasih," kata istri pak Sutomo.
Istri pak Sutomo terlihat melerai pelukannya dengan Doni, dia menatap putranya dengan lekat. Lalu, dia mengusap wajah putranya dengan lembut dan berkata.
"Tunggulah di sini sebentar, Nak. Kita akan bertemu dengan ayah," kata istri Pak Sutomo.
Tidak lama kemudian istrinya pak Sutomo terlihat masuk ke dalam kamar dan kembali dengan membawa tas selempang.
"Ayo, Nona. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suamiku," ucap dari istri Pak Sutomo.
"Oh, iya," kataku.
Akhirnya kami bertiga keluar dari rumah sederhana tersebut, sebelum aku meminta pak sopir untuk mengantarkan istri pak Sutomo ke kantor pusat yang terbengkalai, aku melihat istro pak Sutomo tersebut mengunci pintu rumah sederhananya.
"Pak, tolong antarkan Doni dan juga ibunya ke kantor pusat yang sudah terbengkalai," ucapku.
"Baik, Nona. Silakan," ucap Pak sopir.
Istrinya pak Sutomo dan juga Doni langsung masuk ke dalam mobil, tidak lama kemudian mereka terlihat pergi dari rumah sederhana tersebut.
Aku tersenyum getir melihat akan hal itu, rasanya sungguh sangat sedih. Aku merasa sangat kasihan dengan istri pak Sutomo tersebut.
__ADS_1
Aku menatap jam yang melingkar di tanganku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Rasanya aku harus segera mencegat taksi agar bisa segera sampai di kampus.
Aku juga merasa penasaran karena sampai saat ini aku belum bertemu dengan ketiga sahabat, terutama Alex.
Jujur saja lebih tepatnya aku ingin menanyakan tentang Alex kepada kedua sahabatku itu, aku langsung berdiri di pinggir jalan berharap ada taksi yang lewat.
Lima menit kemudian, aku melihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapanku. Tidak lama kemudian kaca mobil terlihat terbuka, terlihat seorang pria muda menatap ke arahku.
"Dengan Mbak Aneska?" katanya seorang pria yang berseragam supir.
"Ya, aku. Ada apa?" tanyaku.
"Anda memesan mobil online ya?" tanya Pak sopir itu.
"Tidak, saya tidak memesan taksi online, justru saya sedang menunggu taksi," ucapku.
"Masa sih Mbak? Tapi di sini tertera kok, pesanannya atas nama Mbak. Alamatnya juga sama persis di sini," kata Pak sopir.
"Masa sih?" tanyaku.
"Sebentar Mbak, saya turun dulu. Biar saya perlihatkan ponselnya kepada anda," ucap lelaki tersebut.
Aku melihat sopir tersebut nampak keluar dari dalam mobil, tidak lama kemudian dia bukannya memperlihatkan ponselnya kepadaku. Namun, dia membawaku dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.
Aku memberontak sebisaku, bahkan aku berteriak sekuat tenaga lku. Sopir itu terlihat mengambil lakban dan menutup mulutku dengan lakban tersebut.
Bahkan, dia juga langsung mengikat tanganku. Sepertinya dia benar-benar sudah merencanakan semuanya, badannya yang tinggi tegap tidak bisa aku lawan begitu saja.
Bahkan dengan mudahnya dia langsung mengikat tangan dan kakiku, lalu dia menampar pipiku.
Oh Tuhan, siapakah orang ini? Kenapa dia tega sekali membawaku dengan paksa? Kemana aku akan dibawa?
Semua pertanyaan muncul dalam benaku, aku berusaha berteriak walaupun dengan gumaman yang tidak jelas.
Orang tersebut malah mengeluarkan saputangan dan membekap mulutku dengan kencang, tiba-tiba saja pandanganku terasa kabur.
Semakin lama pandanganku semakin hitam, gelap dan aku tidak bisa melihat apa pun lagi, hanya terdengar suara lelaki itu yang terdengar tertawa.
__ADS_1
***
Selamat sore Bestie, selamat beristirahat. Jangan lupa like dan komentnya, sayang kalian semua. se