
Untuk sesaat aku terdiam, aku menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
"Beneran Mang Asep bakalan percaya sama aku?" tanyaku.
"Iya, Non. Memang percaya," jawab Mang Asep.
"Kalian ngomongin apaan sih? Kok serius banget?" tanya Naura seraya duduk di sampingku.
Aku menoleh kan kepalaku, ternyata Alex, Mario dan juga Naura sudah pulang. Mereka terlihat begitu kelelahan. Aku tersenyum, kemudian aku mulai bersuara.
"Lex, Mario. Duduk dulu, biar aku enak ceritanya," kataku sedikit memerintah.
Alex dan Mario menurut, mereka langsung duduk di bangku taman lainnya.
"Mau cerita apaan sih? Kenapa elu serius banget?" tanya Mario.
"Jadi gini, Mang. Anes itu pernah mimpi, ada seorang wanita hamil yang dikuburkan di tepi hutan. Bahkan wanita hamil itu sepertinya belum meninggal dunia saat dikuburkan, lelaki itu bahkan dengan teganya menganiaya wanita itu sebelum dikuburkan."
Aku menghela napas berat, pandangku menerawang jauh. Aku mencoba memgingat semua yang Jony lakukan kepada Leni.
"Awalnya Anes merasa tidak peduli akan mimpi itu, tapi ketika Mang Asep menceritakan tentang putrinya yang sudah hilang, aku jadi yakin jika itu adalah Leni yang meminta pertolonganku lewat mimpi," kataku.
Setelah mendengar ceritaku, ketiga sahabatku terlihat melongo tidak percayam Naura dan Mario bahkan terlihat berteriak.
"What?" teriak Mario.
"Seriusan elu mimpi kayak gitu? serem bener mimpi elu," kata Naura seraya bergidig.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku beberapa kali sebagai tanda mengiyakan. Mang Asep nampak melongo tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
Sepertinya dia masih sangat syok dengan apa yang baru saja dia dengar, berbeda dengan Alex yang terlihat percaya dengan apa yang aku katakan.
Mario malah terlihat sedikit ragu, dia terlihat mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Di tepi hutan, Non? Di mana tepatnya?" tanya Mang Asep.
Kembali aku mengingat-ingka mimpi yang aku alami setelah tersambar petir kala itu, yang aku ingat ada sebuah gudang yang sudah terbengkalai di tepi hutan.
Akan tetapi di dalam gudang tersebut ada sebuah ruangan yang sengaja di rapikan, sepertinya itu tempat yang biasa Jony dan juga Leni bertemu.
"Di mana, Non?" tanya Mang Asep lagi.
__ADS_1
"Di dekat gudang yang sudah terbengkalai," kataku.
Untuk sesaat mang Asep terlihat terdiam, kemudian dia kembali bersuara.
"Mamang ingat, Non. Di tepi hutan memang ada gudang yang sudah terbengkalai, bekas gudang tebu," jawab Mang Asep.
"Elu inget kaga, tepatnya di mana?" tanya Mario.
"Inget, gue," jawabku.
"Kalau begitu, tolong antarkan Mamang ke sana, Non." Mata Mang Asep nampak berkaca-kaca.
Aku tahu pasti mang Asep sangat sedih saat mendengar apa yang sudah aku katakan, sudah satu bulan tidak bertemu dengan Leni saja pasti mang Asep sudah sangat sedih.
Apalagi jika memang benar bahwa wanita yang dikuburkan oleh Jony itu memanglah Leni, maka mang Asep pasti akan lebih sedih lagi.
"Iya, Mang. Ayo," jawabku.
Aku berniat untuk bangun, baru saja aku hendak bergerak Alex terlihat menahan pundakku.
"Elu yakin bakalan pergi ke hutan?" tanya Alex.
"Yakin gue, Lex. Kasihan Mang Asep, pasti dia sangat ingin memastikan apakah benar Leni yang Jony kubur itu adalah putrinya?" kataku.
"Tapi, Nes. Kaki elu masih sakit, elu yakin bakalan kuat buat jalan?" tanya Alex
Untuk sesat aku terdiam, aku memandang kakiku yang memang belum lancar untuk berjalan. Kemudian, aku berkata.
"Pan ada elu, nanti elu gendong gue ya?" kataku.
Alex tersenyum, kemudian dia menganggukan kepalanya. "Oke," jawabnya.
Naura dan Mario terlihat saling pandang, kemudian mereka mencebikkan bibirnya.
"Modus! Bilang aja kalau elu mau digendong sama Alex!" kata Mario seraya menoyor kepalaku.
Mario menoyor kepalaku lumayan kencang, sehingga aku merasakan sedikit tekanan yang lumayan berasa. Aku mengelusi kepalaku, lalu aku berkata.
"Ya nggak gitu juga, kan elu tahu sendiri kalau kaki gue masih sakit," kataku.
Aku berusaha untuk membela diri, karena pada kenyataannya memang kakiku masih berasa sakit dan ngilu kalau untuk berjalan.
__ADS_1
"Halah!" kata Naura.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, begitupun dengan Alex. Mana ada aku modus sama Alex, pan kami sudah sangat lama berteman, aneh.
Setelah terjadi perdebatan kecil, akhirnya kami pun berangkat menuju tepi hutan. Beruntung mang Asep bisa mengendarai mobil, sehingga kami bisa berangkat ke tepi hutan walaupun tidak ada sopir.
Tiba di tepi hutan, mang Asep langsung memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gudang terbengkalai yang ada di sana.
Saat aku menatap gudang itu, gudang itu benar-benar persis seperti gudang yang ada di dalam mimpiku.
Setelah kami turun dari dalam mobil, mang Asep bertanya kepadaku.
"Apakah gudang itu yang ada di dalam mimpi Non Aneska?" tanya Mang Asep.
"Iya, Mang. Gudangnya itu sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku, terus di dalam gudang itu ada satu ruangan yang sengaja Jony bersihkan untuk tempat biasa bertemu dengan kekasihnya. Di sana hanya ada satu sofa yang sudah lapuk dan juga tikar lusuh," kataku seraya mengingat ingat.
Mang Asep seakan kaget dengan apa yang aku katakan, dia seolah ingin membuktikan ucapanku.
Dia langsung berlari dan masuk ke dalam gudang tersebut, Mario dan juga Naura yang terlihat penasaran, langsung menyusul mang Asep.
Berbeda dengan Alex, dia terlihat berjongkok tempat di hadapanku. Aku paham jika itu artinya, aku harus naik ke punggungnya.
Aku melakukan hal tersebut dan setelah itu, Alex terlihat berjalan seraya menggendong diriku.
Tiba di dalam gudang tersebut, ada satu ruangan yang terlihat begitu rapih. Namun, terlihat sedikit berdebu.
Ada sofa yang terlihat sedikit lapuk dan juga tikar yang masih terbentang di sana, ada beberapa helai baju dan juga ada sebuah kalung emas yang terjatuh di dekat sofa.
Kalung tersebut memiliki liontin berinisial L, tubuh mang Asep terlihat melemah. Dia langsung menjatuhkan dirinya lalu mengambil kalung emas tersebut dan mengecupinya.
"Leni," ucapnya lirih.
Aku menjadi semakin yakin, jika wanita yang meminta tolong terhadapku itu adalah anak dari mang Asep sendiri, Leni.
"Leni, Non. Ini kalung Leni. Pasti yang Jony kuburkan beneran Leni, tolong tunjukan di mana Jhony menguburkan anak saya," kata Mang Asep.
Aku masih sangat ingat jika Jony menguburkan kekasihnya di tepi hutan, dekat pohon besar.
"Iya, Mang. Aku masih ingat di mana Jony menguburnya," kataku.
Akhirnya Alex kembali menggendongku menuju tepi hutan, di mana Leni dikuburkan Sedangkan Mario dan juga Naura terlihat memapah mang Asep yang terlihat begitu lemah.
__ADS_1
***
Masih berlanjut ya, guyz. Jangan bosen untuk mampir dan tinggalkan jejaknya.