
POV Aneska.
Hari ini aku benar-benar merasa bahagia, karena akhirnya aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuaku.
Setelah sekian lama ayah dan bunda sibuk mengurusi pekerjaannya, kini mereka merelakan satu hari yang mereka khususkan untukku.
Setelah sarapan aku bahkan langsung bersiap untuk pergi, aku sudah memakai pakaian yang aku suka. Kemeja berwarna abu senada dengan celana jeans yang aku pakai.
Aku bahkan sudah mengikat rambutku tinggi-tinggi, aku juga memoles wajahku dengan bedak tabur dan memoleskan liptin berwarna merah muda.
Aku benar-benar merasa tidak sabar untuk segera pergi, padahal ayah dan bunda mengajak aku pergi nanti jam sembilan pagi.
"Oh Tuhan, aku sangat bahagia. Semoga setelah ini ayah dan bunda bisa sering meluangkan waktu untuk berkumpul bersama," ucapku dengan penuh haru.
Sedari kecil aku selalu saja ditinggalkan, mereka sangat sibuk sekali dengan bisnisnya. Beruntung aku punya teman yang begitu baik dan pengertian.
"Ciee yang mau jalan sudah cantik saja," kata Bibi yang ternyata sudah berada tepat di belakangku.
Aku yang sedang tersenyum seraya memperhatikan wajahku di depan cermin, langsung menolehkan wajahku pada bibi. Melihat bibi yang tersenyum, aku ikut tersenyum.
"Aku sangat bahagia, Bi." Aku bangun dan langsung memeluk wanita paruh baya yang selalu mengasuhku dari kecil.
Bibi terlihat ikut bahagia saat melihat rona wajahku yang berbinar, dia memang hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga, tapi dia sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri.
"Bibi ikut bahagia, Non. Bibi tahu Non, memang begitu menginginkan waktu yang banyak untuk berkumpul," kata Bibi seraya membalas pelukanku.
Ya, bibi memang sangat tahu jika aku begitu merindukan waktu bersama dengan ayah dan juga bunda. Kebersamaan adalah hal yang langka untuk kami, tapi aku mengerti jika apa yang ayah dan bunda lakukan untuk kebaikan aku juga.
"Oiya, Bi. Nanti aku mau makan siang di Resto Jepang, Bibi mau dibawain apa?" tanyaku.
Sedari kecil jika aku makan di Restoran Jepang, maka bibi akan mencicipi setiap makanan yang aku pesan. Dia seolah penasaran dengan makanan khas daerah negeri ginseng itu.
"Apa saja," kata Bibi seraya melerai pelukan kami.
__ADS_1
Setelah berbicara ngalor-ngidul dengan bibi, akhirnya aku segera mengambil tas ransel kesayanganku dan segera keluar dari dalam kamarku.
Segera aku langkahkan kakiku menuju kamar ayah dan bunda, dengan tidak sabar aku segera masuk ke dalam kamar yang tadi malam aku tiduri bersama ayah dan bunda.
"Ayah, Bunda!" teriaku.
Ku edarkan pandanganku, kucari sosok ayah dan bundaku. Sayangnya mereka tidak ada, tidak lama kemudian, aku mendengar sahutan.
"Ya, Sayang! Tunggu di luar dulu sebentar," teriak Ayah dari kamar mandi.
"Oke!" jawabku.
Mungkin ayah sedang menuntaskan hajatnya di kamar mandi, pikirku. Makanya aku segera keluar dari kamar ayah dan juga bunda.
Segera aku langkahkan kakiku menuju ruang tengah, aku mencari bunda karena di kamarnya aku tidak menemukan sosok wanita yang begitu aku kagumi dan aku sayang itu.
"Ck! Bunda kemana sih," keluhku.
Aku berusaha mencari bunda tapi tidak ada, akhirnya aku memutuskan untuk menyalakan tv dan menonton serial sikembar botak yang selalu bertingkah lucu tapi penuh pelajaran hidup yang bisa aku ambil.
Awalnya aku tertawa menonton tingkah laku mereka, tapi lama kelamaan aku merasa bosan. Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, hampir dua puluh menit aku menunggu.
Namun, herannya ayah dan juga bunda tidak datang juga. Aku jadi merasa kesal sendiri, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
"Ya Tuhan! Apakah ayah sakit perut? Kenapa lama sekali?" tanyaku yang mulai kesal karena ayah tak kunjung datang, begitu pun dengan bunda. "Kenapa dia malah menghilang juga?"
Aku jadi bertanya di dalam hatiku, kenapa ayah dan bunda tidak segera datang? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan? Apa mungkin mereka lupa dengan janji yang sudah dikatakan?
"Maaf, Sayang. Kami lama," kata Bunda tidak enak hati. Dia terlihat melirik sinis ke arah ayah, aku tidak paham kenapa. Mereka datang dengan baju yang berbeda, bahkan rambut ayah dan juga bunda terlihat setengah basah.
Satu hal lagi yang tidak aku paham, aku mencari bunda kemana-mana tapi tidak ada. Namun, kenapa sekarang bunda malah datang bersama dengan ayah, tanyaku dalam hati.
Dari pada pusing, mending aku melupakan hal itu. Bagiku yang terpenting saat ini adalah bisa segera pergi ke tempat yang aku inginkan.
__ADS_1
"Kalian lama, sekarang aku mau kita ke butik langganan kita dulu. Mau beli baju buat kuliah besok," kataku seraya memeluk lengan ayah dengan posesif.
Ayah yang sedang merangkul pundak bunda langsung melepaskan rangkulannya, kemudian dia menautak jari tangannya dengan bunda.
"Kita jalan sekarang, kemana pun kamu ingin pergi hari ini, ayah sama bunda akan turuti," kata Ayah.
Hatiku melambung mendengar apa yang ayah katakan, sungguh aku bahagia walaupun hanya diberikan waktu satu hari untuk bersenang-senang dengan kedua orang tuaku.
"Iyes, Ayah!" kataku seraya terkekeh.
Aku melepaskan pelukanku karena ayah sudah mulai membukakan pintu mobil untukku, aku benar-benar merasa tersanjung saat aku diperlakukan bak seorang putri.
"Silakan masuk dan duduk dengan anteng, Sayang," kata Ayah.
Melihat ayah yang membukakan pintu mobil belakang, aku langsung melayangkan protesku. Karena aku tidak mau duduk sendirian di belakang.
"Aku nnga mau duduk di bangku penumpang, aku maunya duduk di depan sama Ayah," kataku.
Ayah terlihat saling pandang dengan bunda, kemudian mereka terkekeh. Entah apa yang mereka pikirkan tentang diriku, aku tidak tahu.
"Baiklah, kalau begitu kamu duduk di samping Ayah saja. Melihat Ayah nyetir, menjadi penunjuk arah biar ngga nyasar," kata Ayah seraya tersenyum.
"Iya, ga apa-apa gantian kamu sama Ayah beruda deh. Bunda yang di belakang," kata Bunda menimpali.
Aku tersenyum senang mendengar apa yang ayah dan bunda katakan, aku segera membukakan pintu mobil dan duduk di samping kemudi.
Begitupun dengan ayah, dia terlihat masuk dan duduk di balik kemudi. Sedangkan bunda duduk di bangku penumpang sendirian, sungguh aku bahagia.
Ayah terlihat memakai sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobilnya, aku pun melakukan hal yang sama, memakai sabuk pengaman.
Setelah itu, aku langsung memeluk kembali lengan kiri ayah dan menyadarkan kepalaku di pundak ayah. Masa-masa seperti inilah yang ingin aku rasakan kembali, bermanja-manjaan dengan ayah.
"Manja bener sih, putri Ayah ini," kata Ayah seraya mengecup keningku," aku sangat senang.
__ADS_1
***
Selamat siang Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan komentarnya, yes.