
Aku benar-benar tidak menyangka jika setelah kejadian di gunung waktu itu akan membuat diriku bisa melihat arwah.
Rasa takut selalu saja menyeruak di dalam dada saat melihat arwah-arwah yang gentayangan.
Apalagi saat aku berada di Rumah Sakit, saat itu aku sedang menunggu hasil autopsi dari Leni.
Di sana banyak sekali makhluk yang bergentayangan, ada yang mukanya hancur tidak terbentuk.
Ada juga yang kakinya lumpuh dua-duanya, ada juga yang perutnya terlihat bolong. Bahkan, ada juga yang punggungnya terlihat terluka dan dipenuhi dengan belatung.
Bahkan saat aku melihat ke arah kamar mayat, ada seorang lelaki yang tubuhnya tidak terbentuk.
Tangan kanannya bergeser ke bawah, sedangkan tangan kirinya bergeser naik ke atas.
Bahkan, matanya tidak ada sebelah. sedangkan bibirnya terlihat sobek, hingga deretan gigi putihnya nampak terlihat. Ralat, bukan putih, tapi penuh darah.
Saat aku bertanya kepada salah satu suster, katanya baru saja ada korban kecelakaan. Dia tertabrak truk saat hendak menyebrang jalan, sungguh pengalaman yang sangat mengerikan untukku.
Saat aku berada di Rumah Sakit, aku benar-benar ketakutan. Beruntung ada Alex yang selalu berusaha untuk menangkan diriku.
Pada akhirnya, sebelum hasil autopsi keluar aku meminta untuk pulang. Beruntung Alex mau mengantarkan aku, sedangkan Mario dan Naura menemani mang Asep.
Mereka merasa kasihan, karena mang Asep benar-benar terluka saat mengetahui akan Leni yang sudah meninggal.
"Lex, gue mau ngomong jujur sama elu. Kira-kira, kalau gue ngomong jujur. Elu bakal percaya ngga sama gue?" tanyaku pada Alex ketika kami sudah sampai di Villa.
Alex terlihat menuntunku untuk duduk di atas sofa, kami kini sedang duduk bersampingan. Dia terlihat merangkul pundakku, lalu menepuk-nepuk lenganku dengan lembut.
"Kita ini sudah sahabatan sejak lama, mana mungkin gue ngga percaya sama apa yang elu ucapin. Katakan saja, elu mau bicara apa?" tanya Alex.
Aku tersenyum sambil menatap wajah Alex, wajah tampannya selalu saja membuat aku merasa tenang.
"Saat gue di gunung waktu itu, ada petir yang menyambar. Tiba-tiba saja ada kilatan cahaya seakan membelah langit, dari saat itu, ada sebuah pintu yang terbuka lebar. Entah pintu apa gue ngga tahu, tapi--"
__ADS_1
Aku sedikit ragu untuk menceritakan semuanya kepada Alex, jujur saja aku takut jika Alex tidak memercayai apa yang aku katakan.
Namun, jika melihat sorot matanya, aku yakin Alex begitu percaya padaku. Alex terlihat tersenyum, lalu dia menepuk-nepuk punggung lenganku.
"Sudah gue bilang, katakan saja kalau elu emang mau ngomong. Gue pasti percaya banget sama elu, Nes," kata Alex.
Aku kembali tersenyum kepada Alex, kemudian aku berkata.
"Semenjak saat itu, aku bisa melihat hantu. Aku takut," kataku.
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja aku melihat bayangan di balik jendela. Aku yang merasa takut sontak langsung menubrukkan tubuhku ke tubuh Alex.
Alex terlihat begitu kaget, lalu dia menepuk-nepuk punggungku. Dia terlihat berusaha untuk menenangkan aku. Lalu, dia bertanya.
"Hai! Kenapa elu bersikap seperti ini? Ada apa? Elu jangan bikin gue takut," kata Alex.
Aku mencoba untuk menetralkan degub jantungku yang berdebar begitu kencang, bukan karena aku gugup saat berpelukan dengan Alex, tapi aku benar-benar ketakutan saat ini.
"Itu Lex, ada itu dibalik jendela," aduku pada Alex.
Kali ini aku benar-benar melihat sosok yang begitu mengerikan di balik jendela, matanya tidak ada sebelah.
Wajahnya rusak parah, bahkan tulang tengkoraknya begitu terlihat. Aku benar-benar takut, apalagi kini mahkluk itu sedang menatapku dengan intens.
"Jangan takut, ada gue! Tenangin diri elu, tarik napas dalam-dalam. Terus, m keluarkan dengan perlahan. Gue yakin, dia hanya ingin menyapa," kata Alex.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, aku langsung mendongakkan kepalaku tanpa melerai pelukan kami. Lalu aku bertanya.
"Jadi, elu seriusan percaya sama gue?" tanya aku dengan wajah yang sudah terlihat pucat pasi.
Alex terkekeh mendengar apa yang aku ucapkan, kemudian dia menoel hidungku dengan jari telunjuknya.
"Tentu saja gue percaya sama elu, temuin gih. Biar elu tahu apa yang dia inginkan," kata Alex seperti orang yang sedang menggodaku.
__ADS_1
Aku langsung mengkerucutkan bibirku karena kesal, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini Alex malah mengajak diriku untuk bercanda.
"Elu nyebelin, Lex. Gue pan takut," kataku seraya melirik kembali ke arah jendela.
Ternyata bayangan itu masih saja setia berdiri di sana, aku benar-benar takut.
"Jangan takut, ayo gue temenin," tawar Alex.
Dengan perlahan Alek merelai pelukan kami, kemudian dia menuntunku untuk bangun. Tubuhku bergetar karena ketakutan, tapi Alex terlihat menepuk-nepuk pundakku.
Alex seolah terus saja berusaha untuk menenangkan diriku, sumpah demi apa pun saat ini aku benar-benar ketakutan.
Setelah semakin dekat, arwah itu terlihat tersenyum. Senyum yang terlihat begitu menakutkan untukku.
"Lex, gue taku!" kataku seraya menarik ujung baju yang Alex pakai.
"Jangan takut, ada gue yang nemenin," kata Alex.
Sedari tadi Alex terus saja berkata jika ada dirinya menemaniku, aku langsung mendongakkan kepalaku karena memang tubuh Alex lebih tinggi dariku.
Kemudian, aku menatapnya dengan sangit.
"Elu enak ngga lihat dia, dia serem banget Lex. Matanya ngga ada sebelah, aduh! Itu, tulang tengkoraknya bikin ngilu," kataku seraya bergidig.
"Ck! Makanya buruan tanya, apa maunya dia," kata Alex.
Aku memberanikan diri untuk menatap makhluk yang buruk rupa tersebut, kemudian aku pun bertanya.
"Sebenarnya kamu siapa?" tanyaku.
Aku berusaha bertanya sesopan mungkin, karena aku tidak tahu dia lebih tua atau lebih muda dariku. Karena wajahnya benar-benar tidak bisa dikenali.
***
__ADS_1
Masih berlanjut, kuy ramein dengan like, koment dan juga hadiahnya.