Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Wanita Itu


__ADS_3

POV Aneska.


Aku tidak pernah menyangka jika dengan kejadian di hari itu, saat aku berada di gunung G kala itu. Aku malah bisa melihat banyak makhluk yang tidak kasat mata.


Bahkan, tidak jarang aku melihat makhluk-makhluk buruk rupa yang membuat aku takut dan juga geli bercampur jijik.


Seperti saat ini, setelah tertangkapnya Jony, aku dan ketiga sahabatku langsung pergi ke sebuah Cafe yang tidak jauh dari kantor ayah.


Satu hal yang membuat aku takut, jijik dan juga geli. Tak jauh dari tempat aku duduk, aku melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk sambil asyik menikmati secangkir kopi di hadapan.


Namun, di belakang pria paruh baya itu, ada sesosok wanita yang saat di perjalanan menuju pulang dari kota B aku melihatnya di pinggir jalan.


Wanita yang terlihat polos dan memiliki luka lebam di sekujur tubuhnya, bahkan wajahnya terlihat mengeluarkan banyak darah.


Wanita itu terlihat menatap pria paruh baya yang ada di hadapannya dengan penuh kebencian, aku tidak tahu kenapa.


Untuk sesaat pandanganku beradu dengannya, dia seolah meminta pertolongan kepadaku. Tatapannya penuh permohonan, ku palingkan wajahku dengan cepat.


Tentu saja karena aku merasa takut dan juga geli secara bersamaan, jika saja dia manusia, aku akan meminta Alex untuk membuka jaketnya dan segera memakaikannya, lalu membawanya pergi ke toko baju.


Dalam hati aku merasa heran dN bertanya-tanya, kenapa dia tidak memakai sehelai benang pun? Apakah mungkin pada semasa hidupnya dia dibunuh, ditelanjangi dan dibuang di pinggir jalan?


Oh Tuhan, dia benar-benar mengerikan. Alex yang berada di sampingku seolah menyadari apa yang sedang terjadi padaku, ia langsung menepuk-nepuk punggungku.


"Elu Kenapa, Nes? Kenapa muka elu pucat kayak gitu?" tanya Alex.


Aku langsung menolehkan wajahku ke arah Alex, aku memaksakan senyumku dan segera menghela napas panjang. Kemudian, aku berkata.


"Di belakang pria paruh baya itu ada cewek serem," ujarku.


Alex terkekeh mendengar apa yang aku ucapkan, mungkin dia berpikir kenapa aku masih merasa ketakutan. Karena sudah beberapa kali aku melihat makhluk tak kasat mata, seharusnya aku mulai terbiasa.


Naura dan juga Mario yang sedang asyik menikmati kopi langsung menolehkan wajahnya ke arahku, Mario malah terlihat menaik turunkan sebelah alisnya.


Dia seolah bertanya lewat bahasa isyarat, aku tersenyum kaku kemudian menunjuk ke arah pria paruh baya itu dengan ekor mataku.

__ADS_1


Ketiga sahabatku langsung menatap ke arah pria paruh baya tersebut, pria paruh baya yang terlihat bertubuh tambun, berperut buncit dan setengah rambutnya terlihat tidak ada jika terkena cahaya matahari terlihat begitu berkilau.


"Ada apa dengan pria paruh baya itu?" tanya Mario.


"Sepertinya ada hubungannya dengan wanita yang pernah gue lihat di pinggir jalan tol waktu kita pulang itu," jawabku.


Mendengar apa yang aku katakan, Naura dan juga Mario terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka seolah paham dengan apa yang aku maksud.


"Jangan-jangan itu cewek mau minta tolong sama elu," kata Mario.


Sepertinya Mario masih sangat ingat ketika Aku ketakutan saat berada dalam mobil karena melihat wanita yang sekarang sedang ku ceritakan.


Tidak mungkin bukan, jika wanita itu datang kalau bukan untuk meminta pertolongan dari diriku, pasti seperti itu pikir Mario.


"Iya tuh, bener. Jangan-jangan tuh cewek memberikan petunjuk dengan berada di belakang pria paruh baya itu," kata Naura menimpali.


Naura terlihat berantusias sekali saat mengatakan hal itu, sepertinya malah dia yang terlihat menggebu ingin membantu. Bukan diriku.


Andai saja mereka tahu bahwa melihat makhluk tak kasat mata itu tidak mengenakkan, semua ini terasa menjadi beban untuk diriku.


"Ya, tapi aku bingung karena wanita itu tidak berbicara sedikitpun. Kalau misalkan dia berbicara mungkin aku bisa mengajak dia berkomunikasi, tapi dia hanya menatapku dengan tatapan sendu," kataku.


"Mungkin kita harus mencari tahu dengan segera, apa jawabannya," kata Mario.


"Nah, bener tuh. Bagaimana kalau kita ikutin saja pria itu, biar kita tau nanti dia perginya ke mana," kata Naura.


"Bolehlah sekali-kali kita jadi penguntit," kata Alex.


"Ye, kalau ngomong bahasanya yang kerenan dikit napa! Jadi detektif gitu, ini jadi penguntit!" protes Naura.


Aku hanya bisa terkekeh seraya menggelengkan kepalaku melihat kelucuan di antara ketiga sahabatku, tapi itu benar.


Akan tetapi, aku juga merasa senang karena ketiga sahabatku terlihat begitu kompak untuk membantu masalah orang lain.


Walaupun pada dasarnya masalah itu bukan berasal dari makhluk hidup, tapi berasal dari makhluk tidak kasat mata seperti Leni dan Wira.

__ADS_1


"Kalian ngobrol dulu deh, gue kebelet pengen pipis," ucapku.


"Perlu diantar ngga?" tanya Mario seraya menaik turunkan alisnya.


Aku tidak menjawab, aku hanya mengambil tas jinjing milikku lalu hendak memukulkannya ke arah Mario.


Namun, dengan sigap dia menyilangkan kedua tangannya di depan kepalanya. Dia seolah-olah begitu takut jika aku akan memukul kepalanya, padahal aku hanya menggertak dirinya saja.


"Wees, sabar dong elu. Jangan main pukul kayak gitu, gue cuma bercanda," kata Mario.


"Iya, gue tahu. Tapi, bercandanya ngga usah kayak gitu juga, gue cabut."


Aku segera berlalu dengan bibir mengkerucut, ketiga sahabatku hanya menertawakan tingkahku. Aku tidak peduli, aku terus saja melangkahkan kakiku menuju toilet wanita.


Tiba di dalam toilet, aku langsung menuntaskan hajatku. Setelah itu aku berdiri di depan cermin untuk membenahi rambutku yang terasa berantakan.


Saat aku sedang asyik menyisir rambutku dengan jari-jari tanganku, tiba-tiba saja aku melihat sosok wanita itu dari cermin.


Hatiku berdetak tidak karuan, aku benar-benar takut. Namun, aku juga tidak bisa lari karena kini dia berada tepat di belakangku.


Untuk menengok ke arah belakang saja aku merasa malu, aku memejamkan mataku berusaha untuk berkomunikasi dengannya.


'Tolong jangan ganggu aku, jika kamu memang ingin aku bantu, katakanlah apa yang ingin kamu katakan!' ucapku dalam hati.


Aku mencoba membuka mataku, berharap wanita itu sudah tidak ada lagi. Benar saja, saat mataku terbuka tidak ada sosok wanita yang tadi berada di belakangku.


Namun, aku melihat sebuah tulisan berwarna merah darah tepat pada cermin yang kini sedang ada di hadapanku.


"Tolong bantu aku Aneska, aku hanya gadis bisu yang dianiaya dan dibunuh oleh ayah tiriku. Setelah itu dia membuangku tidak jauh dari di pinggir jalan tol, tolong kuburan aku dengan layak. Tolong penjarakan ayah tiriku, tolong bilang pada ibuku jika dia pria yang jahat."


Aku tertegun melihat tulisan yang kini ada di hadapanku, harus apa aku saat ini? Apakah harus segera aku mengatakan hal ini kepada ketiga sahabatku?


****


Masih berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2