Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Pesan Beruntun


__ADS_3

Wanita bisu itu nampak tersenyum hangat ke arahku, aku tahu dia merasa senang karena aku merespon keinginannya.


Tidak lama kemudian, gorden nampak tersibak. Dia seolah sedang mengungkapkan keinginannya lewat tulisan, karena lagi-lagi aku melihat torehan kata-kata pada kaca jendela itu.


"Besok pukul sepuluh mama akan ke kampus tempat kamu akan menimba ilmu, dia donatur terbesar yang akan memilah siswa berprestasi. Aku mohon tolong ajak Mama untuk bicara, katakan padanya jika aku mati di tangan suami jahatnya." RAYENA.


"Rayena, mungkinkah itu nama kamu?" tanyaku lirih.


Dia menganggukkan kepalanya, lalu menghilang begitu saja. Alex, Naura dan juga Mario langsung menghentikan kunyahannya. Mereka menatapku dengan penuh tanda tanya.


"Siapa Rayena?" tanya Naura.


Aku langsung tersenyum melihat tatapan penuh tanya dari wajah ketiga sahabatku, lalu aku mulai bersuara.


"Gadis bisu itu, tadi dia datang. Dia memberitahukan aku jika ibunya menjadi donatur terbesar di kampus yang akan kita jadikan tempat untuk menimba ilmu," jawabku.


Mereka bertiga nampak mengangguk-anggukan kepalanya, mungkin hal itu menandakan jika mereka mengerti dengan apa yang aku katakan.


"Katanya dia bisu, lalu dia ngomongnya sama elu bagaimana?" tanya Naura.


"Lewat tulisan, noh tulisannya ngejeblag segede uler melingker-lingker," kataku seraya terkekeh dan menunjuk ke arah tulisan Rayena di kaca jendela.


Naura terlihat kesal, bahkan dia langsung mencebik dan terlihat memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Terus, apa yang harus kita lakukan?" tanya Mario. Mario terlihat sedang menatapku dengan tatapan yang terlihat sungguh-sungguh.


"Sepertinya besok kita harus ke kampus," usulku. Hanya itu yang tersirat di dalam benakku.


"Tapi, Nes. Kita kuliah masih empat hari lagi, buat apa coba besok ke kampus. Alasannya apa coba?" tanya Naura.


Dalam hati aku membenarkan ucapan Naura, apa alasanku saat tiba di kampus nanti? Apakah aku harus berkata jika aku sengaja datang hanya untuk melihat ruangan fakultas yang nanti akan aku tempati?


"Bilang aja mau ngasih data yang tertinggal," celetuk Alex.


"Nah, betul itu," kataku dengan wajah yang berbinar seolah mendapatkan solusi.


"Tumben elu ngomong, biasanya diem-diem bae," kata Mario.

__ADS_1


"Biar cepet selesai tuh masalah, kasihan gue kalau denger mahkluk yang belum pulang ke rahmatullah. Katanya mereka itu sangat tersiksa," kata Alex.


Alex mengatakan hal itu dengan wajah seriusnya, ya... dia memang selalu serius dalam hal apa pun. Jarang sekali aku melihat dia bercanda.


"Iya, elu bener. Pak ustadz udah sering ngata, ya udah besok kita ke kampus," kata Mario.


Obrolan kami tentang Rayena berakhir sudah, setelah makan malam kami bermain ps di ruang keluarga. Pukul sebelas malam barulah kami tidur di dalam kamar yang sama.


Aku berdua dengan Naura tidur da atas ranjang, sedangkan Alex dan Mario tidur di karpet tebal milikku yang ada di samping tempat tidurku.


Padahal kini aku tidur berempat di dalam kamar kesayanganku, tapi entah kenapa mata ini tidak dapat terpejam.


Aku menengok ke arah Naura, dia nampak tidur pulas. Bahkan terdengar dengkuran halus dari bibirnya, aku tersenyum saat melihat akan hal itu.


Aku turunkan pandangan mataku ke arah Alex dan juga Mario, mereka pun sama. Nampak tertidur dengan pulas.


Oh Tuhan, ada apa dengan diriku? Kenapa mata ini begitu sulit untuk terpejam? Apakah ini efek karena aku pingsan seharian?


Aku hanya bisa menghela napas berat, aku menyerah. Aku turun dari atas tempat tidur lalu aku duduk di atas sofa dekat jendela.


Apalagi wajah Alex yang terlihat sangat dingin itu malah terlihat manis dan menggemaskan di mataku, membuat aku ingin mencubit pipinya.


Ya ampun, mikir apa coba aku ini. Lucu sekali aku malah memperhatikan wajah tampan Mario dan juga Alex yang terlihat lebih tampan.


"Mending aku duduk aja," kataku seraya duduk di atas sofa.


Aku mengambil ponselku dan mulai berselancar dengan ponsel milikku itu, aku mulai mencari berita online agar aku tidak jenuh.


Mataku terpokus pada sebuah artikel berita yang membuat aku teringat akan gadis bisu itu, Rayena.


'Seorang pengusaha ternama nyonya Riyani Anggelica sedang bersedih, karena sudah dua minggu putri semata wayangnya hilang tak berjejak.'


'Beruntung selalu ada tuan Anggara yang menemani nyonya Riyani dalam kesehariannya, hal itu setidaknya bisa membuat dia terhibur.'


'Nyonya Riyani menyibukan diri dalam bekerja di sela menunggu kabar dari putri tercintanya, putri dari almarhum tuan Dermawan.'


"Ya Tuhan, mungkinkah ini berita tentang Rayena?" tanyaku dalam hati. Aku jadi membayangkan bagaimana sedihnya nyonya Riyani kehilangan putri tercintanya.

__ADS_1


Saat aku sedang asyik dengan lamunanku, tiba-tiba saja aku merasa angin berhembus dengan sangat kencang.


Padahal jendela kamar sudah tertutup dengan rapat, aku bahkan melihat gorden di kamar aku seakan hendak terbang.


Tidak lama kemudian pandangan mataku tertuju kepada tulisan yang ada di jendela kamarku, aku yakin itu perbuatan Rayena.


'Jika besok kamu bertemu dengan mama, tolong beritahukan padanya jika di kamar tamu yang ayah tiriku kunci, masih ada bukti tentang kejahatan nya terhadap diriku.'


Di sini memang tidak ada Rayena, tapi aku yakin jika itu adalah ungkapan dari hati Rayena yang paling dalam.


Aku jadi teringat akan mimpi yang aku lihat, Rayena dipukuli hingga meninggal di kamar tamu yang ada di dalam rumah itu, aku jadi berpikir mungkin semua buktinya belum terbuang.


Mungkin saja lelaki paruh baya yang bernama Anggara itu takut jika harus membuangnya sendiri, karena ada pembantu di sana yang akan memperhatikan atau mungkin seperti apa aku tidak tahu.


Aku benar-benar bingung, sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa menemui ibu Riyani, ibu dari Rayena.


"Hey! Kenapa elu belum tidur?"


"Astogeh, gue bener-bener kaget!" ucapku tertahan dengan tubuh yang terlonjak.


"Sorry, gue ngga maksud." Alex langsung memelukku dan mengelus lembut punggungku dengan lembut.


"Elu ngapain bangun? Jadinya elu ngagetin gue aja," kataku seraya memukul pundak Alex.


"Sorry, tadi gue ngelihat elu bengong sendirian. Gue cuma takut elu kesambet, makanya langsung gue samperin terus gue tegor," kata Alex tanpa melepaskan pelukanya.


"Gue ngga bisa tidur," ucapku.


"Iya, gue paham. Elu pan pingsannya lama banget, pasti sekarang susah tidur," kata Alex.


Aku melerai pelukan Alex, lalu aku melirik ke arah jam digital yang berada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, aku menghela napas berat.


Aku takut besok akan bangun kesiangan, itu berarti aku akan terlambat datang ke kampus. Tugasku untuk menolong Rayena pasti terganggu.


***


Selamat sore kesayangan, selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak oke, koment dan likenya ditunggu banget.

__ADS_1


__ADS_2