
Yah, malam ini aku benar-benar kebingungan dengan apa yang harus aku lakukan. aku merasa bingung dengan apa yang harus aku katakan sebelum Alex pergi, karena jujur saja aku masih ingin menemuinya terlebih dahulu sebelum dia benar-benar pergi.
Keesokan harinya aku merasa tubuhku masih sangat lelah dan juga lemas, mataku bahkan terasa masih sepat. Namun, aku ingin segera bangun karena takut kesiangan.
Setelah mataku terbuka dengan sempurna, aku langsung turun dari tempat tidur kemudian aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Rasanya mengguyur tubuh ini dengan air hangat akan terasa lebih segar, benar saja setelah mandi rasanya sangat segar walaupun kepala ini masih terasa sedikit pusing.
Saat aku hendak melaksanakan shalat subuh, ternyata tamu bulananku datang. Akhirnya aku segera memakai baju dan segera keluar dari kamar.
Tentu saja tujuan pertamaku saat ini adalah berjalan menuju dapur, karena biasanya bunda sedang membuat makanan untuk kami sarapan pagi.
"Hai cantiknya, Bunda. Sudah bangun?" kata Bunda.
"Iya, Bun. Aku sudah bangun, Bunda mau masak apa?" tanyaku.
"Bunda lagi males masak, buat sarapannya bikin sandwich aja ya," kata Bunda.
"Iya, iya. Apa pun yang Bunda buat pasti akan aku makan, buatan Bunda selalu enak kok," ucapku.
Bunda langsung terkekeh mendengar apa yang aku ucapkan, dia langsung meminta aku untuk membantu dirinya menyiapkan sarapan.
Ternyata membuat sandwich itu tidak membutuhkan waktu yang lama, lima belas menit saja sandwich buatan bunda sudah selesai dibuat.
Bahkan, bunda juga sudah membuat tiga gelas susu putih hangat kesukaan kami bertiga. Minuman wajib yang tidak pernah kami lewatkan untuk diminum setiap harinya.
"Tunggu sebentar, ya, Sayang. Bunda ke kamar dulu, mau panggil ayah kamu dulu. Duduklah, Bunda tidak akan lama," kata Bunda.
Aku menurut dan langsung duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut, sesekali aku menatap ke arah gawang pintu berharap Alex akan datang.
Aku juga berharap Mario dan juga Naura datang, agar suasana rumah terasa ramai seperti biasanya.
Namun, herannya mereka tidak datang kerumah. Apakah mereka sedang sibuk bersama dengan Alex, pikirku. Karena Alex akan pergi hari ini juga.
Padahal ini adalah hari pertama ospek, aku harus sampai di kampus pukul 09.00 pagi. Namun, kenapa ketiga temanku itu tidak datang? Apakah mungkin Alex kecewa dan tidak akan datang?" Ataukah kedua temanku itu tidak ikut datang karena sedang membantu Alex mempersiapkan kepergiannya?
Ah, aku jadi bingung. Aku jadi galau, rasanya aku ingin segera pergi dan menemui Alex. Namun, aku benar-benar bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
Aku juga sangat bingung jika aku bertemu dengan Alex, apa yang harus kuperbuat dan apa yang harus aku lakukan jika kami bertemu.
Tidak lama kemudian ayah dan bunda datang, akhirnya kami pun melaksanakan sarapan bersama. Di saat sarapan, aku benar-benar tidak tenang.
Berkali-kali aku menolehkan wajahku ke arah gawang pintu, tapi tetap saja Alex dan kedua temanku itu tidak datang.
Hatiku benar-benar gelisah, bunda dan ayah seperti memperhatikan aku. Namun, aku pura-pura tidak tahu, aku kembali fokus sarapan.
"Kenapa sih, Sayang? Dari tadi kayaknya gelisah banget?" tanya Bunda.
"Tidak apa-apa, Bun," ucapku.
Tidak mungkin bukan jika aku jujur kepada bunda dan ayah jika aku sedang resah karena Alex tak kunjung datang, Mario dan juga Naura malah ikutan ngga dateng.
Kembali kulanjutkan sarapanku, setelah selesai aku meminta alamat pak Sutomo kepada ayah.
Awalnya ayah ingin mengantarkan aku secara langsung ke rumah pak Sutomo, tapi mengingat pak Sutomo yang meminta tulang belulangnya untuk dikuburkan ayah dan bunda memutuskan untuk pergi ke kantor pusat yang sudah terbengkalai.
Mereka ingin segera memakamkan pak Sutomo, kasihan kata ayah agar arwahnya tidak bergentayangan lagi.
Sebelum pergi menuju rumah pak Sutomo, aku meminta pak sopir untuk pergi ke swalayan terlebih dahulu, karena aku ingin membeli makanan dan juga camilan untuk Doni.
Anak itu pasti akan senang pikirku, jika dibelikan mainan juga makanan khas anak kecil. Makanan yang biasa mereka nikmati.
Selesai berbelanja, aku langsung meminta pak sopir untuk langsung pergi ke kediaman pak Sutomo, karena aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anak dan istri dari pak Sutomo.
Ternyata hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja untuk melakukan perjalanan menuju rumah pak Sutomo, rumah yang ditinggali berdua saja oleh anak dan istrinya.
Saat pak sopir memberhentikan mobil yang aku tumpangi, aku merasa tertegun saat melihat rumah itu benar-benar sama dengan yang ada di dalam mimpiku.
Rumah sederhana tapi terlihat begitu asri, karena di depan rumahnya terlihat banyak tanaman hias. dia Ada juga kolam kecil yang terisi ikan-ikan kecil.
"Tunggulah sebentar, Pak. Aku akan masuk ke dalam," ucapku.
"Iya, Nona," jawab Pak sopir.
Setelah berpamitan kepada pak sopir akhirnya aku pun melangkahkan kakiku menuju rumah sederhana tersebut, kuketuk pintunya dengan perlahan dan tidak lama kemudian seorang wanita yang terlihat lebih muda usianya dari bunda nampak keluar bersama dengan anak laki-lakinya.
__ADS_1
Aku sangat yakin jika itu Doni, karena wajahnya sangat mirip dengan yang ada di dalam mimpiku.
"Maaf, Nona siapa ya?" tanya wanita itu.
"Eh? Saya anaknya tuan Diandra, bolehkah saya masuk? Karena ada yang ingin saya sampaikan," ucapku.
Mendengar nama ayahku disebutkan, wanita tersebut nampak membungkukkan badannya. Dia terlihat seperti tidak enak hati kepada diriku.
"Maaf, Nona. Maaf karena saya tidak mengenali putri dari tuan Diandra, silakan masuk," ucapnya dengan sangat sopan.
"Terima kasih," ucapku.
Kini kami duduk di ruang tamu, Doni terlihat duduk di samping bundanya dengan anteng. Aku bener-bener bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
Aku hanya diam dan menunduk seraya meremat kedua tanganku secara bergantian, bibirku benar-benar kelu untuk mengatakan jika pal Sutomo sudah tiada.
"Loh, Nona kok diam saja? Sebenarnya ada apa?" tanya wanita itu.
"Maaf, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan. Tapi saya mohon anda jangan bersedih," ucapku.
Wanita itu nampak menganggukan kepalanya tanda setuju, dia sepertinya sangat penasaran dengan apa yang ingin kukatakan.
Saat aku ingin berucap, aku melihat ada pak Sutomo yang berada di belakang istrinya dan juga Doni, hatiku merasa sangat perih melihat akan hal itu.
Aku benar-benar sedih, aku tahu pasti jika pak Sutomo begitu merindukan anak dan istrinya. Dia terlihat ingin memeluk kedua orang yang sangat dia cinta itu, sayangnya tangannya seakan tak bisa menggapai.
Tanpa terasa air mataku luruh begitu saja, melihat akan hal itu istri pak Sutomo terlihat kebingungan. Bahkan, dia menghampiriku dan mengelus lembut punggungku.
"Ada apa? Kenapa Nona malah menangis? Sebenarnya ada apa? Tolong jelaskan, jangan membuatku bingung," kata Istri Pak Sutomo.
Mendengar pertanyaan dari istri pak Sutomo, aku langsung memeluknya dengan erat. walaupun tidak tega tapi aku harus mengatakannya.
"Maaf, Nyonya. Aku datang membawa kabar yang tidak baik, aku hanya ingin menyampaikan jika suami anda--"
***
selamat siang Bestie, selamat beraktifitas. Dua bab sudah meluncur, jangan lupa like dan kommentnya, terima kasih.
__ADS_1