Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Kecupan Lagi


__ADS_3

"Kalau gue yang suka?" tanya Mario.


"Ya ampun, sekarang mending bantuin gue. Urusin masalah perut dulu," kata Naura.


"Yes, Baby!" kata Mario.


"Jangan lebay! Gue bukan bayi," kata Naura.


"Iya, Sahabat gue yang sebentar lagi bakalan jadi teman hidup," kata Mario.


Aku tertawa mendengar apa yang Mario katakan, aku tahu dia sangat menyukai Naura. Akan tetapi, melihat Alex yang terdiam saja, aku malah tergugah untuk menghampiri Alex dan mulai membuka suara.


"Elu kok malah diem aja? Yakin ngga mau bantuin gue?" tanya aku seraya melirik ke arah Mario dan Naura yang terlihat begitu mesra.


"Ngga mau ah, abisan elu u ngga mau nerima cinta gue. Gue kesel sama elu," kata Alex merajuk.


Aku tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Alex saat ini, Alex bersikap seolah-olah dia merupakan anak kecil yang tidak diberikan mainan yang dia mau.


Padahal, biasanya Alex tidak pernah bersikap seperti itu. Dia selalu terlihat lebih kalem dan tidak banyak bicara.


"Ya sudah kalo elu ngga mau bantu, gue mau ngiris baso sama sosisnya," kataku.


"Gue yang motong sayuran aja," kata Naura.


"Terus gue ngapain dong?" tanya Mario.


"Ya sudah, biar elu duduk aja sono sama Alex. Biar perempuan yang masak, elu berdua tunggu aja. Nanti kalau mienya sudah mateng kita makan rame-rame di ruang makan," kata Naura.


"Iya deh, calon istriku ini memang sangat pengertian. Kalau begitu gua tunggu di ruang makan aja ya," kata Mario.

__ADS_1


"Iya!" jawab Naura ketus.


"Ayo Lex, calon Imam ngga boleh terlalu lama di dapur," ajak Mario kepada Alex.


Sesudah mengatakan hal itu, aku melihat Alex dan juga Mario masuk ke dalam ruang makan. Sedangkan aku berkutat di dapur bersama dengan Naura, aku merasa senang karena bisa melakukan kegiatan bersama dengan temanku Naura.


Walaupun di dalam hati aku merasa tidak enak kepada Alex, aku bingung harus mengatakan apa. Jika aku mengatakan aku bersedia untuk menjadi kekasihnya, aku takut jika persahabatan kami akan hancur begitu saja.


Lima belas menit kemudian, mie yang aku dan Naura masak sudah matang. Aku langsung mengangkat mie tersebut bersama dengan Naura dan membawanya ke ruang makan.


Saat tiba di ruang makan, aku melihat Alex dan juga Mario yang terlihat sedang terlibat obrolan serius. Saat aku datang bersama dengan Naura, mereka langsung terdiam. Entah apa yang mereka obrolan, aku tidak tahu.


"Kenapa elu berdua serius banget sih ngobrolnya? ngomongin apaan sih?" tanyaku.


"Ngga ngomongin apa-apaan, cuma masalah laki aja. Udah yuk, makan mie aja. Gue laper," kata Alex seraya mengambil mie dari tanganku.


"Okeh," kataku sok tidak peduli. Padahal dalam hati aku sangat penasaran.


Alex terlihat menyodorkan satu sendok mie ke arah mulutku, awalnya aku tidak mau. Akan tetapi dia tetap memaksa, agar dia tidak marah aku pun menurutinya.


"Cie cie, yang udah cinta banget ngga bisa dipisahin," ledek Mario.


Alex hanya melirik ke arah Mario, kemudian dia tersenyum dan kembali menyuapiku. Aku hanya tersenyum melihat keanehan yang terjadi terhadap sahabatku itu, aneh karena bisa bersikap manis.


Hampir setengah jam kami berkumpul di ruang makan untuk makan mie tersebut, tentu saja makan mie saja bisa lama, karena kami sambil mengobrol dan tertawa bersama.


"Oh iya, kalian gak balik sekarang? Ini udah mau maghrib loh!" kataku.


Walaupun jarak rumah kami memang sangat dekat, tapi tetap saja aku tidak enak hati kalau mereka tidak juga pulang. Takutnya kedua orang tua dari teman-temanku ini akan melayangkan protesnya.

__ADS_1


Walaupun aku tahu, sedari dulu mereka sangat paham jika teman-temanku itu memang lebih sering berkumpul di tempatku.


"Seharusnya sih gue pulang sekarang, tapi rasanya masih rindu sama elu. Gue masih pengen lihat wajah elu," kata Alex.


Ya Tuhan, aku benar-benar merasa kaget dengan apa yang Alex katakan kepadaku. Sejak kapan dia bisa merayu wanita seperti itu? Dan korban rauan pertama dia adalah aku.


"Elu lebay, sejak kapan sih jadi lebay kaya gini? Udah ah, mendingan elu pulang aja. Gue bosan jadinya di gombalin begini sama elu," kataku. Dalam hati ada rasa senang dengan apa yang Alex katakan, tapi aku tida mengaku.


Alex tersenyum kaku karena ternyata rayuannya mungkin dirasa tidak mempan terhadapku, aku jadi merasa kasihan padanya.


"Sudah-sudah, mending kita pulang dulu. Nanti habis isya kita balik lagi, kita gangguin tuh si Jonathan yang mau namu kemari," kata Naura.


"Ya ampun, elu tega banget ngomong begitu. Tapi, gue setuju," kata Mario.


"Gue lebih setuju lagi, sekalian kita kerjain dia tuh, biar gak usah ke mari-mari lagi," kata Alex.


"Dih kalian jahat bener," kata aku.


"Biarin, yang penting dia ngga bisa nikahin elu. Karena elu adalah calon istri gue di masa depan," kata Alex dengan percaya diri.


Aku tidak berani menertawakannya, karena saat Alex mengatakan hal itu, aku bisa melihat dari sorot matanya jika dia mengatakannya dari hati yang paling dalam.


"Nes!" panggil Alex.


"Hem!" jawabku.


"Gue balik!" kata Alex, Alex menghampiriku lalu dia mengecup pipiku dan berlari dengan cepat.


"Dasar Alex sialan!" umpatku.

__ADS_1


***


Bab ketiga, sesuatu yang ewow bisa up tiga bab. Selamat hari libur, selamat beristirahat.


__ADS_2