Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Menuntaskan Misi Kedua


__ADS_3

POV Author.


Ibu Dewi terlihat begitu kaget saat melihat kemarahan di mata tuan Dirgantara, selama ini suaminya tersebut selalu bersifat lembut terhadap dirinya.


Namun, dia tidak menyangka jika saat ini bahkan tuan Dirgantara bukan hanya membentak dirinya. Namun dia juga mengancam akan membunuh dirinya.


Sungguh dia tidak menyangka akan hal itu, dengan tubuh bergetar dia membuka koper yang kini berada di hadapannya. Saat koper itu terbuka, terlihatlah tulang-belulang milik Wira ada di sana.


Tubuh tuan Dirgantara ambruk ke lantai, dia langsung memegang tulang belulang itu dengan tubuh bergetar.


Bahkan air matanya luruh begitu saja, tuan Dirgantara begitu yakin jika itu adalah jasad putranya. Karena melihat sisa-sisa kain yang berada di sana, dia juga melihat jam tangan yang ada di dalam koper tersebut.


"Sialan! Perempuan sialan! Selama ini aku tulus mencintaimu, aku tulus menyayangimu. Bahkan semua yang kau minta pun aku berikan, tapi dengan teganya kamu malah membunuh anakku," kata Tuan Dirgantara dengan amarah yang memuncak.


Ibu Dewi hanya tertunduk, dia ketakutan. Air matanya mengucur deras, keringatnya pun membasahi seluruh tubuhnya. Dia begitu takut saat melihat suaminya.


Tuan Dirgantara terlihat bangun, dia seperti hendak menendang Ibu Dewi. Namun, dengan cepat Alex dan juga Mario menahan pergerakan dari tuan Dirgantara.


"Anda harus berpikir jernih, Tuan. Jangan biarkan emosi melanda dan menguasai, ingat! Lebih baik melaporkan istri anda ke polisi, jangan pernah mengotori tangan anda. Wira pasti tidak akan suka," kata Alex.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, tuan Dirgantara nampak menghela napas panjang. Kemudian, dia mengeluarkannya dengan perlahan.


Dia bahkan terlihat mengelus dadanya beberapa kali, benar apa yang dikatakan oleh Alex, dia tidak boleh bertindak gegabah.


Kalau dia sampai melakukan kesalahan, maka yang ada dialah yang akan masuk ke dalam penjara. Dia tidak tidak boleh salah langkah.


Tuan Dirgantara sekuat tenaga menahan emosinya, dia mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku tangannya terlihat memutih.


Dia bahkan menatap Ibu Dewi dengan tatapan tajamnya, rasa cinta yang selama ini dia rasakan berubah menjadi rasa benci.


Selama ini Ibu Dewi selalu berkata jika Wira selalu berbuat kejam terhadap dirinya, Wira selalu saja melawan terhadapnya.


Bahkan dia berkata jika Wira seenaknya pergi dari rumah tanpa berpamitan. Namun, apa ini? Sungguh ini adalah kenyataan yang sangat menyakitkan.


Saat mengetahui jika putranya ternyata menjadi korban pembunuhan dari istri keduanya, rasa sesak langsung menyeruak di dalam dadanya.


Karena saat dia hendak menikah dengan Ibu Dewi, Wira sempat mengatakan jika dirinya tidak menyetujuinya.

__ADS_1


Namun, dia berusaha untuk merayu Wira agar mau menerima Ibu Dewi sebagai Ibu sambungnya. Tuan Dirgantara benar-benar tidak menyangka, jika putra semata wayangnya akan meninggal di tangan istri keduanya.


"Katakan Dewi, kenapa kamu membunuh putra aku?" tanya Tuan Dirgantara.


Ibu Dewi terlihat ketakutan, dia tidak menjawab. Dia terlihat tertunduk dalam. Bibirnya sekolah terkunci rapat, bahkan untuk menatap wajah suaminya pun dia tidak berani.


"Jawab Dewi! Jangan hanya diam saja, kenapa kamu membunuh putraku?" tanya Tuan Dirgantara.


Ibu Dewi yang terus-menerus mendapatkan pertanyaan dari tuan Dirgantara, nampak mendongakkan kepalanya.


Dia terlihat berusaha untuk menatap wajah dari suaminya tersebut, dia berusaha untuk menjelaskan walaupun terasa percuma.


"Maaf, aku hanya takut jika nanti anak yang aku lahirkan tidak akan mendapatkan warisan. Karena kamu terlihat begitu menyayangi putramu itu," kata Ibu Dewi dengan suara lemah.


Tuan Dirgantara nampak sangat marah mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Dewi, dia menunduk dan kembali mencengkeram leher bu Dewi.


Bu Dewi bahkan sampai sesak napas, tapi dia berusaha untuk tetap menatap wajah suaminya itu.


"Bukankah sudah ku katakan kepadamu, Dewi. Jika aku menikahimu, itu artinya aku akan menyayangimu dan anak yang kamu lahirkan. Tentu saja aku akan menjamin kehidupanmu dan juga anak-anak yang nantinya kamu lahirkan, lalu apa ini? Kenapa kamu begitu tega Dewi?" tanya Tuan Dirgantara seraya menghentak tubuh Ibu Dewi.


Tubuh Ibu Dewi langsung terhuyung ke belakang, dia bahkan sampai tersungkur ke lantai. Naura yang melihat akan hal itu berusaha untuk membangunkan Ibu Dewi.


"Sudahlah, Om. Sekarang lebih baik kita segera makamkan jenazah Wira, kasihan dia," kata Alex.


"Iya, kamu benar. Tapi, sebelum itu aku akan menelpon polisi untuk menangkap wanita itu," kata Tuan Dirgantara seraya menunjuk ke arah Ibu Dewi.


Ibu Dewi terlihat menggelengkan kepalanya, dia terlihat mengiba. Namun, tuan Dirgantara seakan tidak merasa kasihan sama sekali.


"Nanti kalau misalkan ada polisi yang meminta kalian sebagai saksi, apakah kalian mau?" tanya Tuan Dirgantara.


"Tentu saja kami mau," jawab Aneska.


"Syukurlah, kalian memang sangat baik. Terima kasih sudah membantu diriku dan juga Wira di mana Wira sekarang?" tanya Tuan Dirgantara seraya menatap wajah Aneska dengan lekat.


"Dia sedang tersenyum tidak jauh dari samping anda, Om," kata Aneska.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, tuan Dirgantara benar-benar merasa sangat sedih karena dia tidak bisa memeluk putranya lagi.

__ADS_1


Bahkan tidak hanya itu, tuan Dirgantara juga tidak bisa melihat sosok putranya lagi. Sungguh dia menyesal sudah menikahi wanita cantik tapi hatinya busuk seperti Ibu Dewi.


Benar saja apa yang dikatakan oleh tuan Dirgantara, dia langsung menelepon polisi dan meminta mereka untuk memenjarakan istri keduanya tersebut.


Walaupun Ibu Dewi terlihat meronta, mengiba, bahkan menangis, tetap saja tuan Dirgantara tidak merasa Iba.


Apalagi saat membayangkan betapa kasarnya dia membunuh anaknya, sungguh dia merasa sakit hati. Tuan Dirgantara beserta Aneska dan ketiga sahabatnya juga ikut ke kantor polisi, karena harus dimintai keterangan.


Setelah diperbolehkan untuk pulang, tuan Dirgantara nampak pulang ke rumah mewahnya. Sedangkan Aneska dan ketiga sahabatnya langsung pulang ke Villa.


Tiba di Villa, ayah dan bundanya Aneska langsung menanyakan tentang apa yang terjadi karena mereka pulang sampai hampir larut malam.


Walaupun tuan Dirgantara sudah menjelaskan apa yang terjadi, tetap saja mereka masih merasa penasaran.


Aneska, Mario, Alex dan juga Naura terlihat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, semua yang mereka lakukan memang sudah mereka rencanakan.


Dari kejadian itu, ayah dan bunda dari Aneska pun jadi mengetahui jika kini Aneska bisa melihat makhluk tak kasat mata.


"Setahu Bunda kamu itu orangnya penakut banget loh, memangnya kamu berani?" tanya Bunda Aneska.


"Awalnya memang Anes merasa takut, Bun. Tapi Anes merasa kasihan jika mengabaikan bisikan dari mereka," jawab Aneska.


Ayahanda Aneska terlihat menghampirinya, lalu menarik lembut putrinya ke dalam pelukannya. Dia mengelus lembut punggung putrinya dengan penuh kasih.


"Ayah bangga sama kamu, tapi ingat, Nak. Kamu harus selalu berhati-hati," kata Ayah Aneska.


"Ya, Ayah," jawab Aneska.


Ayah Aneska terlihat menatap Mario, Alex dan juga Naura. Kemudian dia tersenyum dan berkata.


"Terima kasih, karena kalian sudah menjadi sahabat terbaik untuk Aneska," kata Ayah Aneska.


"Ya, Om. Sama-sama," jawab mereka secara bersamaan.


Saat Anesta sedang memeluk ayahnya, dia melihat Wira yang tersenyum kepada dirinya. Tidak lama kemudian, Wira terlihat menghilang di balik tembok searaya melambaikan tangannya.


Aneska merasa senang, karena dia bisa menuntaskan misinya kali ini. Menolong Wira walaupun terasa berat.

__ADS_1


****


Masih berlanjut


__ADS_2