
Aku benar-benar merasa kesal karena akhir-akhir ini Alex sangat posesif, bahkan dia sudah berani mengecup pipiku di depan kedua sahabatku. Entah kenapa Alex bisa seberani ini, aku pun tidak tahu.
Aku menghela napas sepenuh dada, kemudian aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamarku dan merebahkan tubuhku.
Sebentar lagi waktu maghrib akan tiba, aku ingin memanfaatkan waktu ini untuk beristirahat sebentar. Kupejamkan mata Ini untuk sesaat.
Sialnya malah wajah Alex yang sedang tersenyum manis kepadaku, aku langsung membuka mataku seraya berdecak sebal.
"Haish! Alex nyebelin, satu hal lagi yang bikin aku sebel. Jonathan! Ya Tuhan, Sebentar lagi Jonathan akan datang ke rumah bersama dengan ayahnya. Aku harus bagaimana?" keluhku.
Entah kenapa aku merasa tidak suka saat berdekatan dengan Jonathan, apalagi cara Jonathan yang sepertinya ingin mendominasi jika sedang berbicara.
Berbeda dengan saat aku berdekatan dengan Alex, walaupun aku merasa kesal tapi hanya di mulut saja, tidak sampai ke hati.
Kembali ke hela napas sepenuh dada, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Setelah itu aku berusaha memejamkan mataku dan berusaha untuk mengusir semua pikiran yang menggangguku.
***
"Bu, ayah kemana? Kenapa tidak pulang-pulang? Doni kangen," kata seorang pria remaja sekitar usia enam belas tahun.
Wanita cantik yang sepertinya lebih muda dari bunda, yang berada didekat anak remaja itu terlihat bersedih. Dia terlihat memeluk putranya dan mengelus lembut puncak kepala putranya.
"Ibu juga tidak tahu, yang Ibu dengar bapak terlibat kasus di kantor cabang. Terus katanya bapak kabur, tapi Ibu ngga yakin. Ibu malah merasa kalau bapak berada di suatu tempat yang jauh," kata wanita itu.
"Bapak orang baik, Doni ngga percaya kalau bapak kaya gitu," kata Doni.
"Ibu juga, semoga bapak dalam keadaan baik-baik saja. Semoga firasat Ibu salah," kata wanita itu.
__ADS_1
"Ya, semoga bapak cepat pulang. Doni rindu," kata Doni.
Aku merasa terharu melihat kedekatan ibu dan anak tersebut, mereka begitu akrab. Namun, aku juga merasa sedih karena mereka sedang membicarakan tentang kehilangan.
Tunggu dulu, sebenarnya aku berada di mana? Kenapa aku malah berada di sebuah rumah yang sederhana? Bukankah tadi aku sedang tiduran di dalam kamar? Oh Tuhan, di mana lagi aku sekarang? Kenapa suasananya terasa mengharu biru seperti ini?
Aku mencoba mengedarkan pandanganku, mencoba mencari tahu sedang berada di mana aku saat ini. Siapa tahu ada sebuah petunjuk untukku.
Tidak lama kenudian, aku melihat di sebuah dinding ruangan tersebut ada foto keluarga yang terpajang. Terlihat ada seorang pria yang sedang merangkul Doni beserta dengan Ibunya, sudah dapat dipastikan jika itu adalah ayah yang sedang dibicarakan oleh Doni kepada ibunya.
Usia pria itu terlihat lebih muda dari ayah, tapi satu hal yang membuat aku merasa penasaran. Sepertinya aku pernah melihat pria tersebut, tapi di mana aku lupa.
Entahlah, aku tidak tahu atau mungkin lupa atau mungkin aku sudah terlalu lama tidak bertemu dengan orang tersebut, makanya aku sampai melupakannya.
"Oh, ya ampun. Sebenranya aku di mana?" keluhku karena aku merasa tidak familiar dengan tempat yang sekarang aku singgahi.
Saat aku sedang asyik memperhatikan kedua orang yang berada di hadapanku, tiba-tiba saja aku melihat sosok pocong yang beberapa hari yang lalu menghampiriku dan meminta tolong kepadaku.
Pocong itu terlihat menangis melihat Doni dan ibunya berpelukan, dia seperti ingin sekali ikut berpelukan dengan mereka. Namun, dia tidak bisa.
Dia hanya bisa menangis dan memperhatikan interaksi antara Doni bersama dengan ibunya, aku menjadi berpikir, mungkin ini adalah suasana di rumah pocong tersebut.
Tidak lama kemudian, aku melihat pocong tersebut tersenyum ke arahku dengan air mata yang terus merembes dari kedua bola matanya.
"Mereka berdua adalah orang yang sangat aku cintai, istri dan juga anakku. Aku ingin sekali memeluk mereka, sayangnya tidak bisa. Aku ingin sekali berkata jika aku sudah tiada, sayangnya tidak bisa."
Terdengar suara yang begitu nyata di telingaku, walaupun pocong itu terdiam tapi suaranya begitu jelas di telingaku.
__ADS_1
Aku benar-benar merasa penasaran dengan sosok pocong tersebut, aku ingin bertanya tentang dirinya dan juga kedua orang yang disayanginya itu.
"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu meminta tolong kepadaku?" tanya aku.
"Aku adalah anak buah dari ayahmu, aku yang ditugaskan oleh ayahmu untuk mengurus kantor cabang sebagai kepala gudang," kata pocong tersebut.
Ya Tuhan, aku semakin bingung dibuatnya. Kenapa semua masalah ini terasa berputar-putar?
Aku terasa sedang berjalan di dalam labirin yang susah untuk ditemukan ke mana arah yang harus aku tuju.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku untuk menolongmu?" tanyaku kepada pocong itu.
"Kamu bisa memulainya dari sekarang, kumohon bangunlah dan segera temui Jonathan bersama dengan ayahnya," kata pocong itu lagi.
Mataku langsung memicing mendengar apa yang dikatakan oleh pocong tersebut, apakah tidak salah dengan apa yang dia minta?
Kenapa dia meminta aku untuk menemui Jonathan dengan ayahnya? Apakah ada hubungannya dengan mereka berdua atau bagaimana?
Oh ya Tuhan, aku semakin bingung dibuatnya. Aku ingin sekali bertanya kembali kepada pocong tersebut, sayangnya aku malah melihat pocong dan Doni beserta ibunya tersebut menghilang dari pandangan.
Aku hanya mendengar suara bunda yang terdengar memanggil-manggil namaku, bahkan aku merasakan jika bunda sedang mengelus-elus puncak kepalaku.
"Bangun, Sayang. Mau maghrib kok tidur? Sudah adzan loh!" kata Bunda.
***
Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. Jangan lupa tinggalkan jejak, Love kalian semua.
__ADS_1