
Aneska terlihat begitu ketakutan, dia terus saja memeluk bundanya seraya menyembunyikan wajahnya di pelukan bundanya tersebut.
Bunda Aneska dengan sabar mengelusi punggung Aneska dengan lembut, ayah juga sesekali mengelusi puncak kepala Aneska agar lebih tenang.
Tidak lama kemudian, terdengar dengkuran halus dari bibir Aneska. Ayah dan bunda saling pandang, kemudian mereka menghela napas panjang.
"Kayaknya Anes tidur, Bun," kata Ayah.
"Hem, sepertinya dia sangat ketakutan sampai ketiduran," kata Bunda.
"Kasihan anak kita, Bun. Dia selalu melihat hal ghaib yang membuat dia takut," kata Ayah.
"Sebenarnya ini anugerah, tapi anak kita belum bisa ikhlas. Makanya terasa jadi beban," kata Bunda.
"Bunda benar, kita bawa Anes ke kamar kita saja. Kita tidur bersama, sudah sangat lama kita tidak tidur sambil meluk guling cantik kita ini," kata Ayah seraya terkekeh.
Sebenarnya hati ayah sangat gundah, karena melihat Aneka yang selalu terlihat ketakutan. Hanya saja dia berusaha untuk tersenyum, agar mengurangi rasa gundah di dalam hatinya.
"Okeh, kalau begitu Ayah gendong putri Ayah yang sudah sangat besar ini. Terus, jangan aneh-aneh. Ada Anes," kata Bunda mengingatkan.
"Siap, Sayang. Ayah masih bisa tahan kalau cuma satu malam," kata Ayah yang langsung dapat cubitan di lengannya.
"Jangan bicara aneh-aneh, nanti Anes dengar," kata Bunda.
"Maaf, Sayang," kata Ayah seraya mengelusi lengannya yang terasa panas akibat cubitan bunda.
Ayah langsung bangun dan mengangkat tubuh Aneska, lalu dia membawa Aneska ke dalam kamar mereka.
Ayah sengaja membawa Aneska untuk tidur di dalam kamarnya, karena ranjang miliknya memang berukuran besar, tidak seperti milik Aneska.
"Anes pulas sekali, Bun. Sampai ngga inget Ayah boboin di kamar kita," kata Ayah.
"He'em, sebaiknya kita tidur saja. Besok kita of, kita ajak Anes jalan-jalan sebelum lusa putri kita masuk kuliah," usul Bunda.
"Ayah setuju, lagi pula Ayah masih cape ngurusin masalah yang kemarin, Bun. Semoga saja yang menyelundupkan uang di kantor cabang bisa segera tertangkap," kata Ayah.
"Aamiin, Bunda ngerasa aneh juga sih, Yah. Kenapa bisa kecolongan seperti itu? Kenapa bisa orang seperti pak Soetomo menyelundupkan uang di kantor cabang?" tanya Bunda.
__ADS_1
"Maksud Bunda gimana? Ayah ngga paham," kata Ayah.
"Sepertinya pelakunya bukan pak Soetomo, mana mungkin orang kecil seperti dia bisa menyelundupkan uang sebesar itu. Udah gitu dia malah seperti menghilang bak ditelan bumi, pelakunya itu kaya yang udah ahli banget, Yah," jelas Bunda.
Ayah nampak terdiam, dia seperti sedang mencerna apa yang dikatakan oleh bunda. Dia juga berpikir seperti itu, tapi dia tidak mempunyai bukti untuk mengarahkan kesalahan tersebut kepada orang lain.
Memang benar penyelundupan uang ini tertutup dan terlihat sangat rapi, hal itu membuat pihak kepolisian pun begitu susah untuk mengungkap masalah ini.
Pada akhirnya semua bukti tertuju kepada pak Soetomo, seorang karyawan biasa yang hanya bekerja sebagai seorang kepala gudang.
"Coba Ayah pikir baik-baik, ngga akan mungkin seorang kepala gudang seperti pak Soetomo bisa menyelundupkan uang dengan mudah. Apalagi dia tidak bisa mengakses keuangan di dalam kantor cabang," jelas Bunda lagi.
"Ayah setuju, lusa kita coba telusuri mulai dari kantor pusat. Sekarang kita tidur dulu, besok waktunya kita senengin putri kita. Bebasin pikiran kita dulu, Bun," usul Ayah.
"Oke," jawab Bunda.
Setelah mengatakan hal itu, bunda terlihat merebahkan tubuhnya di samping kanan Aneska, tanpa bunda duga ayah malah merebahkan tubuhnya di samping bunda dan memeluk bunda dari belakang.
Bahkan tangan ayah dengan nakalnya meremat dua buah dada bunda yang terasa sangat sekal dan juga kenyal.
Sontak bunda langsung memukul tangan ayah yang melingkar indah di perutnya, dia juga langsung membalikkan tubuhnya dan memelototi ayah.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bunda, ayah terlihat memberenggut. Dia tidak suka dengan apa yang istrinya tersebut katakan.
"Iya, Ayah pindah." Ayah berkata dengan berat hati.
Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh ayah, sedangkan ayah terlihat turun dan merebahkan tubuhnya di samping kiri Aneska.
***
Pagi telah menjelang, Aneska terlihat menggeliatkan tubuhnya. Namun, dia begitu sulit untuk bergerak. Badannya terasa ditindih oleh benda yang sangat besar.
Dia yang merasa bingung dengan cepat membuka matanya, saat matanya terbuka dengan sempurna dia melihat ada tangan yang melingkar di perutnya.
Dia juga melihat ada kaki yang menindih kakinya, kakinya terlihat besar dan berbulu. Aneska yang kaget langsung menjerit seraya memejamkan matanya dengan kuat.
"Aaaaaakh!"
__ADS_1
Mendengar jeritan dari Aneska, sontak ayah dan bunda yang sedang tertidur langsung bangun karena kaget, mereka langsung mengucek matanya.
"Ya Tuhan, Anes. Ada apa, Sayang?" tanya Bunda.
"Kamu ngagetin Ayah saja, ada apa sih?" tanya Ayah dengan mata yang memicing karena masih merasa mengantuk.
"Astagfirullah, Ayah! Bunda! Aku kira ada di mana, tadi aku kaget pas bangun tidur ada kaki yang nindihin kaki aku. Tahunya kaki Ayah," kata Aneska seraya memandang kaki ayahnya.
Selama ini Aneska selalu melihat ayahnya memakai celana panjang, tapi kali ini dia memakai celana pendek setengah paha.
Celananya terlihat menyingkap sampai pangkal paha ayahnya terlihat, bahkan Aneska juga bisa melihat gundukan milik ayahnya.
Menyadari ke arah mana Aneska memandang, sang ayah langsung turun dari ranjang dan berlari ke arah kamar mandi.
"Ehm, Bun. Kenapa aku tidur di kamar kalian?" tanya Aneska gugup.
"Tadi malam kamu ketakutan, jadinya ayah memutuskan untuk mengajak kamu bobo di kamar kami," jawab Bunda
"Oh, kalau gitu Anes ke kamar dulu, sudah subuh juga. Anes mau subuh di kamar saja," kata Anes.
"Iya, Sayang. Bunda juga mau mandi, terus shalat subuh. Oiya, Sayang. Hari ini ayah sama Bunda libur kerja, kita habisin waktu buat jalan-jalan," kata Bunda.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bunda, Aneska terlihat begitu senang. Dia bahkan langsung melompat dan memeluk tubuh bundanya tersebut.
"Terima kasih, akhirnya Bunda sama Ayah ada waktu buat aku," kata Aneska senang.
Ada rasa senang di hati bunda kala mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, tapi ada rasa sedih ketika mendengar hal itu. Itu tandanya Aneska benar-benar merasakan kurang kasih sayang dari dirinya.
Ayah dan bunda memang mengakui jika mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, mereka terlalu memikirkan pundi-pundi rupiah yang harus terkumpul agar masa depan Aneska lebih baik lagi.
"Maafkan Bunda sama Ayah ya, Sayang," ucap Bunda penuh sesal.
Aneska langsung melarai pelukannya, kemudian dia menatap wajah bundanya dengan lekat.
"Maaf, Bunda. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Bunda sama Ayah, aku hanya mengungkapkan rasa senang di hatiku saja," katak Aneska.
"Tidak apa-apa, Bunda paham, Sayang. Bunda memang kurang meluangkan waktu untuk kamu, padahal anak Bunda hanya kamu saja," kata Bunda.
__ADS_1
***
Selamat siang Bestie, jangan lupa like dan komentnya, ya. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, sayang kalian selalu.