Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Kecupan Tidak Terduga


__ADS_3

Semalam suntuk aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena di dalam ingatanku terus saja terbayang pocong yang terlihat mengerikan itu.


Namun, yang membuat aku teringat akan pocong itu bukan lagi rasa takut. Akan tetapi, rasa penasaran yang teramat tinggi.


Mungkin karena aku sudah beberapa kali melihat pocong tersebut, mungkin juga karena aku sudah mulai terbiasa melihat hal seperti itu.


Hal-hal ghaib yang terasa tidak masuk akal, tapi mereka benar-benar ada. Mereka terlihat nyata untuk manusia seperti diriku yang mampu melihat wujudnya.


Bahkan aku bisa melihat ekspresi wajah dari mereka, aku bisa merasakan kemarahan dan kesedihan dari mereka.


Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus, karena hari ini adalah hari pertama di mana aku akan menginjakkan kakiku di ruang kelas di sebuah fakultas yang begitu aku dan ketiga temanku inginkan.


Kami memang sengaja memilih universitas yang sama, kami juga memilih fakultas yang sama agar kami tidak terpisah satu dengan yang lainnya.


Mungkin kami terkesan lebay, tapi inilah kami yang selalu saja ingin bersama, yang selalu ingin saling menjaga.


"Wees! Putri Ayah sudah cantik aja, mau kemana, Neng?"


Ayah terdengar menggoda diriku saat aku masuk ke dalam ruang makan dan duduk tepat di samping bunda, aku langsung memberenggut kesal.


Bibirku, aku majukan dua centi, aku sengaja pura-pura merajuk kepada ayah. Padahal, dalam hati aku merasa sangat senang kala ayah memuji diriku cantik.


Hanya saja, aku merasa gengsi untuk mengakui akan hal itu. Bunda yang melihat ekspresi wajahku, langsung terkekeh. Kemudian, dia langsung merangkulku dan mengelus kedua pundakku dengan sangat lembut.


"Ayah tuh suka nyebelin, Ayah suka godain aku. Aku sebel!" aduku sama Bunda seraya menatap sengit ke arah ayah.


Mendengar aku yang merajuk seperti anak kecil, bunda malah tertawa dengan lepas. Dia bahkan kini menepuk-menepuk punggungku, tapi tidak kencang.


"Ayah tidak bercanda, Sayang. Kamu benar-benar cantik, putri Ayah sama Bunda memang selalu cantik. Pintar lagi," puji Bunda.


Sontak aku langsung tersenyum malu-malu mendengar apa yang bunda katakan, aku akui ayah dan bunda memang jarang sekali meluangkan waktu untukku.


Namun, mereka selalu saja bisa bersikap manis dan juga lembut. Bahkan, seingatku aku tidak pernah dimarahi oleh ayah dan bunda, apalagi sampai mendapatkan pukulan.


Jika aku salah, maka ayah dan bunda akan menegurku secara baik-baik. Mereka selalu berusaha untuk mendidikku dengan cara yang halus.

__ADS_1


Aku benar-benar merasa bersyukur mempunyai ayah dan bunda seperti mereka, walaupun terkadang mereka begitu sibuk dan melupakan waktu hanya untuk sekedar makan bersama.


"Aku sayang kalian," ucapku pada akhirnya.


Aku mengungkapkan rasa sayangku dengan memeluk ayah dan bunda secara bergantian, kukecup pula pipi mereka secara bergantian. Aku benar-benar merasa bahagia mempunyai orang tua seperti mereka.


"Waah, sepertinya gue datang di saat yang tepat."


Aku mendengar suara yang begitu aku kenal, itu adalah suara Alex. Aku langsung melerai pelukanku dengan bunda dan juga ayah, aku juga langsung menolehkan wajahku ke arah pintu.


Ternyata, di sana sudah ada Alex, Mario dan juga Naura. Mereka terlihat sedang tersenyum ke arahku, aku langsung bangun dan merentangkan kedua tanganku.


"Gue mau dipeluk juga," kata Naura.


"Gue juga, masa elu doang," timpal Mario.


Berbeda dengan Alex, pria itu terlihat tersenyum tipis seraya memandangku penuh rindu. Aku tidak paham kenapa dia menatapku seperti itu.


Aku merasa sangat lebay, tapi aku memang selalu membutuhkan pelukan dari para sahabatku agar aku menjadi lebih semangat lagi. Lalu, mereka berlari dan langsung memelukku dengan sangat erat.


Namun, senyumku seketika memudar kala aku merasakan sebuh kecupan di pipiku. Ternyata pelakunya adalah Alex, dia terlihat menunduk dan mengecup pipiku tanpa terlihat oleh kedua temanku juga kedua orang tuaku.


Ck! Licik sekali dia, aku sangat kesal dan juga malu. Aku langsung memelototkan mataku, tapi Alex malah tersenyum tipis.


Aku jadi bertanya-tanya dalam hatiku, bukankah dia berkata untuk tidak akan mendekatiku sebagai kekasih jika aku merasa tidak nyaman. Lalu, apa ini? Apakah dia merubah keputusannya?


"Ayah sama Bunda sudah lapar, kenapa kalian lama sekali pelukannya?" tanya Bunda yang ternyata sudah mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Aku tersenyum lalu, melerai pelukanku.


Sebenarnya aku masih merasa sangat kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh Alex, bagaimana jika ada yang melihat apa yang dia lakukan terhadapku, pikirku.


Namun, Alex malah terlihat begitu santai. Bahkan dia tersenyum hangat ke arahku, lalu dia terlihat berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Ayo duduk, kita sarapan bareng. Biar lebih semangat kuliahnya," ucapku pada akhirnya.


Mendengar apa yang aku katakan, Naura terlihat bersemangat sekali bersama dengan Mario. Berbeda dengan Alex yang nampak biasa saja.

__ADS_1


"Sip! Akhirnya bisa sarapan dulu sebelum ngampus," kata Naura.


Aku merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Naura, bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Padahal, Ibunya begitu rajin menyiapkan sarapan untuk dirinya dalam setiap harinya.


"Lah, tumben. Bonyok elu kemana?" tanyaku penasaran.


Naura terlihat begitu santai mendengar pertanyaan dariku, dia itu memang terkadang seperti itu. Kadang cerewet, kadang nyebelin. Namun, kadang bikin aku merasa penasaran.


"Mereka pergi ke rumah oma gue, yang ada di kota C.


"Ngapain?" tanyaku kepo.


"Bagi-bagi warisanlah, pan opa gue udah dua bulan meninggal. Masa elu lupa?" kata Naura santai.


Gile bener tuh si Naura, ngga ada sedih-sedihnya. Padahal baru dua bulan ditinggal opanya, tapi terlihat biasa saja. Ngga ada gurat kesedihan di matanya.


"Sudah-sudah, makan dulu. Nanti ngobrolnya dilanjut lagi," kata Ayah.


"Ya, Ayah." Aku langsung nyengir kuda.


Kami pun pada akhirnya bisa sarapan dengan tenang, kami tidak berani berbicara apa pun jika ayah sudah berkata seperti itu.


Selesai sarapan, kami langsung berangkat ke kampus, aku sangat bersemangat karena ini adalah hari pertama kami ngampus.


Seperti biasanya, kami pergi dengan dengan menggunakan mobilku. Alex yang selalu jadi sopir untuk kami, Mario duduk di samping kemudi dan Aku dengan Naura duduk di bangku penumpang.


Sesekali aku melihat Alex yang melirik ke arahku melalui kaca tengah, tatapan kami sempat bertemu. Alex tersenyum tipis, tapi aku segera mengalihkan pandanganku.


Rasanya dia terlihat begitu menyebalkan, tapi aku merasa suka saat dia menatapku dengan tatapan penuh cinta seperti itu.


"Nes, elu kenapa? Kenapa dari tadi elu diem aja?" tanya Naura.


"Eh?" aku bingung harus beralasan seperti apa.


****

__ADS_1


Selamat malam Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, sayang kalian semua.


__ADS_2