Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Resah


__ADS_3

Aku merasa tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh Alex, dia berkata jika dirinya akan pergi. Benarkah itu?


Lalu, kenapa aku malah merasa sedih? Bukankah aku harusnya merasa senang? Karena pada akhirnya Alex tidak akan menggodaku lagi dengan kata cintanya itu.


Bukankah aku harus merasa senang karena akhirnya aku tidak perlu menjawab lagi pertanyaan yang beberapa hari ini dilontarkan oleh Alex?


Namun, kenyataannya seperti ada sesuatu yang hilang dari diriku. Entah apa aku tidak tahu, yang pasti hal yang terakhir Alex lakukan terhadapku membuat jantungku terasa berdebar dengan sangat kencang.


Apalagi saat dia menakutkan bibirnya lebih dalam lagi, aku merasa jika dia sedang mengutarakan isi hatinya terhadapku.


Dia sedang meluapkan rasa cintanya untukku yang terasa sangat tulus, walaupun terkesan kurang ajar karena tanpa seizinku dia langsung saja mengambil ciuman pertama aku.


Kuusap bibir ini rasa hangat dan manis masih sangat terasa, dia benar-benar kurang ajar. Teman yang berubah menjadi setan tampan, tapi sangat menggemaskan.


Setelah Alex benar-benar pergi, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Aku lihat di dalam ruang keluarga sudah sepi, hanya ada ayah dan juga bunda.


Aku langsung menghampiri bunda dan juga ayah, lalu aku duduk di antara keduanya. Aku mencoba untuk memeluk bunda dan berusaha untuk melepaskan rasa gundah di dalam pikiranku.


"Daddynya Alex sudah mengutus banyak orang kepercayaannya untuk penggerebekan nanti malam," kata Ayah.


Aku merasa senang saat mendengar ayah mengatakan hal itu, karena itu artinya Alex benar-benar bergerak dengan cepat untuk menyelesaikan masalah ini.


"Benarkah?" tanyaku dengan perasaan hambar.


Hatiku terasa hambar saat mendengar nama Alex diucapkan, dia akan pergi dan aku sudah merasa khawatir. Padahal dia mengatakan jika dia akan pergi besok siang.


Itu artinya masih ada kesempatan untuk aku mengucapkan kata perpisahan untuk dirinya, perpisahan? Benarkah kata perpisahan yang akan aku ucapan?


Apakah aku sanggup berpisah dengannya? Kenapa sih aku jadi galau seperti ini? Apakah mungkin aku juga mencintainya?


"Ya, kita akan tunggu hasilnya seperti apa. Sekarang sudah malam, tidurlah!" kata Bunda.


"Baiklah kalau begitu aku ke kamar dulu," ucapku tanpa berani mengatakan apa pun lagi.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu aku melerai pelukanku dengan bunda, lalu aku mengecup pipi ayah dan bunda secara bergantian.


"Selamat malam Ayah, selamat malam Bunda," ucapku


"Selamat malam juga, Sayang," kata Ayah.


Aku tersenyum lalu mulai melangkahkan kakiku menuju kamarku, tiba di dalam kamar aku langsung menghempeskan tubuhku ke atas tempat tidur.


"Lelah, sebaiknya aku cepat tidur," ucapku lirih


Aku berusaha untuk memejamkan mataku, berharap bisa cepat tidur agar bisa melupakan semua rasa yang berkecamuk di dalam dada.


Sesekali bayangan Alex terlintas di pikiranku, apalagi saat bibir kami bertemu. Terasa hangat dan juga basah, aku kesal dan juga marah. Namun, aku juga merasa... ah, sudahlah.


Saat aku sedang berusaha untuk memejamkan mataku, aku baru teringat jika bapak pocong meminta aku untuk menyampaikan semuanya kepada ayah.


"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa!" kataku seraya menepuk jidatku.


Aku segera turun dari tempat tidur dan segera kembali menemui ayah dan juga bunda yang masih berada di ruang keluarga, aku tersenyum lalu duduk kembali di antara keduanya.


"Aku lupa, Yah. Tadi bapak pocongnya datang lagi, katanya dia adalah bawahan Ayah yang bekerja di kantor cabang," ucapku menerangkan.


Ayah dan bunda terlihat saling padang kemudian mereka terlihat menautkan alisnya. Mungkin mereka merasa aneh dengan apa yang kukatakan.


"Maksudnya bagaimana, Bunda tidak paham?" tanya Bunda.


"Entahlah, aku bingung, Bun. Cuma bapak pocong itu bilang kalau dia sebelum dibunuh dibawa menuju kantor pusat yang sudah terbengkalai, kantor pusat itu sudah seperti gudang yang tidak terpakai. Kalau tidak salah aku melihat kantor pusat yang sudah terbengkalai itu berada di pinggiran kota di dekat sungai, entahlah di mana itu aku pun tidak mengerti."


Itu hanya sekilas yang aku lihat di dalam mimpiku, aku tidak paham di mana letaknya. Rasanya aku belum pernah ke sana, karena memang aku jarang pergi jauh.


"Apakah mungkin itu pak Sutomo, Yah?" Jadi pocong itu--"


Bunda terlihat menghentikan ucapannya, dia seolah tidak sanggup untuk mengatakan apa pun lagi. Dia terlihat risau, begitupun dengan ayah.

__ADS_1


"Kalau benar pak Sutomo, bagaimana?" tanya Bunda.


"Kasihan, Bun. Orang-orang sudah menganggap dia yang, ah... sudahlah," kata Ayah berusaha untuk menenangkan Bunda.


Ayah dan bunda malah terlihat kebingungan mendengar apa yang kukatakan, aku menghela napas berat kemudian aku berkata lagi.


"Kata bapak pocong itu, dia meminta aku untuk menemui istri dan juga anaknya yang bernama Doni. Dia meminta aku untuk menyampaikan jika bapak pocong tidak akan pulang lagi, karena dia sudah tiada," kataku.


"Beneran dia bilang begitu? Doni anaknya pak Sutomo loh Yah, Bunda masih ingat betul. Anak itu masih kecil, anak lelaki yang pernah pak Sutomo bawa ke kantor karna ingin melihat ayahnya bekerja," kata Bunda.


"Ah, ya benar. Ayah juga masih ingat," jawab Ayah.


"Satu lagi, Yah. Bapak pocong juga minta dikuburkan secara layak, walaupun hanya ada sisa tulang belulang yang berada di kantor terbengkalai itu," ucapku.


Wajah ayah dan bunda tiba-tiba saja berubah menjadi sedih, aku merasa tidak enak hati. Namun, ini adalah pesan yang harus aku sampaikan.


"Oiya, Yah. Pak pocong meminta aku untuk menyampaikan secara langsung hal ini kepada istri dan juga anaknya, mungkin akan lebih baik jika besok pagi-pagi sekali sebelum berangkat kuliah aku pergi dulu ke rumahnya," kataku.


"Anak dan istri pak Sutomo ada di kota ini, besok kamu mau pergi dianter sopir apa mau jalam sendiri?" tanya Ayah.


"Sendiri aja, Yah. Sekalian beli makanan buat Doni.


"Kalau begitu nanti Ayah kasih alamatnya," kata Ayah.


Setelah berbicara dengan ayah dan juga bunda, akhirnya aku memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamarku.


Aku marebahkan tubuhku yang terasa sangat lelah, pikiranku juga terasa sangat gundah dengan hatiku yang terasa gelisah.


Beberapa kali kucoba pejamkan mata ini, tapi tetap saja bayangan Alex yang selalu terlintas di pikiranku.


Apakah aku besok harus menyusulnya dan mengatakan jika Alex itu tidak boleh pergi, karena aku juga mencintainya.


Hah, rasanya itu semua sangat konyol. Aku terus saja berpikir tentang diriku dan juga Alex, sampai aku terlelap dan aku tidak tahu pukul berapa aku bisa tidur.

__ADS_1


***


Selamat siang Bestie, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezekinya, jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, sayang kalian semua.


__ADS_2