Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Bersyukur


__ADS_3

Aku, Jonathan, tuan Louis dan juga bunda menatap kearah ayah yang hanya diam saja. Kami sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh ayah, ayah terlihat menghela napas berat beberapa kali.


Dia benar-benar terlihat gugup, ayah hanya bisa menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.


Aku bingung dengan apa yang sebenarnya ingin ayah katakan, kenapa dia terlihat gelisah seperti Itu? Apakah mungkin ayah... ah, aku tidak boleh berburuk sangka.


Akan tetapi, aku merasa jika apa yang akan ayah katakan adalah hal yang tidak baik. Karena gelagat ayah benar-benar tidak seperti biasanya.


"Katakanlah ada apa Tuan Diandra? Sebenarnya apa yang terjadi saat ini? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah?" tanya Tuan Louis.


Kembali ayah terlihat menghela napas panjang, lalu dia mengeluarkannya dengan perlahan. Dia terlihat menegakkan tubuhnya, lalu dia pun mulai bersuara.


"Sebenarnya dulu aku dan tuan Edward pernah dekat, kami sering bertemu ketika waktu pulang sekolah tiba," jawab Ayah.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ayah, tuan Louis terlihat begitu kaget. Dia tidak menyangka jika ayah pernah dekat dengan tuan Edward, begitupun dengan aku, Jonathan dan juga bunda.


"Lalu, kalau memang kalian dulu pernah dekat, kenapa sekarang dia terlihat ingin menghancurkan perusahaanmu?" tanya Tuan Louis.


"Sepertinya dia marah kepadaku," kata Ayah seraya menunduk lesu.


Mendengar apa yang ayah katakan, kami benar-benar merasa tidak paham. Apalagi aku, aku benar-benar tidak mengerti.


Marah-marah seperti apa coba, kenapa mereka bisa marahan. Rasanya lucu saja ayah yang selalu terlihat kalem dan juga berwibawa, ternyata pernah marahan dengan orang yang kini bahkan berusaha untuk menghancurkan bisnis ayah.


Aku yang melihat ayah bercerita merasa tidak sabar, dia seolah mempermainkan emosi dalam jiwaku.


"Ih! Ayah kenapa ceritanya setengah-setengah sih, yang jelas dong kalau cerita! Aku kan, jadi penasaran!" celotehku yang merasa penasaran dengan apa yang ingin ayah katakan.


"Kami dulu beda sekolah, tapi akan pulang bersama karena sama-sama menggunakan sepeda. Suatu hari kami melihat gadis cantik yang terjatuh di pinggir jalan, kami berdua membantunya," cerita Ayah.


"Lalu?" tanya Bunda.


"Setelah menolong wanita itu, dia sempat berbicara jika dia akan melamar wanita itu jika sudah sukses nanti. Sayangnya saat dia datang dengan segudang kesuksesannya, wanita itu sudah menikah denganku," jawab Ayah.


Ya ampun, jadi ternyata ada dendam peribadi antara tuan Edward dan juga Ayah. Pantas saja tuan Edward marah, ternyata ayah telah menjadi suami dari wanita yang tuan Edward cintai.


"Ya Tuhan, jadi--"

__ADS_1


Bunda terlihat begitu syok dengan apa yang ayah ceritakan, bahkan bunda terlihat menutup bibirnya karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ayah.


"Iya, dia menyukai Bunda. Hanya saja dulu dia pergi sangat lama, setelah mendapatkan beasiswa pendidikan ke negara S dia tidak pernah terlihat lagi. Ayah pikir dia sudah melupakan Bunda," kata Ayah.


"Tunggu sebentar, jadi... ini tentang kisah cinta yang belum usai?" tanya Tuan Louis seraya terkekeh.


Padahal suasana sedang sangat tegang, namun bisa-bisanya tuan Louis malah bercanda seperti itu.


"Aku juga tidak menyangka akan berjodoh dengan istriku, karena kami menikah karena dijodohkan," kata Ayah.


Wudih, aku baru tahu jika ayah dan bunda menikah karena dijodohkan. Karena selama ini ayah dan juga bunda selalu terlihat mesra, hehehe.


"Ini rumit, jika dia sudah benci maka dia akan. menikam kita dari belakang. Seperti saat ini," kata Tuan Lous.


"Tapi, aku merasa heran loh, kenapa dia bisa sesukses itu. Dia mempunyai perusahaan yang begitu besar, padahal dulu dia hanya--"


Ayah tidak meneruskan ucapannya, dia seperti tidak enak hati. Tuan Louis terlihat menghela napas berat, lalu dia berkata.


"Dia bergabung dengan dunia bawah, dia ikut menyelundupkan obat terlarang dan juga berbagai macam senjata," kata Tuan Louis.


"Lalu, kita harus bagaimana? Padahal aku kira kamu bisa membantu," kata Ayah.


"Aku saja mengandalkan putraku. Edward sepertinya sangat dendam, dia benar-benar menanam hama yang bisa menggulingkan usahaku, beruntung ada Jo. Sehingga perusahaan milikku sudah lebih baik," kata Tuan Louis.


"Heh! Harus meminta bantuan kepada siapa. lagi, Ayah, Bun?" tanya Ayah sama Bunda.


"Kita akan memikirkannya lagi, Ayah bersabarlah. Siapa tahu setelah penyergapan nanti malam tuan Edward bisa ditangkap," kata Bunda.


"Dia tidak akan tertangkap, seapes-apesnya past hanya akan tuan Sanjaya yang tertangkap. Tuan Edward mempunyai kuasa yang tinggi," ucapku yakin.


"Tapi setidaknya rekaman itu berfungsi, Nes!" celetuk seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarga.


Alex terlihat datang bersama dengan Mario dan juga Naura, mereka langsung menghampiri kami dan ikut duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


"Lex, elu kok datengnya telat? Katanya mau makan bareng? Terus, maksud elu gimana?" tanyaku.


"Sorry kalau gue telat, tadi bokap dateng, gue udah omongin sama bokap. Dia mau bantu," jawab Alex.

__ADS_1


"William sudah datang?" tanya Ayah dengan raut wajah berbinar.


Dih! Ayah udah kaya denger pacarnya dateng aja, wajahnya langsung ceria. Padahal dari tadi sendu aja, ayah bener-bener, ih.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Tuan Louis yang sama penasarannya denganku.


"Kamu kenal William, bukan? Pengusaha ternama yang selalu saja sibuk wara-wiri ke luar negeri," kata Ayah.


"Ah, ya. Aku mengenalnya, dia adik kelasku saat kami kuliah di negara E," jawab Tuan Louis.


"Hem, dia punya kuasa. Dia punya akses yang luas untuk menghentikan pergerakan dari tuan Edward," jawab Ayah.


"Ah, kamu benar. Jadi, bagaimana kabar ayahmu, Nak? Apa dia bisa membantu?" tanya Tuan Louis pada Alex.


"Mau, daddy sudah pastikan jika penggrebekan nanti malam pasti berhasil," kata Alex.


"Tapi, apakah keterlibatan tuan Edward akan terdeteksi?" tanya Ayah.


"Cepat atau lambat pasti bisa, Om. Daddy jamin dalam waktu kurang dari seminggu semuanya akan clear," jawab Alex.


"Syukurlah!"


Kami semua mengucap syukur, setidaknya perasaan kami menjadi lega setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alex.


Semoga saja om William bisa membantu kami, semoga tuan Edward bisa segera ditangani.


"Ehm, Om. Boleh ngga aku bicara bentar sama Anes?" tanya Jonathan.


Ayah terlihat membuka mulutnya hendak berbicara, tapi ucapannya tertahan karena Alex sudah berbicara terlebih dahulu.


"Sorry, Anes udah janji mau ngomong sesuatu sama gue." Alex langsung bangun dan mengulurkan tangannya.


Aku hanya diam seraya menatap tangan Alex dengan bingung, karena aku tidak paham dengan apa yang Alex inginkan.


***


Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. Satu bab untuk menemani kalian beristirahat, semoga kalian sehat selalu dan murah rezekinya. Jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya. Yang mau ngasih hadiah atau gif boleh, ya.

__ADS_1


__ADS_2