
Selepas kepergian Ibu Dewi, tuan Dirgantara mengajak kami untuk melihat-lihat tanaman organik yang biasa tanam oleh istrinya.
Dia terlihat sumringah sekali saat menjelaskan tanaman yang dia tahu. Namun, kalau yang tidak dia tahu dia akan nyengir kuda.
Sesekali aku dan ketiga temanku tertawa bersama tuan Dirgantara. Namun, walaupun seperti itu hatiku merasa sangat sakit saat melihat Wira yang terus saja menangis di dalam ruangan kaca tersebut.
Tidak lama kemudian, Ibu Dewi nampak datang dengan membawa kunci di tangannya.
Dia tersenyum, lalu mengajak kami untuk masuk ke dalam ruangan kaca tersebut. Saat masuk ke dalam sana, aku mencium bau busuk di sana.
Karena merasa tidak tahan aku lalu menutup hidungku, Ibu Dewi nampak mengernyitkan dahinya.
"Kamu, kenapa tutup hidung seperti itu?" tanyanya dengan raut wajah tidak suka.
Aku bukannya mengada-ngada. Namun, memang kenyataannya tercium bau busuk yang sangat menyengat di hidungku.
"Ehm, itu, Nyonya. Bau busuk," jawabku jujur.
Untuk sesaat Ibu Dewi terlihat kaget saat mendengar apa yang aku katakan. Bahkan, ketiga sahabatku dan juga tuan Dirgantara nampak keheranan menatap ke arahku.
Aku jadi bingung dibuatnya, apakah mereka tidak merasakan bau yang sama seperti yang aku cium?
"Loh, Kenapa kalian menatapku seperti itu? Beneran loh, di sini bau banget busuk. Apakah di sini ada bangkai atau apa gitu?" tanyaku seraya menatap ke arah Wira yang terlihat Ingin menggapai Tuan Dirgantara.
Namun, dia selalu saja gagal. Aku merasa benar-benar sedih jika melihat akan hal itu, aku segera memalingkan wajahku agar aku tidak menitikkan air mataku.
"Sayang, apakah mungkin di sini ada bangkai tikus?" tanya Tuan Dirgantara.
Aku merasa kaget karena tuan Dirgantara menanyakan hal itu, mungkinkah dia mencium bau busuk yang kini menyeruak ke dalam indra penciumanku?
__ADS_1
"Ti--tidak ada, Sayang. Mu--mungkin indra penciuman dari Aneska sudah mulai rusak, makanya dia mencium bau yang aneh-aneh," kata Ibu Dewi gugup.
Aku merasa sangat kesal karena Ibu Dewi mengatakan hal itu. Namun, aku tidak bisa marah karena aku takut diusir dan aku tidak bisa menyelidiki tentang kematian Wira.
"Tapi, aku juga mencium bau. Tapi tidak terlalu jelas," kata Tuan Dirgantara.
Lagi-lagi aku melihat Ibu Dewi mencoba untuk berkilah. Bahkan, dia terlihat mencari-cari alasan yang tepat kepada suaminya tersebut.
Sesekali dia terlihat menatap tajam ke arahku, bahkan tatapan matanya terasa menusuk sampai ke ulu hatiku.
Dalam diam aku mengeratkan gigiku, bahkan aku mengepallkan kedua tanganku menahan rasa kesal di dalam hatiku.
Alex terlihat tersenyum, lalu dia mengelus pundakku dengan lembut. Aku paham jika dia berusaha untuk menenangkanku.
Aku membalas tatapan Alex, kemudian aku tersenyum seraya menghela napas berat. Semuanya terasa rumit dan susah untuk dipecahkan.
Saat aku berada dalam kebingunganku, tiba-tiba saja aku melihat Wira berjalan ke arah pojokan di dalam ruangan tersebut.
Aku melihat Wira masuk ke dalam ruangan tersebut lewat tembok, aku tidak paham apa maksud dari Wira.
Namun, setelah aku perhatikan. Ternyata di sana seperti ada pintu yang ditutupi oleh stiker berwarna yang sama dengan dinding dari ruangan tersebut.
Sepertinya Ibu Dewi sengaja menyamarkan pintu tersebut dengan dindingnya, agar tidak ada yang tahu jika di sana ada sebuah pintu.
Aku menoleh wajahku ke arah tuan Dirgantara, ku lihat dia sedang berdebat. Aku rasa ini adalah kesempatan bagus untukku.
Aku segera melangkahkan kakiku menuju pintu tersebut dan langsung ke dorong dengan sangat kencang.
Ternyata pintu tersebut tidak terkunci, bahkan langsung terbuka dengan sempurna. Ibu Dewi yang sedang berdebat dengan tuan Dirgantara nampak kaget.
__ADS_1
Bahkan, dia langsung menghampiriku dan mendorongku hingga aku jatuh tersungkur ke lantai.
Dia terlihat gugup dan juga takut, dengan cepat dia menutup pintu tersebut dan menatapku dengan tatapan tajamnya.
"Apa yang kamu lakukan? Lancang!" katanya dengan kasar.
Semua orang yang melihat kelakuan dari Ibu Dewi langsung terkejut. Bahkan mereka hanya diam mematung memandangi diriku dan juga Ibu Dewi secara bergantian.
"Nes!"
"Anes!"
"Selangkah lagi, Nes!"
"Aku dipindahkan ke dalam ruangan ini, tubuhku yang kini sudah menjadi tulang belulang dia masukkan ke dalam coper dan ditaruh di bawah tumpukan barang bekas."
"Tolong aku, Anes. Tolong!"
Bisikan-bisikan suara Wira terdengar jelas di telingaku, aku pun semakin berniat untuk segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Aku tidak peduli lagi dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Ibu Dewi terhadap diriku, aku ingin segera menolong Wira.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba bangun walaupun tertatih. Namun, dengan cepat Ibu Dewi langsung mendorong ku kembali hingga tubuhku terpentok ke tembok.
"Dasar anak sialan!" umpatnya memekik.
***/
Masih berlanjut, yuk ramein kolom komentar.
__ADS_1