Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Pocong


__ADS_3

Aneska terlihat kebingungan harus berkata apa, apalagi Naura bertanya-tanya terus kenapa dirinya bertingkah aneh seperti itu.


Karena memang tidak biasanya dia menjadi pendiam seperti itu, walaupun Aneska tidak secerewet Naura, tapi dia selalu aktif berbicara.


Saat mereka berempat turun dari mobil milik Aneska, dia merasa kaget karena di sana sudah terparkir mobil ayahnya. Itu tandanya ayah dan bundanya sudah pulang dari luar kota.


Wajah Aneska yang sedari tadi terlihat sendu, kini langsung berubah menjadi ceria. Dia begitu senang karena akhirnya ayah dan bundanya sudah pulang.


"Nes, bonyok elu dah pulang keknya," kata Naura.


"Iyes, gue seneng banget jadinya," kata Aneska.


"Gue yang ngga seneng," kata Mario.


Mario terlihat menghampiri Aneska yang terlihat sedang berdampingan dengan Naura, kemudian dia merangkul pundak Aneska dan juga Naura. Lalu, Mario kembali berkata.


"Kalau bonyok elu udah pulang, berarti gue ngga bisa nginep lagi di rumah elu," kata Mario.


Aneska terlihat mencebikkan bibirnya, kemudian dia menepis tangan Mario dari pundaknya.


"Yaelah, kalau elu mau nginep di rumah gue, ya nginep aja kali. Orang udah biasa juga," kata Aneska.


"Iya, sih," jawab Mario soraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Setelah terjadi obrolan singkat di antara mereka ,akhirnya keempat sekawan itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah milik ayah dan bunda Aneska tersebut.


Naura, Mario dan juga Aneska terlihat berjalan beriringan. Berbeda dengan Alex yang terlihat berjalan di belakang ketiga sahabatnya, rasanya dia masih canggung jika harus berdekatan dengan Aneska.


Bahkan dalam hatinya dia merutuki apa yang sudah dia katakan kepada sahabatnya tersebut, sungguh saat ini Alex benar-benar merasa takut jika Aneska tidak ingin lagi berdekatan dengan dirinya. Bahkan untuk menjadi sahabatnya lagi.


Keempat sekawan itu sengaja melangkahkan kaki mereka dengan perlahan, hal itu mereka lakukan agar kedatangan mereka tidak disadari oleh kedua orang tua Aneska.


Saat mereka masuk, kedua orang tua Aneska terlihat sedang duduk di ruang keluarga seraya menikmati teh hangat.


Aneska sudah bersiap untuk berlari, dia ingin segera memeluk kedua orang tuanya tersebut. Namun, langkahnya terhenti karena dia melihat sesosok makhluk ghaib yang saat di perjalanan dia lihat juga.


Senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya kini meredup, wajahnya bahkan terlihat memucat.


Melihat akan perubahan raut wajah dari sahabatnya, Naura terlihat menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu.


"Nes, elu kenapa? Kenapa wajah elu jadi pucat kayak gitu? Apa yang elu lihat?" tanya Naura.

__ADS_1


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Naura, Alex dan juga Mario langsung menolehkan wajahnya ke arah Aneska.


Begitupun dengan ayah dan bunda Aneska, mereka langsung menolehkan wajahnya ke arah keempat sekawan tersebut.


"Eh? Kalian sudah pulang?" tanya Bunda Aneska.


Dia terlihat bangun dan menghampiri putrinya, dia begitu mengkhawatirkan keadaan putrinya karena dia meninggalkan Aneska di saat Aneska sedang pingsan.


Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan putrinya, tapi tuntutan pekerjaan membuat dia harus pergi dan menitipkan Aneska kepada ketiga sahabatnya.


"Ada apa? Kenapa muka kamu jadi pucat seperti ini? Apa kamu masih sakit? tanya Bunda Aneska.


Aneska tidak menjawab, dia hanya menatap ke arah ayahnya. Karena tepat di belakang ayahnya tersebut, makhluk ghaib itu sedang berdiri.


"Jawab, Sayang!" seru Bunda Aneska.


"Po--pocong!" kata Aneska lirih.


"Hah? Pocong?" tanya semua orang yang ada di sana.


"Di mana?" tanya Mario.


"Di belakanga Ayah," jawab Aneska.


Berbeda dengan ayah Aneska, dia terlihat langsung bangun dan berlari ke arah Aneska. Antara takut dan ingin tertawa, itulah yang Aneska rasakan saat ini.


"Beneran ada pocong?" tanya Ayah Aneska.


"Beneran, Yah. Wajahnya nyeremin banget, ancur ih. Matanya merah banget," kata Aneska.


Aneska mengatakan hal tersebut tanpa menolehkan lagi wajahnya ke arah pocong tersebut, dia malah memeluk bundanya dan menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan bundanya itu.


"Kamu jangan bikin Ayah takut, Sayang!" seru Ayah Aneska.


"Aku ngga nakut-nakutin, Ayah. Kayaknya pocongnya bawaan Ayah deh, dari luar kota," kata Aneska.


Ayah Aneska terlihat bergidig kala mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, jika memang pocong itu bawaan dari luar kota, itu artinya sepanjang perjalanan dia satu mobil dengan pocong tersebut.


"Suruh pergi dong pocongnya, Ayah takut," kata Ayah Aneska.


"Ayah kok gitu, aku aja takut. Kalau aku berani aku ngga bakalan ngumpet," kesal Aneska.

__ADS_1


"Sudah-sudah, kok Ayah malah ngajak Anes buat debat? Lagian kita ngga bisa lihat pocongnya, ngapain Ayah takut?" kata Bunda Aneska.


Ayah Aneska terlihat terdiam, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Kenapa dia harus takut? Apa yang dia takutkan?


"Bunda bener, tapi Ayah tetep takut jika ada pocong di rumah ini," kata Ayah Aneska.


Alex, Naura dan juga Mario terlihat saling pandang. Mereka tidak menyangka jika kekuarga Aneska malah saling debat karena urusan pocong semata.


"Ehm, Nes. Mendingan elu tanyain deh apa yang dia mau, dari pada entar dia ngga pergi-pergi," kata Mario.


"He'em, mau sampe kapan elu ngumpet kaya gitu? Kita harus ngobatin tangan Alex juga tuh yang memar," kata Naura.


'Alex? Luka? Apa yang luka?' tanya Aneska dalam hati.


Sebenarnya Aneska merasa sangat khawatir dengan apa yang dia dengar, tapi dia masih merasa enggan untuk berdekatan dengan Alex.


Dengan perlahan dia melerai pelukannya dengan bundanya, kemudian dia mengedarkan pandangannya.


Ternyata pocong yang berwajah hancur dan bermata merah itu terlihat sudah tidak ada lagi di sana, Aneska terlihat bisa bernapas dengan lega.


"Ayo gue obatin, kita kompres luka elu," kata Aneska.


Setelah mengatakan hal itu, Aneska langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. dia ingin mengambil es batu untuk mengompres luka memar di tangan Alex.


Semua orang yang ada di sana nampak saling pandang, mereka bingung dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Aneska. Padahal dia tadi terlihat begitu ketakutan, tapi kini dia terlihat bisa bernapas dengan lega.


"Nes!" panggil Ayah Aneska.


Aneska yang terlihat sedang berjalan langsung menolehkan wajahnya ke arah ayahnya, lalu dia bertanya.


"Ada apa?" tanya Aneska.


"Itu, Anu. Apa pocongnya sudah ngga ada lagi?" tanya Ayah Aneska terbata.


"Sudah pergi, Yah. Sudah ngga ada," jawab Aneska.


Setelah mengatakan hal itu, dia nampak melanjutkan langkahnya. Alex nampak mengikuti langkah dari Aneska, karena Aneska sempat berkata jika dia akan mengompres lukanya.


"Elu mau kemana?" tanya Mario.


"Minta diobatin sama Anes!" jawab Alex.

__ADS_1


***


Selmat malam Bestie, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komentar yang ketceh. Sayang kaleyan semua.


__ADS_2