Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Berubah Posesif


__ADS_3

Sumpah demi apa pun aku sangat kesal dengan pria yang bernama Jonathan itu, walaupun kini dia terlihat tampan dan juga mapan tetap saja aku merasa tidak suka dengan pria itu.


Setelah berpamitan kepada Jonathan akhirnya ayah dan bunda memutuskan untuk pergi ke kantor polisi, karena mereka harus melaporkan apa yang sudah kami lihat antara pak Sanjaya dan juga tuan Edward.


Berbeda dengan aku, Alex, Naura dan juga Mario. Kami memilih untuk segera pulang ke rumah, karena rasanya kegiatan seharian ini sangatlah melelahkan.


Ayah dan bunda terlihat pergi terlebih dahulu karena takut kesorean, setelah kepergian ayah dan bunda aku langsung membuka pintu mobil karena ingin segera duduk di bangku penumpang.


Sayangnya, Alex malah menarik tubuhku dan mendorongku agar duduk di bangku yang berada di samping kemudi.


"Ih! Kenapa elu dorong-dorong gue sih? Gue mau duduk sama Naura di belakang, ngapa malah disuruh duduk di depan!" kataku dengan raut wajah kesal.


"Ngga bisa, elu harus duduk di depan sama gue," kata Alex memaksa.


Alex langsung memasangkan sabuk pengaman untukku, lalu dia menutup pintu mobilnya. Setelah itu, dia langsung menyusulku dan duduk di balik kemudi.


Aku sempat melihat ke arah Naura dan juga Mario, mereka sedang terkikik geli karena mungkin merasa lucu dengan apa yang Alex lakukan terhadap diriku.


"Sialan!" umpatku.


Mendengar kata umpatan dariku, mereka malah tertawa dengan terbahak-bahak. Sumpah demi apa pun aku merasa sangat kesal, rasanya aku ingin menimpuk kepala Naura dan juga Mario dengan kotak tisu yang berada di atas dashboard mobil.

__ADS_1


Namun, mereka seolah tidak peduli dengan raut wajah kesalku. Mereka dengan santai masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang.


Setelah tadi aku sempat di buat kesal oleh Jonathan, kini aku merasa kesal karena kelakuan Alex. Aku jadi bertanya-tanya di dalam hatiku, kenapa Alex malah bersikap posesif seperti ini?


Apa mungkin karena dia merasa cemburu? Atau mungkin dia merasa takut jika aku akan menerima Jonathan untuk menjadi partner di dalam hidupku?


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku karena kelakuan Alex, tapi alu berusaha untuk tidak peduli.


Tidak lama kemudian, Alex terlihat memasang sabuk pengamannya. Lalu, dia melajukan mobil milikku ke kediaman ayah. Selama perjalanan menuju pulang Naura terlihat begitu asik bercengkrama dengan Mario, berbeda dengan aku yang hanya diam saja dengan Alex.


Sesekali aku menolehkan wajahku ke arah Alex, tapi dia tidak pernah mau menoleh ke arahku. Bahkan dia terlihat begitu fokus dalam menyetir, atau mungkin dia sedang fokus dengan pemikirannya sendiri.


Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya kami tiba di kediaman ayah. Aku dan ketiga temanku langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


Aku bersama ketiga temanku langsung menghempaskan tubuh lelah ini ke atas sofa, menyandarkan punggung dan menikmati empuknya sofa yang sedang aku duduki.


"Ah, lelahnya!" kataku seraya merentangkan kedua tanganku dan kakiku, rasanya bisa sedikit bernapas dengan lega karena berada di dalam rumah.


Aku melihat Alex menghampiriku dan duduk tepat di sampingku, dia menatapku dengan tatapan intens. Aku menegakkan tubuhku dan mekbalas tatapan matanya.


"Ada apaan sih?" tanyaku.

__ADS_1


"Nes, gue mau ngomong sama elu," kata Alex.


Aku langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, biasanya juga dia langsung ngomong dan tidak pernah pake memberikan aba-aba terlebih dahulu.


"Ngomong aja sih, biasanya juga elu langsung ngomong tanpa aba-aba," ucapku.


"Nes, gue serius suka sama elu. Elu harus jadi cewek gue, elu jangan mau jadi ceweknya si Jonathan itu. Gue bisa mati kalau elu ngga terima cinta gue," kata Alex dengan wajah memelas.


Aku tertawa melihat kelakuan dari Alex, aku sudah menganggapnya sebagai sahabatku. Sahabat karibku, teman terbaikku. Lalu, apa ini? Kenapa dia kembali meminta diriku untuk menjadi kekasihnya?


"Tapi, Lex. Kita ini sahabatan, gue udah nganggep elu benar-benar sahabat sejati gue. Sahabat karib gue, please jangan minta gue buat jadi cewek elu," kata aku.


Alex terlihat kecewa dengan apa yang aku katakan, dia menggenggam tanganku dengan erat. Lalu, dia menatap netraku dengan langkat.


"Jadi elu maunya jadian sama si Jonathan itu? Terus elu kawin sama dia gitu? Terus gua gimana?" tanya Alex dengan tatapan sendunya.


Aku ingin sekali tertawa melihat wajah Alex, tapi aku tahu jika Alex sedang berbicara serius terhadapku.


"Denger ya, Lex. Elu tetap sahabat gue, Jonathan itu bukan tipe gue. Gue ngga bakalan mau nikah sama dia, mana ada lelaki yang menurut gue ngga sopan mau gue jadiin laki," ucapku.


****

__ADS_1


Selamat siang Bestie, jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi Othor, sayang kalian semua.


__ADS_2