
Aku melangkahkan kakiku dengan sangat perlahan, karena takut jika tuan Edward akan mengetahui niatku untuk kabur.
Sumpah demi apa pun aku merasa sangat takut kali ini, aku takut jika tuan Edward akan benar-benar menerkam diriku saat ini juga.
Walaupun dia berkata akan memasak dan dia akan memberikan makanan untukku, tapi tetap saja hati ini merasa ragu dengan ucapannya.
Wajah tuan Edward memang terlihat sangat tampan walaupun di usianya yang sudah berumur, tapi saat aku melihat seringai di bibirnya terlihat begitu mengerikan. Dia benar-benar seperti singa lapar yang sudah siap untuk menerkam mangsa.
'Semoga engkau memberikan aku jalan ya Tuhan, aku benar-benar taku.'
Kulanjutkan kembali langkahku dengan sangat perlahan, sesekali aku melihat tuan Edward yang begitu sibuk dengan masakan yang dia buat.
Saat tiba di depan pitu dapur, aku berusaha untuk membuka pintu itu dengan perlahan. Aku benar-benar berharap semoga pintu dapur ini tidak terkunci.
'Yes! Daebak!'
Aku bersorak dalam hati karena pintunya bisa terbuka, dengan cepat aku keluar dari sana. Aku bahkan langsung berlari, berharap bisa lepas dari kurungan tuan Edward.
Baru saja aku mulai berlari, tapi aku sudah mendengar suara tuan Edward yang menggelegar memanggil namaku dari dalam dapur.
Dia terdengar begitu emosi saat meneriakan nama aku, mungkin dia kesel karena aku mencoba kabur dari Villa ini.
"Aneska! Jika berani kabur, kamu akan tahu akibatnya."
Deg!
Jantungku seakan mau copot mendengar tuan Edward berteriak seperti itu, dengan sekuat tenaga aku langsung berlari. Namun, aku merasa tanganku ada yang manarik. Aku memekik karena kaget.
Dia menyeretku ke belakang pohon besar yang tumbuh di belakang Villa tuan Edward, pohon yang rindang tapi terlihat menyeramkan.
Entah karena pengaruh gelapnya malam atau mungkin pengaruh dari suasana hatiku yang memang sedang merasa ketakutan, aku tidak paham.
"Aaakh! Lepaskan!" teriakku.
Bukannya dilepaskan orang itu malah membekap mulutku, aku benar-benar sangat takut jika aku tertangkap oleh anak buahnya tuan Edward.
Lalu, aku akan diseret untuk menemuinya kembali. Namun, saat aku merasakan sentuhan dan aroma tubuhnya aku langsung terdiam.
Alex! Ini bau tubuh Alex. Aku langsung memutarkan tubuhku, aku berusaha untuk menatap wajah lelaki yang aku kira Alex di bawah remang cahaya bulan.
__ADS_1
"Ini gue, Nes!" bisik Alex di telingaku seraya melepaskan tangannya.
Ya Tuhan, aku benar-benar merasa sangat senang karena kini Alex berada di hadapanku. Dia tidak jadi pergi, dia menyusulku, dia mencariku.
Aku ingin sekali berteriak, tapi aku takut tuan Edward akan menemukan aku lagi. Aku tersenyum lalu aku peluk tubuh lelaki yang aku rindu.
Tunggu! Rindu? Benarkah aku merindukan Alex? Oh Tuhan, jangan bilang jika aku juga mulai mencintai lelaki jangkung blasteran ini.
Lelaki yang selalu menyatakan cintanya kepadaku akhir-akhir ini, laki-laki yang selalu memaksa aku untuk menjadikan dirinya sebagai kekasihnya.
Dia memang sangat aneh, aku baru tahu jika selama kami bersama ternyata dia menyukaiku sebagai seorang wanita.
"Gue ngga jadi pergi, elu ilang tanpa kabar. Gue takut bakal kehilangan elu buat selamanyac" bisik Alex.
Aku tidak menyahuti ucapannya, jujur saja saat ini aku hanya ingin memeluknya dengan erat. Bukan berbicara apa pun, lagi pula tidak baik jika kami banyak bicara.
Karena aku mendengar derap langkah yang begitu nyaring, sepertinya tuan Edward dan juga anak buahnya sedang mencariku.
Aku melerai pelukanku, kemudian aku mendongakkan kepalaku dan menatap wajahnya yang tidak terlalu jelas.
Namun, aku bisa melihat ada luka lebam di wajahnya. Bahkan, sudut bibirnya terlihat pecah dan berdarah.
"Gue ngga sabar pengen ketemu sama elu, gue lacak elu ada di Villa ini. Bonyok elu ada di luar sama polisi, lagi siap-siap buat nangkep si tua sialan itu," bisik Alex lagi.
Alex terlihat sedang berusaha untuk meredam emosinya yang terlihat meluap-luap, aku memahami akan hal itu.
Dalam hati aku tertawa, karena kami berbicara dengan berbisik-bisik. Persis seperti warga +62 yang sedang menggosipkan sesuatu hal yang tidak penting.
Namun, terkadang cerita yang mereka gosipkan sangat bermanfaat. Itulah tanah airku, terkadang orang-orangnya memuakan, tapi mereka solid dan mau bahu-membahu dan saling membantu.
"Semoga dia segera tertangkap, aku sangat takut," kataku seraya mengingat-ingat apa yang sudah dilakukan oleh tuan Edward.
"Ngga usah takut, ada gue. Bentar lagi kita keluar dari sini," bisik Alex lagi.
Aku tersenyum senang melihat ketulusan dari wajah Alex, aku berharap bisa segera keluar dari tempat mengerikan ini.
Bugh!
"Aaakh!"
__ADS_1
Aku mendengar Alex berteriak kesakitan setelah seorang pria bertubuh tegap memukul punduk Alex, bahkan aku pun tanpa sadar langsung berteriak sambil menutup telingaku.
"A--an--"
Belum juga selesai Alex menyelesaikan ucapannya, tapi tubuhnya sudah ambruk ke tanah. Aku kembali berteriak histeris seraya memanggil-manggil nama Alex.
Sayangnya, dia tidak bangun. Pria bertubuh tegap itu terlihat tertawa seraya memanggil nama tuan Edward, tidak lama kemudian tuan Edward datang dan segera menghampiriku.
"Hahaha, berani sekali kamu melawanku. Berani sekali kamu berusaha untuk kabur dariku," kata Tuan Edward seraya mengangkat tubuhku seperti karung beras.
Sontak aku langsung berteriak seraya memukul-mukul punggung tegap lelaki yang seusia dengan ayahku itu, aku sangat ketakutan.
"Karena kamu sudah berani kabur, sekarang kamu akan merasakan kenikmatan yang akan membuat kamu terkulai lemas," kata Tuan Edward dengan tawa yang menggelegar.
Aku sungguh takut mendengar akan hal itu, aku takut jika ini adalah akhir dari perjalanan hidupku.
"Lepaskan aku, Om. Tolong lepaskan, aku janji jika aku tidak akan--"
Belum juga aku sempat menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba saja aku mendengar suara tembakan yang diarahkan ke udara.
Terdengar seperti sebuah tembakan peringatan, bahkan tidak lama kemudian aku mendengar keributan seperti orang yang sedang baku hantam.
Seperti yang Alex tadi sudah katakan, sepertinya polisi sudah mulai beraksi. Tuan Edward terlihat panik, dia berlari dengan langkah panjang seraya membuat membopong tubuhku.
Dia seolah tidak merasakan berat sama sekali saat mengangkat tubuhku, padahal berat tubuhku saja sekitar enam puluh kilo.
"Om, lepaskan Aneska, Om. Aneska mohon," ucapku memelas.
Aku mencoba bernegosiasi, siapa tahu dia akan mendengarkan permintaanku dan melepaskan diriku. Walaupun itu terasa sangat mustahil.
"Diamlah gadis kecil, kita akan ke suatu tempat yang aman," kata Tuan Edward.
Mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Edward, aku benar-benar ketakutan. Mau dibawa ke mana aku ini coba?
Oh Tuhan, tolonglah selamatkan aku. Kirimkanlah malaikat-malaikat penolong agar aku terhindar dari marabahaya.
****
Selamat malam Bestie, selamat membaca. Satu bab menemani kalian sebelum tidur, sayang kalian semua.
__ADS_1