
Aku benar-benar bingung saat ini, apa yang harus aku lakukan? Ingin sekali aku segera kabur dari Villa milik tuan Edward, karena aku benar-benar takut jika dia akan memerkosa aku saat ini juga.
Aku duduk di atas closet yang tertutup, aku berusaha untuk memikirkan cara agar bisa keluar dari sini.
Aku mencoba mengedarkan pandanganku, ternyata di dalam toilet tersebut hanya ada lubang udara yang sangat kecil.
Rasanya tubuhku tidak akan muat jika keluar dari situ, aku hanya bisa mendessah pasrah melihat akan hal itu.
Aku benar-benar sangat bingung, bagaimana cara keluar dari Villa ini. Aku sempat melihat ke arah luar dari lubang udara tersebut, di luar sudah sangat gelap.
Aku jadi bertanya-tanya di dalam hatiku, berapa lama aku tertidur? Oh Tuhan! Sepertinya aku tahu kenapa bisa tidur sangat lama, lelaki bertubuh tegap itu sudah memberikan obat bius kepadaku.
Ya Tuhan, di manakah ayah? Di manakah bunda? Apa mereka tidak mencariku? Lalu, bagaimana dengan Alex, ya Alex. Di mana dia, apakah dia tidak memikirkanku? Apakah dia pergi meninggalkanku di saat seperti ini?
Tanpa terasa air mataku menetes mengingat akan hal itu, Alex berkata dia mencintaiku. Namun, di saat seperti ini dia malah tidak ada.
Aku juga selalu bersama dengan Naura dan Mario, tapi di saat seperti ini. Di saat aku membutuhkan pertolongan mereka, kenapa mereka semua tidak ada?
Apakah penculikan ini terlalu rapih sehingga aku tidak mudah ditemukan? Hal ini membuat aku sangat sedih, sedih sekali.
Tidak lama kemudian, samar-samar aku mendengar keributan di luar kamar mandi. Aku ingin sekali mengintip sebenarnya apa yang terjadi di luar Villa tersebut.
Namun, niat itu aku urungkan. Karena pintu kamar mandi terdengar diketuk dari luar, padahal aku belum pipis tapi yang mengetuk pintu terdengar tidak sabar. Tidak lama kemudian aku mendengar suara tuan Edward memanggil namaku.
"Aneska, Sayang. Sudah selesai atau belum? Om sudah menunggu sepuluh menit, rasanya untuk pipis itu adalah waktu yang cukup," kata Tuan Edward.
Aku benar-benar merasa gugup dengan apa yang tuan Edward katakan, rasanya aku ingin menenggelamkan diriku jika saja aku mampu. Sayangnya, itu adalah hal yang sangat mustahil.
"Sebentar, Tuan. Aku sedang mencuci muka terlebih dahulu, rasanya aku sangat mengantuk," ucapku beralasan. Semoga saja dia percaya.
"Oh, ya tidak apa-apa. Om tunggu," kata Tuan Edward.
Tidak lama kemudian aku mendengar derap langkah yang menjauh dari puntu kamar mandi, mungkin saja tuan Edward ingin duduk di atas sofa atau apa pun itu aku tidak tahu.
Segera aku buang air kecil, setelah itu aku mencuci muka agar bisa lebih segar. Keributan di luar masih aku dengar, walaupun tidak begitu jelas.
Namun, bukan berupa ucapan. Akan tetapi, seperti ada benda jatuh atau seperti pukulan aku tidak tahu itu apa. Walaupun aku penasaran, tapi sayangnya aku tidak bisa melihat apa pun dari lubang udara yang berada di kamar mandi itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, aku kembali mendengar tuan Edward mengetuk pintu. Aku hanya bisa menghela napas berat, kemudian aku segera membukakan pintu kamar mandi tersebut.
Karena aku sangat takut jika tuan Edward akan mendobrak pintu kamar mandi, atau mungkin dia akan melakukan hal yang lebih.
"Akhirnya kamu keluar juga, kenapa lama sekali, Cantik?" tanya Tuan Edward.
"Maaf, Om. Aku cuci muka dulu biar lebih segar," kataku.
"Iya, tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan yang tadi tertunda," kata Tuan Edward.
Aku langsung berpegangan pada pintu kamar mandi saat tuan Edward mengatakan hal itu, jujur saja aku merasa sangat takut.
"Melakukan apa, Tuan?" tanyaku. Dia terkekeh, kemudian dia mengusap lenganku dengan lembut.
"Jangan takut dan jangan panggil aku, Tuan. Panggil saja Om, aku hanya ingin memberikan sesuatu yang menyenangkan. Kamu tenang saja," kata Tuan Edward dengan seringai di bibirnya.
Sungguh aku merasa sangat takut melihat akan hal itu, oh Tuhan. Tolong kirimkan malaikat yang bisa menyelamatkan aku dari sini.
Aku pun berusaha untuk memutar otakku, aku berusaha mencari cara agar bisa terlepas dari lelaki paruh baya itu. Lelaki yang masih terlihat tampan, walaupun usianya sama seperti dengan ayah.
Tuan Edward terlihat menatapku, dia terlihat memindai penampilanku dari atas sampai ke bawah. Lalu dia berkata.
"Oh iya, Om lupa sejak tadi pagi kamu tidak makan karena kamu begitu pulas tertidur sampai malam tiba, baiklah Om akan memberikan kamu makan. Mau makan apa? Jangan minta yang aneh-aneh, di sini tidak ada," kata Tuan Edward.
"Terserah Om saja, aku pemakan segala. Yang ada saja, yang penting aku bisa makan karena aku sudah sangat lapar," ucapku.
"Iya, aku akan memasak untuk kamu. Kamu harus makan yang banyak, karena kamu harus siap menerima apa yang akan aku berikan kepada kamu. Tidak mungkin aku melakukannya dalam keadaan kamu yang lemas," kata Tuan Edward.
Sumpah demi apa pun rasanya ingin aku segera berlari dan bersembunyi di mana pun agar aku tidak bisa ditemukan oleh tuan Edward, sayangnya tangan dan kakiku bekas diikat masih terasa ngilu dan juga sakit.
"Ya sudah, kamu mau tunggu di kamar apa mau ikut ke dapur untuk membuat makanan?" tanya Tuan Edward.
Aku tersenyum senang dalam hati kala dia mengajakku untuk pergi ke dapur, bukan senang karena akan berduaan saja dengan dirinya. Namun, itu artinya ada kesempatan untukku bisa berlari dari tempat ini.
"Aku ikut Om ke dapur, aku ingin melihat Om memasak," ucapku.
"Ya, baiklah. Aku akan memasakkan sesuatu yang spesial untukmu dan kamu harus menemaniku agar aku semakin semangat, kalau perlu kamu harus memelukku ketika aku memasak," kata Tuan Edward.
__ADS_1
"Eh? Mana boleh memeluk Om yang lagi masak, nanti yang ada masakannya gosong," kataku berusaha untuk mengelak.
Aku tidak mungkin mengiyakan permintaannya untuk memeluk tubuhnya, Iueeww mendinga aku peluk Alex, eh?
Mendengar apa yang kukatakan, dia langsung terkekeh. Entah karena lucu, entah kenapa aku tidak tahu.
"Ya, kamu benar. Yang ada aku bisa menerkam kamu di ruang makan, ya sudah ayo kita ke dapur aja," ajak Tuan Edward.
"Iya, Om," jawabku patuh.
Akhirnya aku dan juga tuan Edward melangkahkan kaki menuju dapur, tuan Edward dengan sabar menuntunku karena memang dalam melangkahkan kaki aku masih merasa sakit.
Tiba di dapur aku langsung duduk di salah satu bangku yang ada di sana, sedangkan tuan Edward dengan telaten mengeluarkan bahan makanan lalu dia mulai memasak.
Aku tidak diizinkan untuk ikut membantu, aku hanya disuruh untuk duduk saja selama dia memasak.
Dia terus saja melirik ke arahku, dia seperti takut aku akan kabur dari sana. Aku berusaha bersikap senormal mungkin, lalu aku mengedarkan pandanganku. Aku mencari celah agar bisa keluar dari sana, siapa tahu bisa keluar dengan cepat.
"Ehm, Om tinggal sendiri?" kataku.
"Tidak, di sini banyak orang. Di luar banyak yang berjaga," kata Tuan Edward.
"Kalau di sini banyak orang, kenapa Om memasak sendiri? Kenapa aku tidak melihat seorang pelayan pun di sini?" tanyaku.
"Aku tidak akan membiarkan seorang pelayan pun masuk ke dalam wilayah pribadiku, cukup di luar saja untuk bekerja dan berjaga," jawab Tuan Edward.
"Oh," hanya itu kata yang mampu aku ucapkan.
Saat melihat tuan Edward begitu sibuk memasak, kembali mengedarkan pandanganku.
Aku melihat ada pintu tak jauh dari dapur, sepertinya itu adalah pintu belakang. Aku jadi berpikir, apakah aku harus berlari melalui pintu tersebut?
Aku mencoba menggerakan tangan dan kakiku yang masih terasa kebas, lalu kupijit sendiri agar lebih baik. Setelah terasa lebih baik, aku mulai bangun dan segera berjalan dengan perlahan menuju pintu tersebut.
**/
Selamat Siang Bestie, selamat beraktivitas. Sehat selalu dan murah rezeky, Sayang kalian selalu.
__ADS_1