Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Menemukan Celah


__ADS_3

Sebenarnya aku merasa takut saat berada di rumah mewah milik tuan Dirgantara tersebut. Apalagi kini ibu Dewi, Ibu dari Wira terlihat menatap kami secara bergantian.


Dia seolah sedang menyelidiki kami ini siapa. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang karena aku ingin menolong Wira.


Awalnya aku ragu untuk menolong Wira, apalagi ketika melihat sorot tajam dari mata Ibu Dewi. Namun, ketika melihat kesedihan Wira yang ingin memeluk ayahnya tapi tidak bisa, membuat hatiku terenyuh.


"Diminum dulu, Non, Den."


Dua orang asisten rumah tangga membawa dua nampan besar berisikan minuman dan juga camilan.


Lalu, mereka terlihat berjongkok dan menatanya di atas meja. Aku merasa tidak enak hati karena diperlakukan seperti tamu penting di rumah tuan Dirgantara.


Aku, Mario, Alex dan juga Naura malah saling tatap. Kami seakan saling bertanya, apakah harus meminum atau memakan makanan yang sudah disediakan oleh kedua asisten rumah tangga tersebut.


"Ayo, jangan sungkan!" kata Bu Dewi.


Kami langsung menolehkan kepala kami ke arah bu Dewi, lalu kami mengangguk canggung.


Jika kami memakan atau meminum-minuman yang sudah disediakan oleh kedua asisten rumah tangga tersebut, kami takut jika bu Dewi sudah menaruh sesuatu di dalam minuman dan makanan yang disuguhkan.


Namun, rasanya tidak sopan jika mengabaikan apa yang sudah disuguhkan untuk kami. Kami benar-benar merasa dilema.


"Ayo, dimakan. Di minum juga teh jahenya, enak loh." Bu Dewi nampak meraih satu gelas teh jahe, lalu menyesapnya secara perlahan.


Aku melihat bu Dewi nampak memejamkan matanya, dia seperti sedang menikmati hangatnya teh jahe yang mengalir ke tenggorokannya.


Kami kembali saling tatap, kemudian aku melihat ke arah bu Dewi yang sedang asyik menikmati teh jahe yang dibuat oleh kedua asisten rumah tangga tersebut.

__ADS_1


Alex menepuk pundakku, lalu dia terlihat menganggukan kepalanya. Dia seolah memberikan isyarat, agar aku dan juga teman-temanku menerima suguhan dari bu Dewi.


Aku pun setuju dan mulai meraih secangkir teh jahe yang sudah disiapkan oleh kedua asisten rumah tangga tersebut.


Sebelum aku meminum teh jahe tersebut, aku mengalihkan pandanganku ke arah teman-temanku. Ternyata mereka pun melakukan hal yang sama.


"Enak, kan, teh jahenya?" tanya Bu Dewi.


"Iya, Bu," jawabku seraya mengangguk-anggukan kepalaku.


Bu Dewi nampak tersenyum, kemudian dia kembali berkata.


"Katanya kalian tersesat, ya? Tadi, kan, sudah pinjam hp-nya punya mas Dirgantara. Sudah tahu jalan pulang?" tanya Bu Dewi.


Aku langsung kembali mengganggukan kepalaku, lalu aku menjawab.


Bu Dewi nampak tersenyum, kemudian dia bertanya kembali.


"Kalian mau langsung pulang atau mau main dulu di rumah saya?" tanya Bu Dewi.


Aku sedikit ragu untuk menjawab, jika aku mengatakan ingin segera pulang, lalu... bagaimana dengan misiku dalam membantu Wira.


Akan tetapi, jika aku berkata untuk tinggal. Aku bingung harus beralasan seperti apa kepada Ibu sambung dari Wira tersebut.


Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba saja terlintas di otakku untuk mengatakan ingin tinggal saja.


"Ehm, Nyonya. Tadi saat mau masuk ke sini aku melihat banyak tanaman organik di samping rumah, bolehkah kami memotretnya?" tanyaku.

__ADS_1


Aku sengaja mengatakan hal itu, karena yang aku lihat Mario membawa kamera miliknya. Jadi, tidak salah bukan jika aku mengatakan hal seperti itu?


Aku lihat bu Dewi nampak terdiam untuk sesaat. Tidak lama kemudian, dia terlihat menganggukkan kepalanya.


Aku tersenyum senang, karena akhirnya ada jalan untukku menyelidiki di mana letak bu Dewi menguburkan jasad dari Wira.


"Waah, Nyonya baik sekali. Terima kasih untuk izinnya," ucapku senang.


"Ya, sama-sama," jawab Bu Dewi dengan raut wajah kurang mengenakan.


"Wah, sepertinya kamu terlihat sangat senang. Ada apa?" tanya Tuan Dirgantara yang ternyata kini sudah berada tepat di belakang bu Dewi.


"Eh? Itu, Tuan. Aku ingin memotret tanaman organik milik Bu Dewi, ternyata Bu Dewi sangat baik karena memperbolehkan kami," kataku seraya nyengir kuda.


"Tuan Dirgantara terlihat bahagia, dia bahkan sampai mengelus lembut puncak kepala dari istri barunya tersebut.


"Dia memang sangat baik dan juga pengertian," kata Tuan Dirgantara seraya tersenyum dengan tulus.


Bu Dewi terlihat mendongakkan kepalanya, lalu dia tersenyum dengan sangat manis ke arah suaminya tersebut.


"Ayo, Mas. Kita antar anak-anak ke belakang," ajak Bu Dewi.


Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Dewi, aku langsung tersenyum senang. Karena itu artinya, aku bisa mulai menyelidiki di mana dia menyembunyikan jasad Wira.


****


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2