
Aku benar-benar merasa kaget kala Alex mengatakan jika diriku ditemukan dalam keadaan pingsan di kamar mandi.
Aku memang begitu takut kala mendengar bisikan ghaib dari makhluk astral yang meminta pertolongan kepadaku, aku juga merasa takut jika bertemu dengan hantu-hantu atau arwah yang bergentayangan.
Namun, aku tidak paham kenapa aku bisa sampai pingsan seperti itu. Mungkinkah itu adalah sebuah cara agar aku bisa melihat apa yang terjadi terhadap wanita bisu itu?
"Hey! Kok malah melamun? Are you oke?" tanya Alex seraya menepuk pundakku.
Aku langsung menolehkan kepalaku ke arah Alex, lalu menyunggingkan sebuah senyuman yang menadakan jika aku baik-baik saja.
"Hanya bingung saja, kenapa gue bisa pingsan?" ucapku.
Alex merangkul pundakku, dia menepuk-nepuk lenganku dengan telapak tangannya. Kemudian dia berkata.
"Mungkin elu kelelahan, kemarin kita baru pulang dari kota B. Wajarlah kalau elu cape," kata Alex.
Aku langsung menghela napas berat ketika Alex mengatakan hal itu, aku yakin jika stamina tubuhku masih sangat baik.
Justru aku merasa jika tubuhku ini benar-benar merasa dalam keadaan baik-baik saja, tidak sedang kelelahan atau dalam keadaan ketakutan.
Namun, aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak tahu harus berkata apa dan harus menyimpulkan apa.
"Mungkin," ucapku tidak yakin.
"Sebenernya gue juga merasa aneh, kenapa elu bisa pingsan kaya gitu. Padahal tubuh elu itu kuat banget loh, walaupun elu berkata sangat takut bertemu dengan hantu-hantu yang minta tolong sama elu, tapi elu paling cuma gemetaran doang. Ngga pernah ampe pingsan kaya gitu," kata Mario seraya menepis tangan Alex dari pundakku.
Dalam hati aku membenarkan apa yang dikatakan oleh Mario, tapi dalam pikiranku aku tetap berpikir jika ini adalah perbuatan wanita bisu itu.
Hal itu dia lakukan agar aku bisa melihat apa yang terjadi terhadap dirinya, dia ingin menunjukkan apa yang sudah menimpa dirinya.
"Dahlah, ngga usah banyak bicara lagi. Lagipula ini sudah malam, lebih baik elu pada pulang deh. Besok kita kumpul lagi buat membicarakan masalah ini," ucapku.
Naura terlihat menghampiriku, lalu dia memelukku dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Gue tahu elu pasti tertekan karena mendapatkan anugerah yang sangat luar biasa ini, tapi gua harap elu tetap sehat biar kita bisa membantu arwah yang gentayangan itu," kata Naura.
__ADS_1
Aku terkekeh mendengar pernyataan dari Naura, padahal Naura juga sama penakutnya seperti diriku.
Namun, kini dia terlihat bersemangat untuk membantu arwah-arwah yang masih bergentayangan itu.
"Iya, gue pasti jaga kesehatan. Pulang gih, udah malem. Nanti elu pada dicariin bonyok (bokap nyokap)," kataku.
"Yakin mau ditinggal?" tanya Alex seraya menatap netraku dengan dalam.
"Memangnya kenapa? Kok elu ngomong kek gitu?" tanyaku.
"Om sama tante lagi ke kota P, pulangnya besok. Yakin elu mau nginep di rumah hanya ditemani pembokat?" tanya Mario.
Aku terdiam mendapatkan pertanyaan dari Alex dan juga Mario, benarkah kedua orang tuaku pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepadaku?
"Elu seriusan? Masa sih ayah sama bunda nggak pamit dulu sama gue, masa mereka main pergi-pergi aja. Pan gue lagi pingsan berarti pas mereka pergi," kataku dengan nada kecewa.
Naura terkekeh mendengar nada protes dariku, dia terlihat melerai pelukannya kepadaku, lalu menatapku dengan lekat.
"Bagaimana om sama tante mau pamitan sama elu coba, kalau elu' nya aja pingsan," kata Naura.
"Hus, elu jangan ngomong sembarangan. Om sama tante khawatir banget sama elu, mereka bahkan mendatangkan dokter ke mari. Cuma, kata dokter elu baik-baik aja, makanya mereka pergi ke luar kota," kata Mario.
"Heeh, bener. Sebelum pergi mereka berpesan agar kita bertiga ngga pulang dulu, kita bertiga di suruh jagain elu," timpal Naura.
Ya tu,han aku hanya bisa pasrah karena memang kedua orang tuaku begitu sibuk dalam pekerjaannya.
Beruntung aku mempunyai tiga orang sahabat yang begitu pengertian, aku langsung merentangkan kedua tanganku.
Lalu, aku menatap Alex, Naura dan juga Mario secara bergantian. Mereka seolah paham dan mereka langsung memelukku.
Kami berempat berpelukan, aku terharu mempunyai tiga orang sahabat yang begitu baik dan pengertian seperti mereka.
"Oh ya, Nes. Ngomong-ngomong gue laper banget nih, perut gue sudah keroncongan. Kayaknya cacing di dalam perut gue lagi berdisco ria, mereka pengen makan," kata Naura.
Aku langsung melerai pelukanku, saat melihat wajah Naura aku langsung tertawa karena merasa lucu dengan ekspresi wajah dari Naura yang terlihat begitu menyedihkan.
__ADS_1
Dia seolah-olah begitu pandai dalam mengekspresikan wajahnya, Naura semakin mengerucutkan bibirnya.
"Muka elu begitu banget, kalau elu laper kita ke ruang makan sekarang. Kita minta bibi buat siapin makanan," ucapku.
"Kayaknya kita bisa langsung makan deh, soalnya tadi bibi udah bilang, katanya dia udah nyiapin makan malam jadi kita bisa makan langsung," ucap Mario.
"Iya, bener. Tadi bibi bilang kalau lapar tinggal langsung ke dapur aja, makanan sudah siap," kata Alex.
"Ya sudah, kalau gitu kita langsung ke ruang makan," ucapku.
Akhirnya kami berempat pun melangkahkan kaki kami menuju ruang makan, tiba di ruang makan ternyata makanan benar-benar sudah tersaji dengan sangat rapi.
Bahkan bibi masak lebih banyak dari biasanya, mungkin karena dia tahu jika ketiga sahabatku ada di rumah dan akan menginap.
Hampir satu jam kami menghabiskan waktu di ruang makan, karena kami bukan hanya makan saja tapi juga bercanda dan tertawa bersama.
Setelah selesai makan malam, kami berempat berkumpul di ruang keluarga. Kita berniat untuk menonton film action yang sedang hits.
"Makanan bibi lumayan enak, tapi lebih enak masakan bundanya elu," kata Naura.
"Hem," jawabku.
Aku hanya menjawab ucapan Naura dengan deheman saja, aku bahkan tidak begitu mendengar apa yang Alex dan juga Mario tanyakan saat mereka yang begitu asik memilah film yang akan diputar.
Karena aku malah melihat sosok gadis bisu itu tepat di samping jendela, tubuhku langsung merinding dibuatnya.
Bulu kuduku terasa berdiri semua, tatapan gadis bisu itu penuh dengan permohonan. Dia terlihat menyedihkan dan menjijikan dengan tubuh polosnya yang penuh dengan luka lebam.
'Ada apa? Mau apa? Tolong beritahu apa keinginanmu!" ku ucapkan kata itu dalam hati.
Walaupun wajahnya terlihat babak belur karena terkena pukulan tongkat baseball, tapi aku melihat sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
****
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.
__ADS_1