Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Tertangkap Polisi


__ADS_3

Walaupun merasa bingung, Jony menurut. Dia terlihat masuk dan juga duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


Aneska, Mario, Alex dan juga Naura terlihat ikut duduk. Naura terlihat sengaja duduk di samping Jony, dia terlihat membuka tas miliknya dan pura-pura menjatuhkan foto Leni tepat di kaki lelaki itu.


"Maaf, Nona. Ada foto yang jatuh," kata Jony.


Jony terlihat menunjuk selembar foto yang sengaja memang Aneska jatuhkan tepat di bawah kaki Joni, dia ingin melihat reaksi dari pria itu.


"Tolong diambil dong, Bang. Susah aku ambilnya," kata Aneska beralasan.


"Iya, Nona," jawab Jony.


Jony menunduk, lalu meraih selembar foto yang Aneska sengaja jatuhkan. Mata Jony langsung membulat dengan sempurna kala melihat foto Leni yang kini sedang dia pegang.


Bahkan, tanpa sengaja Jony melemparkan foto tersebut karena dia merasa jika foto tersebut terlihat bergerak dan tersenyum kepadanya.


Jony terlihat menegakkan tubuhnya, wajahnya kini terlihat pucat. Aneska, Mario, Alex dan Naura saling pandang, mereka langsung menyadari apa yang terjadi kepada Jony.


Dengan tingkah Jony yang seperti itu, justru mereka merasa yakin jika dia memanglah orang yang sudah membunuh Leni.


Lelaki jahanam yang sudah sangat tega mencumbui Leni sampai membuat wanita itu hamil. Namun, dengan mudahnya lelaki itu membunuh wanita yang begitu mencintainya dengan tulus itu.


"Bang Jony kenapa?" tanya Aneska.


Aneska sengaja bertanya seperti itu, siapa tahu Jony akan mengatakan sesuatu, pikirannya.


"Ti--tidak apa-apa, Non. I--itu, fotonya dapet dari mana?" tanya Jony.


Leni adalah orang kampung pikirnya, kenapa Aneska bisa mempunyai foto Leni? Tidak mungkin bukan jika mereka saling mengenal? Karena Aneska tinggal di ibu kota, itulah pemikiran yang terbersit di benak Jony.


"Oh, ini foto anaknya Mang Asep. Penjaga Villa ayah, kamu tahu ngga, Bang? Dia mati dibunuh," kata Aneska dengan tangannya yang terlihat mendorong bahu Naura hingga dia terhuyung.


Jony terlihat bergidig kala Aneska memukul mendorong bahu Naura daribelakang, karena gerakan yang Aneska lakukan sama persis dengan apa yang dia lakukan terhadap Leni.


Melihat reaksi dari Jony, Aneska semakin bersemangat. Kemudian dia menatap Jony dengan lekat dan kembali bercerita.


"Abang tahu, dia dikuburkan oleh kekasihnya sesaat setelah disiksa. Bahkan dengan teganya lelaki itu menguburkan wanita yang lemah tidak berdaya dengan janin yang ada di dalam perutnya," kata Aneska dengan suara yang dibuat-buat semenakutkan mungkin.


Hal itu semakin membuat nyali dari Jony semakin menciut, wajahnya semakin pucat pasi. Melihat akan hal itu, Naura ingin sekali tertawa. Namun, sekuat tenaga dia tahan.


"Te--terus apa hubungannya dengan sa--saya? Kenapa Nona menceritakannya kepada saya?" tanya Jony dengan gugup.


Tanpa Joni juga Aneska terlihat berjalan ke arah Jony, lalu dia duduk tepat di samping lelaki itu. Dia kemudian memukul bahu Jony dengan cukup kencang, hal itu membuat Jony terlonjak kaget.

__ADS_1


"Abang ini botol atau gimana sih? Tentu saja aku mau meminta bantuan Abang, bukannya Abang berasal dari satu kota yang sama dengan Leni?" tanya Aneska.


Jony benar-benar gelagapan ketika ditanya akan hal tersebut oleh Aneska, jika dia berkata iya dia takut jika Aneska akan curigam


Namun, jika berkata tidak Aneska pasti sudah tahu data dirinya karena memang terdaftar di perusahaan milik ayahnya tersebut, pikirnya


"Tapi saya tidak tahu apa-apa, Nona. Bukankah ada polisi yang bisa menanganinya? Kenapa Nona malah meminta tolong kepada saya?" tanya Jony.


"Ya, karena Abang satu kampung dengan Leni. Siapa tahu Abang kenal dengan dirinya bukan?" tanya Aneska.


Jony semakin gelisah dibuatnya, apalagi pertanyaan dari Aneska semakin menyudutkan dirinya. Jony terlihat hendak bangun, tapi Aneska menahan tangan Jony terlebih dahulu


"Abang mau ke mana? Jangan ke mana-mana dulu, aku masih ingin berbicara," kata Aneska.


"Ma--mau berbicara apa lagi?" tanya Jony.


Dia sudah mulai merasa kesal, takut dan juga gelisah secara bersamaan. Dia sangat takut jika Aneska dan teman-temannya akan tahu dengan apa yang sudah dia lakukan.


Apalagi jika kini dia merasa jika di sekitarnya tercium wangi parfum yang biasa digunakan oleh Leni, dia sangat takut sekali.


"Tapi aku masih harus bekerja," kata Jony beralasan.


"Abang tenang saja, aku sudah meminta orang lain untuk mengerjakan tugas Abang. Santailah, Bang. Duduk diam-diam," kata Aneska.


"Ta--tapi--"


"Kenapa aku harus di sini, sedangkan kalian akan keluar?" tanya Jony.


Kini Jony benar-benar merasa takut, gelisah dan juga merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aneska.


Hatinya kini merasa tidak baik-baik saja, perasaannya mengatakan akan ada sesuatu hal yang akan terjadi. Hal yang buruk sebentar lagi akan menimpa dirinya.


"Jangan bingung seperti itu, Bang. Tunggulah sebentar, aku mau ke ruangan ayah. Mau mengambil tugas buat Abang, jangan membantah. Nanti Abang bisa dipecat hanya karena tidak mau mengerjakan tugas dari ayah," kata Aneska.


"Ya, ya. Aku akan menunggu di sini," jawab Jony takut-takut.


Tentu saja dia takut akan dipecat, karena gaji bekerja di perusahaan milik ayah Aneska itu sangat besar. Bahkan dia selalu mendapatkan banyak uang tips dari tamu yang datang.


Bahkan hanya dengan membantu membelikan apa yang diperlukan oleh para karyawan yang bekerja di sana saja, atau membantu membawakan pekerjaan dari para karyawan yang ada di sana saja, bisa membuat Jony mendapatkan uang tips yang banyak.


Apalagi selama dia bekerja di sana Jony begitu pandai mencari muka, sehingga banyak para karyawan di sana yang mau memberikan uang tips kepadanya.


"Bagus, kalau begitu tunggulah sebentar," katak Aneska.

__ADS_1


"Ya," jawab Jony.


Entah kenapa, dia merasa sangat gugup sekali. Apalagi saat ini dia merasa jika hawa di dalam ruangan tersebut terasa dingin, bahkan tengkuk lehernya pun terasa sangat dingin.


Sesekali Jony terlihat mengusap tengkuk lehernya seraya mengedarkan pandangannya, karena semakin lama dia semakin merasa jika Leni ada di sampingnya.


Pada akhirnya Aneska mengajak ketiga sahabatnya untuk keluar, karena ada hal lain yang perlu dia lakukan di luar.


Ketek! Ketek!


Terdengar Aneska mengunci pintu dari luar, Jony terlihat kaget. Dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu dan berusaha untuk membuka pintu ruangan tersebut, sayangnya sama sekali tidak bisa.


"Buka! Tolong buka pintunya! Tolong!" teriak Jony seraya menggedor-gedor pintu.


Karena Aneska sudah menguncinya, dia terlihat panik kala mengetahui dirinya sengaja dikunci dari luar. Dia juga merasa lebih panik lagi karena tiba-tiba saja dari ruangan itu ternyata ada pintu lain yang terbuka dan keluarlah beberapa orang bertubuh kekar menghampiri Jony.


"Siapa kalian? Siapa? Kenapa kalian ada di sini?" teriak Jony dengan tubuh bergetar karena ketakutan.


Para lelaki itu adalah anggota polisi yang memang bertugas untuk menangkap Jony, hanya memang sebelum itu polisi ingin melihat reaksi dari wajah Jony ketika Aneska bercerita tentang Leni.


Wajah Jony benar-benar terlihat membuktikan jika dirinyalah yang membunuh Leni, karena wajahnya terlihat begitu pucat dan ketakutan ketika Aneska membahas tentang Leni.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Jony.


Kini bukan hanya tubuh Jony yang terlihat bergetar hebat, tapi kakinya pun terlihat lemas. Tubuhnya bahkan sampai merosot ke lantai, apalagi kini dia melihat bayangan wajah Leni di pojok ruangan yang terlihat seakan sedang menertawakan dirinya.


"Le--Leni," panggil Jony lemah. Namun, para polisi tersebut masih bisa mendengarnya.


Para polisi tersebut terlihat saling pandang, mereka menyangka jika Jony kini berhalusinasi. Kemudian mereka bergerak cepat menghampiri Jony dan langsung memborgol tangannya.


Mereka juga mencoba membangunkan Jony dan langsung membawa Jony keluar dari ruangan tersebut, karena memang mereka sudah mempunyai kunci dari ruangan tersebut.


Tidak ada perlawanan dari Jony, justru kini tubuhnya semakin melemah. Dia benar-benar terlihat sangat ketakutan, wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup.


Saat polisi membawa Jony keluar dari ruangan tersebut, ternyata ayah Aneska, Aneska, Mario, Naura dan juga Alex sudah berada di sana.


"Terima kasih atas kerja samanya," kata Pak polisi.


"Sama-sama," kata Ayah Aneska.


Setelah mengatakan hal itu, polisi terlihat menggeret Jony untuk segera dibawa ke kantor polisi. Para karyawan di sana yang menatap heran ke arah Jony, selama satu bulan Jony bekerja di sana dia tidak pernah melakukan kesalahan.


Justru dia telah melihat baik dan juga ramah, banyak para karyawan di sana yang berempati kepada dirinya. Mereka tidak menyangka jika ternyata Jony kIni dibawa oleh polisi entah karena kasus apa mereka tidak berani bertanya.

__ADS_1


****


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.


__ADS_2