
Tuan Anggara terlihat kesal dan takut saat mendengar istrinya akan melaporkan dirinya ke polisi, apalagi saat ini Ibu Riyani terlihat sudah mengambil ponselnya dan mulai bersuara.
"Sayang! Maafkan aku, aku janji akan memperbaiki diriku. Aku minta maaf karena sudah me--"
Ibu Riyani nampak mengangkat sebelah tangannya, dia seolah memberi kode agar tuan Anggara tidak lagi bersuara.
"Cukup, Anggara! Seharusnya kamu bersyukur karena aku tidak meminta nyawamu," kata Ibu Riyani tegas.
Tuan Anggara nampak memelototkan matanya, dia tidak percaya jika wanita lembut yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh cinta kini terlihat begitu membenci dirinya.
Tidak pernah sekalipun ibu Riyani berbuat kasar dan mengatakan hal yang menyakitkan hati orang lain.
"Jika saja mau, aku bisa saja membawamu ke pulau peribadi miliku. Aku bisa menenggelamkan kamu di sana," kata Ibu Riyani.
Ibu Riyani nampak menatap tuan Anggara dengan tatapan penuh kebencian, rasa cinta yang begitu besar untuk lelaki itu hilang dan menguap entah ke mana.
Gleg!
Tuan Anggara nampak menelan ludahnya dengan susah, dia tidak menyangka jika ibu Riyani akan mengatakan hal itu.
"Sa--sayang, please. Maafkan aku," kata Tuan Anggara dengan tatapan penuh permohonan.
Ibu Riyani nampak membalas tatapan mata tuan Anggara, tidak lama kemudian dia nampak membuang muka.
Walaupun rasa benci, kesal dan juga kecewa menyelimuti hatinya, tapi saat melihat tatapan mata tuan Anggara, dia takut jika perasaannya akan goyah.
Berbeda dengan Naura, dia malah menghampiri tuan Anggara. Lalu,dia meludah tepat di hadapan lelaki paruh baya itu.
Dia benar-benar merasa kesal, karena lelaki paruh baya itu dengan teganya membunuh anak dari istri yang katanya sangat dia cinta itu.
"Cuih! Sekarang saja lagaknya sudah seperti kambing yang mau dipotong di penjagalan, lemah tidak berdaya," celetuk Naura dengan gerakkan meledek.
Alex, Mario dan juga Aneska nampak saling pandang. Mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
Mario yang tidak ingin terjadi sesuatu hal terhadap Naura, langsung menghampiri Naura dan dia merangkul pundak sahabatnya tersebut.
Dia terlihat mencondongkan kepalanya, lalu dia menunduk dan berbisik tepat di telinga sahabatnya tersebut.
"Shuut! Elu ngga usah ikut campur, sekarang giliran ibu Riyani yang bersuara dan bertindak," kata Mario setengah berbisik.
Mario lalu tersenyum ke arah Ibu Riyani, tidak lama kemudian dia nampak menunutun sahabatnya itu untuk menjauh.
__ADS_1
Ibu Riyani yang sudah selesai menghubungi polisi langsung menghampiri tuan Anggara, dia tersenyum getir lalu berkata.
"Tunggullah sebentar lagi, polisi akan segera datang," kata Ibu Riyani.
Raut wajah tuan Anggara benar-benar sangat ketakutan, dia tidak mau dipenjarakan. Dia tidak mau istrinya tersebut membuangnya begitu saja.
"Jangan tega seperti itu, Sayang. Aku hanya khilaf, aku janji akan memperbaiki diri." Tuan Anggara mengiba.
Ibu Riyani tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh tuan Anggara, dia malah membalikkan tubuhnya lalu menghampiri Alex.
"Tolong jaga dia, aku akan memeriksa rekaman CCTV-nya," kata Ibu Riyani.
Ibu Riyani benar-benar sudah tidak sabar ingin segera mengumpulkan bukti dan menjebloskan lelaki yang masih berstatus suaminya itu ke dalam penjara.
"Siap, Nyonya!" jawab Alex.
Ibu Riyani nampak tersenyum, kemudian dia mulai melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Dia harus segera menyalin rekaman CCTV untuk diserahkan kepada polisi.
Melihat kepergian istrinya, tuan Anggara nampak berteriak histeris. Dia benar-benar takut jika dirinya benar-benar akan dipenjarakan saat ini juga.
"Riyani, Sayang! Tolong jangan lakukan itu, Sayang! Riyani!"
Tuan Anggara terus saja berteriak, Mario yang merasa kesal langsung menghampiri lelaki paruh baya itu. Lalu dia membekuk punduk dari lelaki tua itu.
Dalam sekejap saja tuan Anggara tidak bersuara lagi, matanya nampak terpejam. Kepalanya nampak tertunduk lemas, dia pingsan.
"Mario! Elu gila!" teriak Naura.
"Dia hanya pingsan, elu ngga usah khawatir," kata Mario.
"Tetap saja elu keterlaluan, masa orang tua malah dibikin pingsan!" keluh Naura.
"Dia berisik, suaranya engga enak. Gue mending denger suara cempreng elu, bikin gue semangat," kata Mario.
"Ish! Apaan sih, elu ngadi-ngadi aja!" kata Naura.
Naura langsung memalingkan wajahnya, dia merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Mario.
"Gue ngga ngada-ngada, suara cempreng elu paling enak didenger. Gue haus, nangkep pak tua itu menguras tenaga. Anterin gue ke dapur, pengen minum gue," kata Mario seraya menuntun Naura menuju dapur.
Walaupun merasa sangat kesal, tapi tetap saja Naura mengikuti keinginan dari Mario. Mereka langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.
__ADS_1
Melihat kepergian Naura dan juga Mario, Alex dan juga Aneska terlihat saling pandang. Kemudian, mereka terlihat tersenyum penuh arti.
"Mereka cocok ya?" kata Aneska seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah Alex.
"Hem, mereka cocok. Oiya, Nes. Elu ngga pengen pacaran?" tanya Alex.
"Pengen sih, tapi ngga ada cowok yang suka sama gue keknya," jawab Aneska seraya terkekeh.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, Alex nampak menggenggam tangan Aneska dengan erat. Lalu dia tatap wajah gadis yang sedari kecil selalu bersama dengan dirinya itu.
"Kalau gue suka sama elu, elu mau ngga jadi pacar gue?" tanya Alex.
Aneska nampak mengerjapkan matanya berkali-kali, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Alex.
Apalagi Alex kini menatapnya dengan tatapan serius, Aneska merasa jika lelaki yang ada di hadapannya kini bukanlah Alex.
"Ma--maksud elu gimana?" tanya Aneska dengan tatapan yang tidak lepas dari mata Alex.
"Ehm, maaf kalau mengganggu. Itu, ada apa dengan suami saya?" tanya Ibu Riyani yang ternyata sudah berada tepat di samping Alex dan juga Aneska.
Sontak Alex dan Aneska langsung memundurkan tubuhnya, mereka terlihat malu-malu. Terlebih lagi Aneska, wajahnya terlihat memerah.
"Emm, itu, Nyonya. Dia pingsan," jawab Alex.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu saya mau ke kamar tamu dulu, mau ngambil bukti yang lainnya. Apa kalian mau ikut?" tanya Ibu Riyani.
Untuk sesaat Alex dan juga Aneska saling pandang, kemudian Alex bersuara.
"Nyonya pergilah dengan Aneska, dia yang lebih tahu. Aku akan menjaga tuan Anggara, aku takut dia kabur," kata Alex beralasan.
Alex sebenarnya merasa sangat gugup saat berdekatan dengan Aneska, karena setelah mengatakan hal itu entah kenapa perasaannya begitu terasa lain.
Apalagi Aneska belum sempat membalas ucapannya, dia takut jika Aneska akan membenci dirinya.
"Baiklah, aku titip Anggara," kata Ibu Riyani.
"Iya, Nyonya," jawab Alex.
Setelah berpamitan kepada Alex, Ibu Riyani nampak mengajak Aneska untuk masuk ke dalam kamar tamu. Sedangkan Alex terlihat menghembuskannya napas berat lalu duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
**
__ADS_1
Selamat sore Bestie, yuk remekeun kolom komentar. Karena koment dan. like dari kalian adalah penyemangat buat Othor, love sekebon kembang.