Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Tiba di butik ternama yang berada di pusat kota, aku langsung memilih semua baju yang aku suka. Tentu saja baju yang aku inginkan tidak jauh dari celana jeans, jaket dan juga kemeja.


Karena memang itulah yang aku suka, aku tidak begitu suka memakai baju yang feminim. Rasanya aku akan susah bergerak jika memakai baju seperti long dress atau juga mini dress.


Aku sempat memperhatikan ayah dan juga bunda, mereka terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat aku yang begitu bersemangat.


Jujur saja bukan membeli bajunya yang membuat aku bahagia, tapi kebersamaanku bersama dengan kedua orang tuaku yang begitu membuat aku bahagia.


"Sayang, ini bajunya sudah banyak banget loh. Belum kalau nanti kita ke Mall, mobil ayah bisa penuh sama barang kamu aja," keluh Ayah.


Mendengar apa yang ayah katakan, aku langsung mengkerucutkan bibirku. Rasanya aku tidak suka saat ayah mengatakan hal itu.


"Ya sudah, aku mau minta pemilik tokonya untuk mengantarkan barang yang aku beli ke rumah saja. Ga usah dibawa pakai mobil Ayah," ucapku.


Mendengar apa yang kukatakan, ayah dan bunda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku merasa masa bodo, karena ini adalah kesempatan aku untuk menghabiskan uang ayah.


Mumpung ayah dan bunda mengajak aku untuk berjalan-jalan, inilah waktu aku menguras habis isi dompet ayah. Sekali-sekali dong ngabisin duit ayah, apa salahnya iya kan.


"Ya sudah, terserah apa kata kamu saja. Belilah semua yang kamu inginkan, Ayah setuju," kata Ayah pada akhirnya.


Aku langsung bersorak bahkan langsung melompat dan memeluk bunda dengan erat, sungguh hari ini benar-benar akan menjadi saat yang paling menyenangkan untukku.


Setelah selesai puas berbelanja, aku langsung meminta ayah untuk pergi menuju pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota.


Aku ingin membeli tas branded dan juga sepatu serta sendal yang sudah sangat lama aku inginkan, mampang-mumpung ya, kan.


Hari ini benar-benar aku lalui dengan penuh keceriaan, setelah puas berkeliling di pusat perbelanjaan dan menemukan semua barang yang aku inginkan, aku merasa sangat lelah.


Aku meminta kepada ayah untuk langsung saja pergi ke Resto Jepang, karena selain lelah aku juga merasa sangat lapar.


"Laper, Yah. Kita ke Resto Jepang, Yah, Bun," pintaku.

__ADS_1


Ayah terlihat melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian dia berkata.


"Sebaiknya kita sholat dzuhur terlebih dahulu, karena ini sudah jam dua belas lewat."


Aku dan bunda mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh ayah, karena setelah melaksanakan sholat dzuhur kita akan lebih merasa tenang lagi. Aku juga akan lebih leluasa untuk pergi lagi, karena perut sudah terisi.


Setelah berhenti di sebuah Masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur bersama dengan ayah dan bunda, akhirnya kami pergi ke Resto Jepang yang memang sudah sangat aku inginkan.


Dengan tidak sabar aku langsung memesan semua menu yang ada di sana, karena memang aku sudah sangat lama tidak datang ke Resto tersebut.


Tidak lupa aku juga memesan beberapa menu makanan untuk dibungkus agar bisa dinikmati di rumah bersama dengan bibi.


Bunda dan ayah sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin saja karena mereka merasa tidak percaya dengan apa yang aku lakukan saat ini.


Akan tetapi aku merasa tidak peduli karena aku merasa jika hari ini adalah hari kebahagiaanku, hari kebebasanku dan hari yang benar-benar membuat aku bahagia.


"Pelan-pelan makannya, Sayang. Nanti kamu tersedak," kata Bunda.


"Hem," jawabku dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"ANESKA!"


Tiba-tiba saja aku merasa ada yang memanggilku terasa sangat kuat tapi lirih. Aku langsung mengedarkan pandanganku, ternyata tidak jauh dari meja tempat kami makan, aku melihat pocong yang sempat beberapa kali aku lihat.


Dia terlihat berdiri di samping pria paruh baya yang terlihat sangat gagah di usianya yang memang tidak muda lagi, aku merasa sangat kaget dengan apa yang aku lihat.


Aku sampai terbatuk-batuk karena tersedak dengan makanan yang sedang aku kunyah sendiri, rasa sakit, panas dan juga perih langsung menjalar ke tenggorokanku.


Melihat aku yang begitu kesakitan dan juga sesak napas, dengan cepat bunda mengambilkan air dan menyodorkannya kepadaku.


Aku pun dengan cepat langsung meminumnya hingga tandas, tapi tetap saja setelah meminum air tersebut tenggorokanku terasa masih panas dan juga perih. Mungkin karena rasa pedas dari makanan tersebut.

__ADS_1


"Hey! Makanya kalau makannya itu pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti itu. Tidak ada yang minta juga," kata Bunda.


"Bukan itu, Bunda, Ayah. tapi itu," ucapku seraya menunjuk ke arah pria paruh baya tersebut.


Bunda dan ayah langsung menolehkan wajah mereka ke arah yang aku tunjuk, sedangkan aku malah mengalihkan pandanganku karena aku sempat bersitatap dengan pocong yang terlihat begitu mengerikan itu.


Mungkinkah pocong itu adalah pria yang dipukul oleh beberapa orang bertubuh tegap itu? Mungkinkah pocong itu adalah pria yang dibakar di dalam gudang itu, tanyaku dalam hati.


Aku benar-benar tidak tahu, tapi jujur saja aku benar-benar sangat takut. Apalagi saat melihat wajah pocong itu, dia sangat mengerikan.


"Eh? Bukannya itu pak Sanjaya ya? Rekan bisnis kita," kata Bunda.


"Bener, Bun. kok dia sendirian, ya? Udah gitu tumbenan di jam kerja seperti ini dia malah nyangkut di sini? Bukankah dia sangat disiplin?" tanya keherenan.


Ayah saja terlihat keheranan bersama dengan bunda, lalu bagaimana dengan aku yang memang tidak tahu apa-apa coba.


Setelah memperhatikan pria paruh baya tersebut, ayah dan bunda terlihat menolehkan wajahnya ke arahku. Lalu mereka langsung bertanya.


"Maksud kamu apa sih, Sayang? Kok nunjuk-nunjuk pak Sanjaya? Apa kamu kenal sama dia?" tanya Ayah.


"Aku ngga tahu, Yah. Aku ngga kenal dia, aku menunjuk ke sana itu bukan ke arah pria paruh baya itu, tapi makhluk yang ada di sampingnya," ucapku.


blBunda dan ayah terlihat mengerutkan dahinya, mereka seolah bertanya-tanya dengan apa yang aku ucapkan.


"Maksud kamu apa sih, sayang? Bunda ngga paham," kata Bunda.


"Iya bener, Ayah juga ngga paham," timpal Ayah.


Jadi gini. Yah. Pocong yang kemarin aku lihat di rumah yang ngikutin ayah itu, sekarang ada di samping pria paruh baya itu. Serem banget Yah, pocongnya ngeliatin aku terus," kataku seraya menunduk.


Hal itu aku lakukan karena aku benar-benar tidak berani menatap ke arah pria paruh baya itu, karena ada pocong itu yang benar-benar terlihat sangat menyeramkan. Rasanya aku belum berani berhadapan secara langsung dengan pocong tersebut.

__ADS_1


***


Selamat siang Bestie, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan komentar dan juga likenya.


__ADS_2