Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Tidak Habis Pikir


__ADS_3

Sesaat setelah bunda menelpon ayah, aku ayah dan ketiga teman-temanku memutuskan untuk menemui bunda di Cafe tempat di mana dia bertemu dengan tuan Edward.


Sejak dulu ayah memang selalu menghandle urusan di dalam kantor, sedangkan untuk pertemuan antar perusahaan bunda yang selalu maju. Karena bunda lebih teliti dalam mengambil keputusan.


Tiba di Cafe bunda terlihat duduk dengan risau, tapi di sana tidak ada tuan Edward alias pria jahat yang sudah tega menyuruh orang-orang bertubuh tegap dengan wajah menyeramkan itu untuk membunuh lelaki yang tidak berdaya sampai mati.


Sebenarnya aku begitu penasaran dengan sosok tuan Edward tersebut, sebenarnya siapa dia? Seberapa besar pengaruhnya di dalam dunia bisnis?


"Bunda!"


Aku langsung duduk di samping kanan bunda dan memeluknya dengan erat, ayah sepertinya ingin ikut memeluk bunda, tapi terlihat malu karena di sana banyak orang dan juga ada ketiga sahabatku.


Akhirnya ayah hanya duduk tepat di samping kiri bunda dan mengelus-elus lembut punggung bunda, bunda terlihat tersenyum ke arah ayah. Lalu dia menggengam erat tangan bunda, ayah seolah sedang menenangkan bunda.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Bun? Kenapa Bunda terlihat begitu risau?" tanyaku penasaran.


Bunda terlihat menghela napas panjang, kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan. Hal itu dilakukan berulang-ulang, bunda sepertinya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Cerita saja, Bun. Biar Ayah tahu ada apa?" tanya Ayah.


"Setelah Bunda memeriksa berkas pengajuan kerjasama dari tuan Edward, Bunda menemukan banyak kejanggalan. Makanya sebelum Ayah menelpon pun Bunda sudah menolak kerjasama ini," jelas Bunda.

__ADS_1


Dalam hati aku benar-benar mengakui jika bunda memanglah orang yang sangat teliti persis seperti yang ayah katakan, karena dengan mudahnya dia menemukan banyak kejanggalan hanya dengan sekali pertemuan saja.


Padahal ayah berkata jika dia sempat beberapa kali bertemu dengan tuan Edward dan membicarakan tentang kerjasama yang akan mereka lakukan, hanya saja belum sampai ke tahap pertemuan penting seperti yang bunda lakukan dengan tuan Edward saat ini.


"Lalu, apa yang terjadi? Apa dia marah karena Bunda menolak pengajuan kerja sama dengan perusahaan miliknya?" tanya Ayah.


"Hem, sepertinya dia sangat marah kepada Bunda. Hanya saja dia tidak berkata kasar, dia hanya berkata 'pikirkanlah kembali, jangan sampai anda menyesal dikemudian hari'.


Ternyata tuan Edward mengancam bunda secara halus, bisa saja yang dimaksud oleh tuan Edward adalah dia yang akan menghancurkan perusahaan milik ayah dan bunda, tapi dengan cara yang kotor tapi bersih.


Aku benar-benar tidak paham kenapa tuan Edward marah ketika bunda tidak mau menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan milik pria itu, padahal ayah sempat berkata jika perusahaan milik tuan Edward lebih besar dari perusahaan milik ayah.


Sepertinya pria jahat itu benar-benar mempunyai rencana di luar dugaan kami, tapi apa rencananya, itulah yang aku bingungkan saat ini. Itulah yang belum aku temukan jawabannya.


Bunda terlihat tersenyum ke arah ayah, lalu dia menganggukan kepalanya. Sepertinya bunda juga setuju dengan apa yang diusulkan oleh ayah.


Pada akhirnya kami pun memutuskan untuk pergi dari Cafe tersebut, saat baru saja aku keluar dari pintu Cafe tersebut, tanpa sengaja aku menabrak seorang pria yang hendak masuk kedalam Cafe.


Pria itu terlihat tampan dan juga gagah, tubuhnya terlihat sangat atletis. Dia juga terlihat memandangku dengan dahi berkerut, lalu tidak lama kemudian dia nampak bersuara.


"Aneska! Sumpah gue seneng banget bisa ketemu sama elu," kata pria itu seraya menggenggam erat tanganku.

__ADS_1


Aku yang merasa tidak mengenal pria itu langsung menarik tanganku dari genggaman tangannya, rasanya sangat tidak pantas karena kami baru saja bertemu. Namun, dia sudah menggenggam tanganku dengan erat seperti itu.


"Sorry gue ngga kenal sama elu, lagian elu kurang ajar banget sih asal pegang-pegang tangan gue!" ketusku.


Mendengar ucapanku yang terasa kasar, pria itu bukannya marah tapi malah terkekeh. Dia bahkan kembali menggenggam tanganku, tapi dengan cepat Alex menepis tangan lelaki itu.


"Sorry, Bro. Anes udah jadi cewek gue, elu ngga boleh pegang-pegang tangan Anes," kata Alex.


Mendengar apa yang Alex katakan, semua orang langsung menatap ke arah kami dengan tatapan serius, termasuk lelaki tersebut. Aku menjadi salah tingkah dibuatnya, dalam hati aku merutuki apa yang Alex katakan. Rasanya aku ingin sekali menggunting bibir tebalnya yang asal bicara seperti itu.


Lebih parah lagi saat aku melihat tatapan ayah dan bunda, mereka seolah ingin bertanya tapi menahan keinginannya.


"Nes! Elu tega banget sama gue, gue Jonathan. Pria culun yang selalu deketin elu waktu elu SMP, elu bilang gue udah tua dan ngga pantas bersanding sama elu. Karena gue yang udah kuliah kala itu," jelas pria itu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, aku langsung menelisik wajah pria itu. Lalu, aku tatap penampilannya dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Dilihat dari sisi manapun juga dia terlihat tampan dan juga gagah, tidak seperti wajah Jonathan yang dulu culun, berkacamata tebal dan selalu memakai baju longgar dengan celana bahan yang dirasa sama warnanya yang dia pakai dalam setiap harinya.


Namun, kini aku melihat dia yang begitu tampan dengan setelan baju formal yang melekat di tubuhnya. Dia benar-benar terlihat gagah, sepertinya dia bukan Jonathan.


"Nes! Elu udah inget gue, kan? Gue balik ke sini buat buktiin ke elu kalau gue bisa sukses dan bisa menjadi pria tampan seperti yang elu mau," kata pria itu tanpa memedulikan wajah Alex yang terlihat memerah karena menahan amarah.

__ADS_1


***


Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, love sekebon kembang.


__ADS_2