Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Kesedihan Yang Dalam


__ADS_3

"Bohong! Kamu pasti bohong!" teriaknya. "Suamiku tidak akan pernah melakukan hal itu," katanya lagi.


Setelah mengatakan hal itu, dia terlihat mendekatiku. Lalu, dia menarik kerah kemeja yang aku pakai.


Mau tidak mau aku pun berdiri karena dia menarik kerah kemejaku dengan sangat kencang, Naura terlihat ingin menghampiriku.


"Diam dan jangan bergerak!" teriaknya pada Naura.


Aku benar-benar sangat kaget saat ibu Riyani berteriak dengan sangat keras sambil menunjuk Naura, dia yang awalnya terlihat begitu lembut kini terlihat begitu marah dan juga kesal.


Bahkan tatapannya matanya begitu tajam saat melihatku dan juga Naura secara bergantian, aku tidak paham dengan perubahan dari wajahnya tersebut.


Padahal, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya tentang apa yang terjadi kepada Rayena. Karena memang Rayena yang memintanya.


Bahkan saat ini aku bisa melihat kekecewaan di mata Rayena, karena Rayena kini berada tepat di belakang Ibu Riyani.


"Jangan pernah menjelek-jelekan suamiku!" bentaknya padaku.


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, dia terlihat marah dan langsung mendorongku dengan kencang.


Beruntung ada tiang penyangga di sana, sehingga aku tidak jatuh tersungkur. Rayena terlihat menangis, dia seakan begitu sakit melihat aku yang diperlakukan secara tidak baik oleh ibunya sendiri.


Ibu Riyani bahkan terlihat menghampiriku, dia seakan masih ingin menumpahkan kekesalannya. Namun, aku segera berkata.


"Cukup, Nyonya. Jangan meluapkan kekesalan anda kepada saya, saya tahu anda sedang kesal, sedih dan juga kecewa terhadap diri anda sendiri karena kehilangan putri yang anda sayangi yang perlu anda lindungi. Namun, pada kenyataannya anda telah kecolongan," ucapku.


Aku berharap dengan berkata seperti itu Ibu Riyani bisa mengontrol emosinya, dia bisa berpikir dengan jernih.


Namun, ternyata aku salah. Dia malah terlihat semakin marah, matanya terlihat memerah dengan kilatan penuh amarah.


"Tahu apa kamu, hah? Tahu apa kamu tentang diriku? Tahu apa kamu tentang suamiku dan tahu apa kamu tentang Rayena?" tanyanya dengan penuh emosi.


Aku berusaha bersikap setenang mungkin, karena tidak mungkin aku menghadapi orang yang sedang diliputi oleh amarah dengan hati yang turut panas.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu, anda hanya seorang pengusaha yang terus-menerus mementingkan cara untuk meningkatkan kualitas karir anda. Bahkan anda tidak pernah menyadari jika suami kedua anda adalah orang yang sangat jahat, dia berniat untuk membunuh putri kandung anda saja, anda seolah menutup mata, menutup hati dan menutup telinga," ucapku pelan.


"Sialan! Anak muda sialan!" teriaknya.


"Dari pada anda berteriak tidak jelas, mending anda cek kamar tamu dan juga cek rekman CCTV. Masa orang kaya tidak punya rekaman CCTV!" bentak Naura.


Naura yang sedari tadi diam langsung berteriak, dia berusaha untuk membela diriku. Dia seolah begitu kesal karena sedari tadi dia berusaha untuk menyakitiku.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Naura, Ibu Riyani nampak terdiam. Tubuhnya terlihat melemas, amarah yang sedari tadi menggebu tiba-tiba menguap entah ke mana.


Tanpa kami duga, tiba-tiba saja dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah. Dia terlihat menangis sesenggukan seraya mencakarkan kuku-kuku cantiknya ke atas tanah.


POV Author.


Aneska terlihat kebingungan, melihat apa yang dilakukan oleh Ibu Riyani. Begitupun dengan Naura, mereka benar-benar tidak menyangka jika Ibu Riyani yang tadi terlihat marah-marah dan begitu sangar, kini terlihat begitu rapuh.


Tanpa mereka tahu sebenarnya Ibu Riyani sangat takut untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di dalam rumahnya, dia takut menghadapi kenyataan jika putrinya hilang karena perlakuan dari suami keduanya.


Dia memang sempat beberapa kali melihat gelagat aneh dari suami keduanya tersebut, tapi dia sengaja menutup mata, hati dan pikirannya sesuai dengan apa dikatakan oleh Naura.


Ayah dari Rayena sempat menyakiti dirinya, dia disakiti, dikhianati dan dicampakkan oleh suami pertamanya. Hal itu meninggalkan trauma besar dalam hidupnya.


Bahkan Rayena sampai tidak bisa berbicara pun karena ulah suami pertamanya, dia menyakiti Rayena tanpa perasaan saat Rayena masih balita.


Aneska terlihat menatap Ibu Riyani dengan iba, dia langsung menghampiri Ibu Riyani lalu mengelus lengan wanita itu dengan lembut.


"Nyonya! Anda kenapa? Anda baik-baik saja bukan? tanya Aneska.


Ibu Riyani tidak menjawab, dia malah menubrukkan tubuhnya pada tubuh Aneska yang terlihat ramping.


Dia langsung menangis di dalam pelukan Aneska, Aneska tidak menyangka jika emosi Ibu Riyani bisa berubah begitu saja.


Wanita itu terlihat begitu meratapi kesedihannya, Naura yang sedari tadi diam langsung melangkahkan kakinya menghampiri sahabatnya dan juga Ibu Riyani.

__ADS_1


Naura seolah sedang menenangkan Ibu Riyani yang kini sedang memeluk Aneska dengan sangat erat.


"Jangan bersedih, semuanya sudah terjadi. Kini Rayena sudah tidak ada, sekarang tugas Ibu adalah mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh suami ibu sendiri. Tolong bekerja samalah, kasihan Rayena. Dia sekarang sedang menangis di dekat anda," ucap Aneska.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, ibu Riyani nampak melerai pelukannya. Kemudian dia terlihat celingukan, dia seolah sedang mencari di mana keberadaan dari putrinya tersebut.


"Apa yang sedang Nonya lakukan?" tanya Naura.


"Rayena, di mana Rayena?" tanya Ibu Riyani.


"Di belakang anda," kata Aneska.


"Di mana? Aku tidak melihatnya, aku ingin memeluknya," kata Ibu Riyani seraya menangis sesenggukkan.


Selama ini dia menghabiskan waktu untuk bekerja agar bisa membahagiakan putri semata wayangnya tersebut. Namun, semuanya terasa sia-sia kala kini dia mengetahui jika Rayena telah tiada.


Untuk sesaat Aneska terdiam, dia seakan bingung harus menjawab apa pertanyaan dari ibu Riyani tersebut. Tidak lama kemudian, Aneska nampak tersenyum. Kemudian, dia berkata.


"Tutuplah mata anda, Nyonya. Kemudian rasakan keberadaan putri anda, bukankah seorang ibu mempunyai ikatan batin yang sangat kuat dengan putrinya?" tanya Aneska.


Ibu Riyani nampak menganggukkan kepalanya, dia seolah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aneska. Kemudian, dia terdiam dan mulai memejamkan matanya.


Tidak lama kemudian, Rayena terlihat mensejajarkan tubuhnya dengan Ibunya. Dia berusaha untuk memeluk Ibunya tersebut, sayangnya tidak bisa.


Aneska nampak menangis melihat akan hal itu, betapa sedihnya dirinya melihat Rayena yang ingin memeluk Ibunya. Namun, tidak bisa.


Naura seolah paham, dia langsung memeluk Aneska dan mengelus lembut punggungnya. Tidak lama kemudian, mereka melihat ibu Riyani menangis dalam diam. Air matanya nampak bercucuran, tapi mulutnya terkunci rapat.


"Ayo kita lihat rekaman CCTV," ajak Ibu Riyani.


"Iya," jawab Aneska dan juga Naura secara bersamaan.


**//

__ADS_1


Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa tinggalkan like dan komennya, ya.


__ADS_2