Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Rayuan


__ADS_3

"Denger ya, Lex. Elu tetap sahabat gue, Jonathan itu bukan tipe gue. Gue ngga bakalan mau nikah sama dia, mana ada lelaki yang menurut gue ngga sopan mau gue jadiin laki," ucapku.


Terlihat binar bahagia di wajah Alex, walaupun ada juga rasa kecewa di matanya. Sepertinya Alex begitu tulus mencintai aku, tapi... entahlah.


"Tapi, Nes. Gue mohon, elu jadi cewek gue ya. Gue tahu kalau gue belum ada apa-apanya dibandingin sama si Jonatahan itu, tapi gue tulus cinta sama elu. Elu terima cinta gue oke, ngga apa-apa deh kalau elu ngga cinta sama gue. Yang penting gue cinta sama elu," ucap Alex penuh harap.


Aku, Naura dan juga Mario langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Selama ini Alex begitu pendiam, tidak pernah bayank bicara kecuali saat-saat tertentu.


Namun, kali ini dia terlihat begitu cerewet. Bahkan dia terlihat mengemis cinta kepadaku, mungkin saja hal itu dia lakukan karena dia takut jika aku akan menerima cinta Jonathan. Kasian si sebenernya, tapi gimana ya, aku tidak mencintainya.


"Tapi, Lex. Gue ngga cinta sama elu," kata aku.


"Iya gue tahu, ga apa-apa kalau elu ngga cinta sama gue. Yang pasti nanti seterah elu nerima cinta gue, gue bakal bikin elu cinta mati sama gue," kata Alex dengan penuh percaya diri.


Sumpah demi apa pun Alex benar-benar lucu menurutku, aku ingin sekali tertawa saat ini. Namun, melihat wajah serius Alex aku sekuat tenaga menahan tawa.


"Nes! Gue udah cinta banget sama elu dari lama, tolong terima gue. Gue janji ngga bakal ngecewain elu," kata Alex lagi.


Aku tersenyum ke arah Alex, sahabat yang kini mengemis cinta kepadaku. Aku menepuk-nepuk punggung tangannya, kemudian aku berkata.


"Entar gue pikirin, sekarang gue laper. Mau nyeduh mie dulu. Elu mau ngga? Kalau mau cus kita ke dapur, masak mie rame-rame," ajak aku.


"Elu mah gitu, gue lagi ngomong serius malah diajakin bercanda, kata Alex.

__ADS_1


"Gue ngga bercanda, gue laper banget. Sebelum makan malam siap, mending kita makan mie dulu buat ganjel perut," ucapku.


"Ya udah gua juga mau, ayo Nes. Biarin aja tuh si Alex kalo ngga mau, kita aja yuk, yang ke dapur," ajak Naura.


"Eh? Jangan pergi-pergi aja, gue juga mau," kata Mario seraya menghampiriku dan juga Naura


"Ih, kalian tuh tega banget sih. Gue lagi ngomong serius malah diajak bercanda," kata Alex yang terlihat kesal.


Namun, walaupun Alex terlihat kesal dia tetap ikut bangun dan melangkahkan kaki menuju dapur seraya memegangi tanganku. Dia seolah takut aku tinggalkan.


Tiba di dapur bibi terlihat kaget saat melihat kedatangan kami, dia langsung menghampiriku dan bertanya.


"Eh? Non Anes mau apa? Biar Bibi bikinkan," kata Bibi.


"Tidak usah, Bi. Aku mau masak sendiri, cuma masak mie. Bibi istirahat saja, dari tadi pasti sudah cape kerja terus," kataku.


Hal itu memang sengaja ayah dan bunda lakukan, karena mereka tidak suka ada banyak orang yang berlalu lalang di rumah.


Akan tetapi, walaupun seperti itu bibi digaji dengan uang yang besar oleh ayah dan juga bunda. Tidak mungkin bukan ayah dan bunda memakai jasa orang lain tanpa membayarnya dengan uang yang setimpal.


"Ngga gitu, Non. Bibi ngga capek kok, tahu sendiri pekerjaan di rumah ini sangatlah santai. Bibi bikinin ya, mienya?" tawar Bibi.


"Ngga usah, Bi. Lebih baik Bibi istirahat saja sebelum nanti masak buat makan malam, atau mungkin Bibi juga mau aku bikinin Mie?" tawar aku.

__ADS_1


"Ngga usah, Non. Bibi sudah kenyang, Non. Ya sudah, kalau mau masak sendiri bibi tinggal. Bibi mau nyiram tanaman aja di depan," kata Bibi.


"Iya, Bi. Silakan," kataku.


Setelah berpamitan kepadaku, bibi nampak pergi ke halaman depan untuk menyiram tanaman. Berbeda dengan diriku yang langsung membuka lemari pendingin dan mengambil sayuran, cabe, tomat, sosis, bakso dan juga telur.


Naura yang memang sudah terbiasa masuk ke dapur ikut membantu, dia mengambil empat bungkus mie.


Alex yang masih kesal terhadapku malah duduk di salah satu bangku yang ada di dapur, sedangkan Mario terlihat mengambil panci dan mengisinya dengan air. Lalu dia menyalakan api dan menyimpannya di atas kompor.


"Buat gue mienya dua, biar entar pulang ngga usah makan lagi. Telornya juga dua, biar samaan kaya punya gue," kata Mario pada Naura seraya terkikik geli.


"Apaan sih?" kesal Naura seraya menyikut perut Mario.


"Aduh, jangan galak-galak sama gue. Entar kita malah jadian," kata Mario.


"Mana ada kaya gitu, gue ngga suka sama elu," kata Naura.


"Kalau gue yang suka?" tanya Mario.


"Ya ampun, sekarang mending bantuin gue. Urusin masalah perut dulu," kata Naura.


"Yes, Baby!" kata Mario.

__ADS_1


****


Bab kedua sudah meluncur, jangan lupa like dan komentarnya. Sayang kalian semua, tunggu bab ketiga dan pastikan like san juga koment di setiap babnya.


__ADS_2