
Tuan Dirgantara nampak merangkul pundak istrinya, kemudian mereka berjalan ke arah taman belakang.
Aku, Alex, Naura dan juga Mario mengikuti langkah kedua orang tersebut. Sesekali aku menolehkan wajahku ke kanan dan kekiri
Aku mencari sosok Wira, siapa tahu dia berada di sana. Benar saja, saat aku tiba di taman belakang aku melihat Wira yang sedang duduk seraya menangis di bangku taman.
Aku benar-benar sedih saat melihat tubuh Wira yang hancur dengan wajah yang tidak terbentuk.
Aku benar-benar mengutuk perbuatan dari ibu tiri Wira tersebut, tega-teganya dia melakukan hal tersebut.
"Oh ya, anak-anak. Ini adalah tanaman hias yang biasa saya tanam," kata Bu Dewi.
Dia memperlihatkan beberapa tanaman hias yang terlihat terawat dan juga mahal di taman belakang. Kemudian, dia menatapku lalu berkata.
"Tadi, kamu mau memotret tanaman organik milikku bukan? Nah, kalau tanaman organik ada di samping halaman rumah. Mari," kata Bu Dewi.
"Iya," jawabku seraya menganggukan kepalaku.
Ibu Dewi tersenyum, lalu dia mulai melangkahkan kakinya bersama dengan tuan Dirgantara.
Aku bersama ketiga temanku langsung mengikuti langkah dari keduanya. Saat tiba di samping halaman rumah megah itu, ternyata terdapat lahan yang sangat luas.
Begitu banyak tanaman organik di sana, aku kembali mengedarkan pandanganku. Lalu, mataku melihat sebuah ruangan yang berada di samping rumah megah tersebut.
Ada sebuah ruangan yang terbuat dari kaca, isinya merupakan tanaman hias yang memiliki harga fantastis.
__ADS_1
Aku yang merasa penasaran langsung bertanya kepada bu Dewi, dari pada aku mati penasaran, iya, kan.
"Maaf, Nyonya. Kalau yang itu kenapa ruangannya harus tertutup? Terlihat dikunci, terkesan rahasia. Namun, dari luar nampak terlihat," kataku.
"Oh, itu adalah koleksi tanaman hias yang sangat mahal. Jadi, saya sengaja menguncinya. Namun, tetap bisa terlihat karena memang dindingnya terbuat dari kaca. Jadi, kita masih bisa menikmatinya walaupun tanpa masuk ke dalam sana," kata Ibu Dewi.
"Memangnya kenapa kalau kami masuk ke dalam sana?" tanyaku.
Bu Dewi terlihat kesal. Namun, dia mencoba untuk memberikan senyum termanisnya kepadaku dan juga teman-temanku.
Senyum yang terlihat dibuat-buat agar kami tidak curiga. Namun, tetap saja aku bisa merasakan jika senyum itu palsu.
"Itu adalah koleksi tanaman hias kesayanganku, tentu saja aku tidak mau ada orang yang sembarangan masuk begitu saja. Nanti rusak bahaya," kata Bu Dewi.
Bu Dewi nampak mendelik sebal. Namun, tidak lama kemudian dia nampak tersenyum. Senyum yang terlihat sangat menyebalkan untukku.
"Ya, baiklah," kata Bu Dewi.
Ibu Dewi terlihat melepaskan tangan tuan Dirgantara dari pundaknya, kemudian dia berkata.
"Aku mau mengambil kunci dulu, Mas. Sebentar saja," katanya.
"Ya," jawab Tuan Dirgantara.
Satu hal yang membuatku merasa aneh, kenapa dia harus mengunci ruangan tersebut dan yang membuat aku lebih aneh lagi aku melihat jika Wira ada di dalam sana.
__ADS_1
Dia terlihat terisak, bahkan kini air matanya menyerupai air mata darah Merah kental membanjiri wajahnya, hal itu membuat membuat aku merasa ngeri dan juga jijik secara bersamaan.
Malihat ekspresi wajahku, Alek langsung mengelus lembut lenganku.
"Ada apa?"
Alex terlihat menatapku dengan raut wajah penasaran, aku tersenyum kemudian berbisik tepat di telinganya.
"Aku melihat Wira di sana, dia sedang menangis. Dia terlihat seperti sangat sedih sekali, aku ingin menghampirinya. Namun, belum bisa," kataku seraya menuju ke ruangan berdinding kaca tersebut.
Alex tersenyum, kemudian dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Lalu dia berkata.
"Sabar, sebentar lagi kita akan ke sana," kata Alex.
"Ya," jawabku.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Alex, tidak lama kemudian ibu tiri Wira nampak datang dengan membawa kunci di tangannya.
Aku tersenyum karena sebentar lagi aku bisa berbicara dengan Wira, aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Kenapa dia menangis dan kenapa dia berada di ruangan tersebut? Padahal, saat aku datang dia berada di taman belakang sedang duduk sendirian di bangku taman.
*****
Masih berlanjut, like dan komentnya ditunggu.
__ADS_1