Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Kurang Semangat


__ADS_3

Aku benar-benar kaget saat bunda membangunkan aku, karena ternyata aku malah tertidur. Padahal, rencananya aku akan mandi dan segera bersiap untuk melaksanakan shalat maghribm


Namun, ternyata aku malah tertidur dan masuk ke alam mimpi. Mimpi yang terasa begitu nyata, karena aku bisa melihat pocong itu dengan sangat jelas.


Aku bahkan bisa melihat dengan jelas kesedihan di mata pocong itu beserta dengan anak dan juga istrinya, sangat miris sekali.


Aku benar-benar merasa kasihan terhadap pocong itu, karena dia tidak bisa berkumpul bersama lagi dengan anak dan istrinya. Sepertinya aku harus segera bertanya kepada ayah dan juga bunda.


Sebenarnya siapa bawahan ayah yang bekerja di kantor cabang yang menjadi korban pembunuhan itu?


Hal itu harus aku lakukan dengan segera, agar masalah ini bisa cepat selesai. Aku merasa ingin menjadi orang yang berguna jika sudah seperti ini.


"Disuruh bangun kok malah bengong?" tanya Bunda.


Bunda terlihat mengerucutkan bibirnya, terlihat sangat lucu sekali. Percis seperti anak kecil, pantas saja ayah selalu merasa gemas jika bunda bersikap seperti itu.


Aku yang masih belum sadar sepenuhnya langsung memfokuskan tatapanku ke arah bunda, aku berusaha untuk tersenyum hangat, kemudian aku berkata.


"Maaf, Bunda. Nyawanya belum ngumpul semua," kataku.


Bunda malah terkekeh mendengar apa yang aku katakan, dia mengelus lembut puncak kepalaku lalu berkata.


"Sekarang kamu mandi, setelah itu shalat maghrib biar lebih segar. Nanti, kalau sudah maghrib langsung ke ruang keluarga saja. Kita akan menunggu kedatangan dari Jonathan dan juga ayahnya," kata Bunda.


"Ya, Bunda," kataku tanpa berani membantah apa yang dikatakan oleh Bunda, walaupun pada kenyataannya aku merasa tidak bersemangat untuk menemui Jonathan.


Entah kenapa aku tidak merasa cocok berdekatan dengan Jonathan, padahal aku sangat tahu selain dia tampan, kaya raya, dia juga sangat baik.


Bahkan sosok Jonatahan kini datang membawa hal yang luar biasa, dia kembali dengan prestasinya yang luar biasa dalam berbisnis.

__ADS_1


Hanya saja dalam cara dia bersikap aku merasa kurang suka, apalagi dengan dia yang banyak bicara dan terlihat mengatur-atur orang lain, aku benar-benar tidak suka.


"Ya sudah, kalau begitu Bunda tunggu di ruang keluarga," kata Bunda.


Mendengar apa yang bunda katakan, aku langsung mengerutkan dahiku dengan dalam. Bunda menyuruhku untuk mandi dan segera sholat maghrib, tapi dia sendiri malah berkata akan menungguku di ruang keluarga.


"Oh, memangnya Bunda tidak melaksanakan shalat maghrib?" tanyaku.


Bunda terlihat nyengir kuda mendapatkan pertanyaan dariku, kemudian dia menepuk-nepuk lenganku dengan lembut.


"Biasa, kegiatan rutinan bulanan. Bunda lagi datang bulan," jawab Bunda.


"Oh, gitu. Pantes Bunda malah mau santai, terus gimana Bun, lancar ngga tadi laporannya?" tanya aku, mengingat bunda dan ayah tadi seterah dari Cafe langsung pergi menuju kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang sudah kami lihat.


Kembali bunda tersenyum, tapi kali ini senyumnya terlihat lain. Tersirat rasa khawatir di wajah bunda, aku


"Aamin," kataku mengaminkan.


"Ya sudah, buaruan gih mandi. Jangan lama-lama, nanti waktu shalatnya habis, Bunda juga mau ngecek apakah bibi sudah selesai masak apa belum untuk persiapan makan malam nanti," kata Bunda lagi.


Dalam hati aku mencibir akan sikap bunda, dia seakan begitu repot untuk mempersiapkan acara makan malam bersama dengan Jonathan dan juga ayahnya.


Aku jadi bertanya-tanya di dalam hatiku, sebenarnya seperti apa sih ayahnya Jonathan itu? Kenapa dia terlihat sangat penting untuk bunda? Kenapa ayah dan bunda seakan begitu membutuhkan bantuannya?


"Iya, Bunda," jawabku.


Walaupun dalam hati aku merasa tidak senang, tapi tetap saja aku berusaha untuk berbicara baik dengan bunda.


Aku tidak mau mengecewakan bunda, lagi pula ini hanya acara makan malam biasa. Bukan acara perjodohan, santai Aneska! Please deh jangan parno duluan.

__ADS_1


Setelah berpamitan denganku, bunda terlihat keluar dari kamarku. Sedangkan aku langsung mandi dan juga bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib, kewajibanku terhadap Sang Khalik.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja aku sudah melaksanakan kewajibanku terhadap Sang Khalik dan juga ritual mandiku, setelah itu aku bergegas untuk keluar dari kamarku.


Namun, sebelum itu tentu saja aku mematut diriku terlebih dahulu di depan cermin. Aku mang tidak suka dengan acara pertemuan ini, tapi bukan berarti aku harus mempermalukan diriku sendiri.


Aku tetap harus kelihatan cantik, walaupun ini aku persiapkan bukan untuk Jonathan. Namun, untuk menghargai diriku sendiri.


Aku mau mengoleskan wajahku dengan bedak tabur seperti biasanya, kemudian aku juga memakai liptin di bibirku.


Tidak lupa aku juga mengikat rambutku secara asal kena itu memanglah kebiasaanku. Setelah dirasa selesai, aku langsung keluar dari kamar dan menemui bunda yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Sudah siap, Bun?" kataku seraya duduk tepat di samping Bunda.


"Sudah, Sayang. Bibi sudah menyiapkan semuanya, aman," jawab Bunda.


"Oh, baguslah kalau seperti itu. Ayah mana?" tanyaku.


"Masih di ruang kerja, masih harus ada yang dikerjakan oleh ayah," jawab Bunda.


"Oh," jawabku seraya mengangguk-anggukkan kepalaku tanda mengerti.


Sebenarnya aku tidak tahu kenapa ayah kini malah berada di ruangan kerjanya, padahal serepot apa bun ayah tidak pernah menghabiskan waktu untuk bekerja jika dia sudah ada di dalam rumah.


Sebisa mungkin dia akan menyempatkan waktu untukku dan terkadang akan mengajakku mengobrol sampai aku merasa bosan.


****


Salam santun subuh, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan jejak yes, komentar dan like dan kalian adalah penyemangat untuk Othor.

__ADS_1


__ADS_2