
Aku dan juga ketiga sahabatku mengikuti langkah dari pria paruh baya itu, pria yang mungkin saja adalah ayah dari Wira.
Ada rasa khawatir, takut dan juga senang karena bisa langsung bertemu dengan ayah dari Wira.
Akan tetapi, aku tidak boleh gagal. Aku harus bisa mencari waktu yang tepat untuk mengatakan jika Wira sudah dibunuh oleh ibu tirinya sendiri.
Wanita yang kini menjadi istri dari ayah Wira tersebut, tentunya wanita itu adalah wanita yang dicintai oleh pria itu.
"Silakan duduk!" kata pria paruh baya itu saat tiba di ruang tamu.
Aku, Alex, Naura dan juga Mario langsung duduk tepat di hadapan dari pria paruh baya tersebut.
"Terima kasih, Om," kata kami.
"Ya," jawabnya.
Aku sempat memperhatikan keadaan sekeliling rumah megah tersebut, nampak indah interior dari rumah yang pria paruh baya itu miliki.
Namun, terasa sangat dingin dan juga terasa tidak bersahabat. Seperti ada aura negatif di sana, tapi aku tidak paham apa.
"Oh ya, ngomong-ngomong kita belum saling berkenalan," kata pria baru itu.
"Ah iya, Om. Nama saya Alex," kata Alex memperkenalkan diri.
"Saya Mario!"
"Saya Naura!"
"Saya Aneska, Om," kataku.
__ADS_1
"Oh, nama kalian cakep-cakep sekali. Nama saya Dirgantara," kata pria paruh baya tersebut.
Ya, aku sudah bisa menebak jika pria itu adalah ayah dari Wira. Pria yang Wira sebut sebagai ayah Dirgantara saat meminta pertolongan kepadaku.
"Oh ya, kalian mau minum apa?" tanya Tuan Dirgantara.
"Tidak usah, Om. Tidak usah repot-repot," kata Alex.
"Tidak merepotkan kok, kalian santai saja. Saya pesankan minum ya, biar bibi membuatkannya untuk kalian," kata Tuan Dirgantara.
Tuan Dirgantara terlihat mengambil ponselnya, kemudian dia menyerahkannya kepadaku.
"Ini untuk apa, Om?" tanyaku.
"Untuk mencari alamat kamu dong, biar kalian bisa cepat pulang. Memangnya kalian mau terus tersasar?" kata Tuan Dirgantara.
"Ah iya, benar. Om memang benar," kataku. "Baiklah, terima kasih untuk pinjaman handphonenya, Om," kataku.
Aku menerima ponsel milik tuan Dirgantara, sedangkan tuan Dirgantara nampak pergi. Sepertinya dia akan pergi ke dapur.
Namun, baru saja aku hendak membuka ponsel tersebut. Aku melihat bayangan Wira yang berada tepat di belakang tuan Dirgantara.
Dia nampak bersedih, Wira seakan ingin memeluk ayahnya tersebut. Sayangnya dia tidak bisa menggapainya, aku menjadi kasihan dibuatnya.
Bahkan, aku sampai meneteskan air mataku. Alex bahkan sampai menepuk pundakku dengan cukup kencang.
Aku tersentak kaget dan langsung menoleh ke arahnya, aku juga segera mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipiku.
"Ada apa?" bisik Alex.
__ADS_1
"Ada Wira," kataku ikut berbisik.
Alex terlihat menghela napas dalam, sepertinya dia juga paham. Pasti Wira datang karena ingin berbicara dengan sang ayah, sayangnya tidak bisa.
"Aneska! Beralasanlah kepada ayah, agar kalian bisa masuk ke kebun belakang rumah. Biar ayah tahu jika aku ada di sana," bisik Wira.
Aku tersentak saat mendengar bisikan dari Wira, rasanya suara Wira terasa begitu dekat di telingaku.
Namun, saat aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, aku sama sekali tidak menemukan Wira di sana.
Justru, tidak lama kemudian aku malah melihat tuan Dirgantara datang dengan seorang wanita yang terlihat muda dan juga cantik.
Penampilannya bahkan terlihat begitu seksi dan modis, dia menggunakan mini dress tanpa lengan bermotif bunga, panjangnya pun di atas lutut.
Penampilannya persis seperti anak abege berusia tujuh belas tahun, padahal kalau dilihat umurnya sekitar sudah tiga puluh lima tahun.
Hanya saja, make up yang dia pakai juga terlihat tebal. Aku tidak suka saat baru saja melihat raut wajahnya.
"Selamat pagi, kalian sangat cantik dan tampan," pujinya seraya duduk tepat di hadapan kami.
Aku dan ketiga sahabatku bisa melihat jika Ibu tiri dari Wira tersebut bersikap baik hanya untuk menarik simpati dari suami saja.
"Terima kasih," jawab kami.
"Oiya, saya istrinya Mas Dirgantara. Senang bisa bertemu dengan kalian," ucapnya tersenyum dibuat-buat.
Aku dan ketiga sahabatku hanya bisa tersenyum kikuk saat mendengar apa yang dikatakan oleh ibu tiri dari Wira.
"Sama-sama, Tante," ucap kami kompak.
__ADS_1
***
Masih berlanjut