Bride

Bride
Prolog


__ADS_3

Bride


Terdapat perbedaan antara, menyerah dan mengetahui bahwa kau sudah lelah.


~Unknown~


Prolog


Tak ada yang pernah menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir seperti itu. Kenangan kehidupan melintasi benak layaknya sebuah kereta. Datang dan berlalu begitu cepat.


Tak pernah terpikirkan bahwa mereka akan berakhir mengenakan pakaian pengantin. Langkah mereka pelan, tetapi pasti. Tujuan sudah berada di depan mata. Tinggal selangkah lagi untuk mencapai mimpi mereka.Tak mungkin mereka berbalik, berlalu dan pergi. Lagi pula tak satu pun dari mereka yang ingin mundur.


Udara semakin terasa berat di setiap langkah. Begitu sulit hanya untuk mengisi paru-paru. 206 tulang yang tersebar di tubuh seakan ditusuk jarum es. Jantung bergedup kencang layaknya piston kendaraan yang dipacu menuju batas. Namun, tak ada yang mengeluh.


Terpampang kebahagiaan di wajah mereka. Sinar mentari di ufuk barat seakan merestui hubungan mereka. Burung-burung berkicauan di dahan pohon, mengiringi upacara yang hendak mengikat mereka selamanya. Angin bersiul, berbisik seakan berdoa untuk kebahagiaan. Rerumputan bergoyang ke kanan dan ke kiri, bergantian, menari dengan kicauan burung sebagai pengiring.


Yogi masih belum memercayai semua yang terjadi. Hidupnya akan berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Masih teringat jelas, seakan baru terjadi kemarin, semua kenangan hidupnya. Kenangan tersebut terukir jelas dalam hati dan pikiran.


Dia berpaling ke samping, menatap sosok wanita yang dicintainya. Renata namanya. Gadis itu tersenyum dengan wajah yang menenangkan. Tangan mereka menggenggam satu sama lain. Langkah mereka beriringan, menuju mimpi.


Yogi telah menyematkan sebuah cincin, nikah, di jari manis Renata. Bukan cincin mahal yang bertabur berlian. Itu hanya sebuah cincin emas, tetapi Renata tak bisa membendung air mata ketika melihatnya.

__ADS_1


Saat dia menyadarinya, wanita itu sudah tenggelam dalam air mata. Namun, senyum dalam bibir itu tak menghilang, justru melebar.


“Tenanglah!” Yogi berbisik lembut, membuat Renata berpaling padanya.


“Kau mengatakan itu, tetapi kau juga tak bisa membendung air matamu,” Yogi mengusap pipinya.


Dia sama sekali tak menyadarinya. Dia mengira bahwa kebahagiaanya masih terbendung sempurna, tetapi dia tak bisa menahan.


“Berisik,” Yogi tertawa seraya mengusap air mata. Renata pun tertawa sembari mengusap mata sendiri.


Yogi tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sudah mencapai puncak kebahagiaan. Rasa panas bergejolak dalam dada. Perasaan itu merambat ke sekujur tubuh, membuatnya merasa begitu tenang dan damai. Sinar kekuningan dari ufuk barat membelai, lembut, kulitnya. Semua itu terasa menyenangkan, tetapi juga dingin.


Bunga Acacia dan Daisy seakan mekar mengiringi langkah mereka. Mekar dengan sempurna. Tampak indah di mata. Namun, sosok Renata jauh lebih indah.


“Renata,” ketika Yogi menyebut nama tersebut, wanita itu berpaling padanya. Renata menunjukkan mata sembab, memerah.


Entah air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan yang dijatuhkan Renata, Yogi tak tahu. Namun, itu mengurangi kecantikan wanitanya.


“Apa?”


“Kau terlalu banyak menangis,” Yogi mengusap, lembut, pipi Renata. Wajah itu terasa dingin, menusuk dada. Namun, wanita itu masih tersenyum padanya.

__ADS_1


“Kau juga sama.”


“Aku mencintaimu.”


“Aku juga.”


Tak satu pun kata terucap. Mereka mendorong wajah hingga bibir mereka bertemu.


Hangat, manis, dingin, dan masam. Semua rasa tersebut menjadi satu di bibir, memberikan rasa aneh, tetapi menenangkan.


Dooong ..., klakson panjang berbunyi. Namun, mereka tak menghiraukannya. Ciuman mereka lebih penting.


Dooong ..., sekali lagi klakson berbunyi. Namun, tak ada reaksi yang terjadi. Kesadaran masih belum kembali dan mata masih tertutup. Air liur menggenangi bantal, memantulkan sinar mentari di langit timur.


Dooong ..., sekali lagi klakson berbunyi, tetapi kali ini ponsel terjatuh dari nakas dan menumbuk wajah seorang remaja.


Remaja itu terperanjak. Dia bangkit dengan cepat dan duduk di kasur. Perhatiannya menyebar ke segala arah, memperhatikan keberadaannya.


"Oh, aku harus sekolah ...," dia mengusap air liur di bibir.


Dooong!

__ADS_1


"Woooohhh!" suara kereta tersebut membuat jantungnya hampir melompat, keluar. Dia terjatuh dari kasur. Punggungnya menumbuk lantai dan memberikan rasa nyeri.


"Aku harus mengganti nada itu."


__ADS_2