
Bab 36 ~Kerja keras~
“Kerja, Kerja, Kerja nyata”
-Joko Widodo-
Yogi tak pernah menyangka bahwa kemampuannya dalam mencerna informasi akademis akan meningkat. Tentunya dia senang akan fakta itu. Itu menjadi sebuah pendorong, memberikan dia keinginan untuk belajar lebih giat. Dia ingin segera mencapai tingkat kecerdasan yang setara dengan Rizki atau Renata.
Dia bermaksud seperti itu, tetapi dia penasara akan lama waktu yang dibutuhkan. Setelah semuanya, Rizki selalu mendapat ranking di kelas, meski tidak pernah secara angkatan. Namun, itu sudah cukup menjadi bukti bahwa kecerdasan Rizki berada di tingkat berbeda dengannya.
Untuk Renata, dia tak mengerti sejauh apa kecerdasan gadis itu. Namun, Renata bisa mencerna informasi akademis dengan mudah, seperti Rizki. Itu membuatnya yakin bahwa Renata setidaknya berada pada tingkat yang mendekati Rizki.
Di sisi lain, terdapat dirinya yang berada di tingkat menengah. Jangankan peringkat tiga, dia bahkan tidak pernah merasakan berada di sepuluh besar. Namun, dia masih beruntung karena masih berada di atas Lia.
Gadis mungil itu selalu ceroboh dan kurang pintar. Namun, keberuntungan berhasil membawa Lia ke kelas akhir.
Yogi menguap, meregangkan punggung yang terasa kaku karena hampir tak bergerak sedikit pun. Sepulang sekolah, dia menyempatkan untuk belajar bersama teman-teman di kelas. Mereka berakir diusir satpam sekolah karena berada di sekolah hingga petang.
Sebenarnya, Yogi masih ingin melanjutkan belajar. Namun, Lia tak sanggup mencerna apa pun lagi. Jika gadis itu adalah sebuah robot, mungkin Lia sudah mengalami overheat. Uap akan mengepul dari balik, rambut hitam, menyebabkan Lia mengalami korsleting.
Yah, melakukan sesuatu terlalu berlebihan juga tidak baik. Karena itu, mereka semua berpisah dan memutuskan untuk belajar kelompok lagi besok. Tentunya Lia menyutujui hal itu dengan berat hati.
“Haaa ..., aku harus bisa mendekati tingkatan mereka,” gumamnya sambil menatap langit-langit.
Perhatiannya mengunci asbes yang menjadi atap kamar. Lampu putih menerangi setiap sudut. Namun, ketika dia berpaling keluar jendela, dia menemukan kegelapan tak berujung. Langit tenggelam dalam hitam. Selain lampu, tak ada lagi sumber cahaya lain. Dia bahkan tak menemukan kelelawar yang mengisi angkasa.
Dia ingin lulus dengan nilai bagus. Dia ingin berada di sekolah yang sama dengan Renata, Rizki, dan Lia. Karena itu, dia harus memberikan yang terbaik dalam setiap ujian, supaya tidak berakhir dengan penyesalan.
Masa di SMP sudah tak lama lagi. Waktunya semakin menipis. Dalam beberapa bulan, dia akan menghadapi ujian nasional, yang menjadi penentu kelulusan. Jika dia lulus dengan nilai memuaskan, SMA N 6 akan membuka tangan untuknya. Jika tidak, maka dia harus mengambil ujian masuk. Itu berarti lebih banyak waktu yang terbuang untuk belajar. Sebisa mungkin, dia ingin menghindari hal itu.
“Baiklah, sebaiknya aku kembali mengerjakan beberapa soal. Aku perlu mengulas beberapa hal dan kucatat yang tidak kumengerti,” gumamnya sambil mematahkan leher.
__ADS_1
Bidang penglihatannya berpindah, mengunci buku pelajaran dan buku catatan yang ada di hadapan. Salah satu tangannya membalik buku pelajaran dan mencari soal secara acak. Ketika dia menemukan beberapa soal yang dirasa cocok, bolpoin disahut dan otak diputar.
Berbagai rumus mengambang di pikiran. Angka beradu dengan angka lain dalam pikiran, sedangkan tangan menuliskan sistem pengerjaan di buku catatan. Dalam waktu sepuluh menit, satu soal pun berhasil dikerjakan.
“Kak.” Perhatiannya berpindah ke pintu masuk.
Seperti biasa, Tari berada di ambangg pintu. Padahal dia sudah memperingati gadis itu untuk mengetuk pintu sebelum masuk kamar. Namun, sepertinya gadis itu tak pernah mendengar satu pun ucapannya. Entah bagaimana caranya supaya gadis itu mau mendengarnya.
Sebenarnya dia tak keberatan dengan hal itu. Namun, dia tetap khawatir jika Tari masuk dalam keadaan yang tidak mendukung. Contohnya ketika dia mengganti pakaian.
“Bukankah aku sudah bilang untuk mengetuk pintu sebelum kau masuk?” Yogi melempar pertanyaan.
“Ah, benar.” Gadis itu menutup pintu dari luar, membuatnya memiringkan kepala.
Tok-tok! Suara pintu diketuk dari luar.
“Masuk!” jawabnya dengan dingin.
Ketika pintu dibuka dari luar, terlihat Tari dengan sebuah garis lengkung di bibir. Seperti biasa, gadis itu mengenakan celana pendek dan kaus polos.
Terutama dua gadis itu sangat menempel padanya. Mungkin dia tak bisa menghadapi segala yang terjadi nantinya.
“Kenapa menghela napas?” bukannya memasuki kamarnya, Tari ustru memiringkan wajah di depan pintu.
“Lain kali ingatlah untuk mengetuk pintu terlebih dulu!” jawabnya setelah menghela napas.
“Oh, tentu,” jawab Tari seraya melangkah masuk.
Gadis itu mendekati kasur dan membanting tubuh di sana. Tidak lama kemudian, Tari berbaring, menatap langit-langit dengan mata bulat.
“Jadi, kenapa kau ke sini? Aku sedang belajar,” ucap Yogi. Namun, Tari tak menjawabnya. Gadis itu justru meregangkan otot-otot tubuh seperti seekor kucing. “Jangan kemari hanya untuk tidur!” lanjutnya.
“Ah, pelit sekali,” jawab Tari.
“Pergilah! Aku sedang belajar.” Tangannya melambai, mengusir Tari yang masih terbalut kasur.
__ADS_1
“Hee ..., jarag melihat Kakak belajar seperti ini.” Yogi mengalih pandangan, menatap Tari yang kini telungkup menghadapinya.
“Karena ujian nasional tinggal beberapa bulan lagi,” jawabnya sambil membalik buku pelajaran.
“Apa itu sangat penting?”
“Tentu saja, bukan? Kau lulus atau tidak, kemudian di sekolah mana kau akan diterima, nilai ujian nasional akan menjadi penentu semua itu. Karena itu, aku tidak ingin mendapat nilai buruk. Setidaknya aku ingin mendapat nilai di atas standar,” jelasnya.
Tak ada jawaban. Tari justru membisu, menatapnya. Sebenarnya Yogi penasaran kenapa Tari menanyakan itu. Tari sudah pernah melewati masa kelulusan sekali, seharusnya Tari sudah paham akan pentingnya nilai ujian nasional.
“Apa kau berpikir itu tidak penting?” tanya Yogi.
“Hmmm ..., bukan seperti itu. Hanya saja, di luar negeri tak ada yang namanya ujian nasional. Para murid diluluskan begitu saja dan mereka harus belajar untuk mengikuti ujian masuk. Bukankan sistem pendidikan kita terlalu mengandalkan ujian? Try out, UTS, UAS, ujian nasional, dan belum ujian masuk. Itu terlalu banyak untukku,” jawab Tari sambil memeluk bantal.
Yogi tak menyangka bahwa adiknya mengetahui semua itu. Namun, dia setuju dengan ucapan Tari.
“Mungkin itu benar, tetapi kita tidak tinggal di sana. Aku juga yakin bahwa mengganti kurikulum pun akan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Mungkin itu baru bisa diterapkan ketika aku lulus SMA,” jelasnya sambil menatap langit-langit.
“....”
“Tari?” ketika dia memindah perhatian, dia justru menemukan Tari yang terlelap. “Haa ....” Dia menghela napas, bangkit dari kursi, dan menyelimuti adiknya.
Setelah melakukan itu, dia pun kembali ke kursi.
“Ayo, kerjakan beberapa soal sebelum tidur,” gumamnya sambil mulai mengerjakan.
Yo, author menyapa kalian di sini.
Hari ini aku menaruh penaku, mengistirahatkan diri yang lelah karena beraktifitas, menyempatkan diri untuk menyapa kalian yang sudah menemaniku sejak Bab 1.
Harus kuakui bahwa perkembangan pembaca BRIDE sangat pelan. Namun, aku masih belum menemukan alasan untuk berhenti menulis. Karena itu, kuharap kalian masih mau menemani perjalananku hingga BRIDE menyentuh season terakhir.
Aku juga hendak mengingatkan untuk like dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Yah, aku sering melihat ada pengunjung yang tidak meninggalkan apa pun di sini. Jadi aku selalu mengira bahwa mereka tidak tertarik dengan tulisan ini. Namun, jika kalian meninggalkan beberapa jejak, maka aku bisa memperbaiki tulisan ini jadi lebih baik.
__ADS_1
Karena itu, jangan lupa like dan komen.