Bride

Bride
Bab 49 ~Hasil~


__ADS_3

Bab 49 ~Hasil~


“Kerja keras tak pernah menkhianati hasil.”


-Unknown-


 


 


Ketika adik kelas sibuk belajar, murid kelas sembilan justru membuat keributan di lapangan. Suara pantulan bola basket terdengar, disusul dengan decitan sepatu yang saling menyahut.


“Pas!” teriak seorang laki-laki sambil menempatkan dua tangan di depan dada. Tak lama kemudian, bola melayang ke arah laki-laki itu. Ketika bola berada di tangan, laki-laki itu melesat ke keranjang sambil memantulkan bola.


Tentunya tak mulus karena lawan segera menghadang. Laki-laki itu berhenti memantulkan bola dan menghadapkan bola ke keranjang. Lawan laki-laki itu melompat, hendak menghalangi tembakan. Itu sebuah tipuan.


Ketika lawan laki-laki itu kembali ke tanah, giliran laki-laki itu melompat dan melempar bola. Bola melambung di udara, menyentuh pinggiran ring, dan terlempar keluar.


“Posisi tanganmu salah,” Yogi bergumam dari kejauhan.


Dia duduk di kursi beton. Dengan sebungkus keripik kentang di tangan, dia menonton pertandingan yang dirasa membosankan. Sebenarnya dia ingin ke lapangan dan ikut bermain. Orang-orang itu melakukan terlalu banyak kesalahan meski itu bukan pertandingan resmi. Yogi bahkan ingin mengajari mereka cara bermain basket yang benar, atau setidaknya memberitahu letak kesalahan mereka. Namun, dia tidak yakin bahwa itu pilihan yang tepat.


Di sisi kanannya adalah Lia. Tak berisik seperti biasanya, kini Lia membisu. Alasannya hanya satu, karena gadis itu sibuk membaca novel. Namun, gadis itu tidak membaca novel romansa, seperti biasanya. Lia membaca novel milik Rizki, fantasi.


Tepat di samping Lia adalah gelas plastik berisi es. Berperisa jeruk dan merendam es batu, minuman tersebut menjadi teman membaca novel.


Srek-srek! Jaket Yogi ditarik beberapa kali.


Yogi tak berpaling, tetapi mengulurkan bungkusan keripik kentang yang dia bawa pada Lia. Tangan mungil Lia merayap masuk dan meraih beberapa potong kentang. Setelah Lia melahap potongan kentang, Yogi menarik bungkusan tersebut dan menikmatinya kembali.


Orang yang berada di sisi kiri Yogi adalah Renata. Seperti biasa, gadis itu dalam keadaan tenang. Sama seperti dirinya, Renata juga mengunyah makanan ringan. Namun, bukan keripik kentang, melainkan keripik singkong dengan tingkat kepedasan 10. Itu bukan tantangan mudah bagi Yogi.


Sebelumnya, Yogi mencoba makanan ringan tersebut karena penasaran. Akan tetapi, dia hanya mengunyah satu potong saja. Selebihnya dilahap Renata.


Apa yang membuat Yogi heran adalah karena Renata bisa melahap makanan itu dengan tenang. Yogi bahkan tak melihat setetes keringat pun di wajah Renata. Namun, gadis itu tetap mendorong makanan dengan es yang diletakkan di sisi kiri. Mungkin Renata menyukai makanan pedas.


Terakhir adalah Rizki yang berada di sisi kiri Renata. Laki-laki itu berada di ujung, menatap lembaran novel fantasi. Sama seperti Lia, Rizki juga ditemani minuman. Es teh sederhana menjadi teman membaca novel. Alasan Rizki memilih minuman itu adalah karena memiliki harga paling rendah.


Satu hal yang membuat Yogi penasaran akan Rizki adalah berapa banyak novel yang dibawa laki-laki itu?


Ketika Yogi tiba di sekolah, Rizki tengah membaca novel. Tak lama setelah berjumpa dengan Renata dan Lia, Rizki mengeluarkan novel lain untuk membungkam mulut Lia. Cara itu berhasil menenangkan Lia. Namun, Yogi tetap penasaran dengan isi tas Rizki. Mungkin saja itu diisi dengan lima, atau lebih, buku novel. Itu membuat Yogi berpikir untuk memeriksa isi tas Rizki.


“Yogi, bukankah kau bisa bermain basket?” Renata berpaling, melempar pertanyaan pada Yogi.


“Hmm ..., ya. Memangnya kenapa?” Yogi memiringkan wajah.

__ADS_1


“Kau tidak ingin bergabung dengan mereka? Mungkin kau bisa mengalahkan mereka,” Renata memberi usulan.


“Sebenarnya aku ingin bergabung, tetapi pertandingannya akan berat sebelah jika aku bergabung,” balas Yogi sambil menyuapi diri sendiri.


“Eh? Berat sebelah?” Giliran Renata yang memiringkan wajah.


“Yogi memiliki fisik dan kemampuan yang lebih tinggi dibanding siapa pun yang ada di sekolah. Karena itu, pertandingan akan berat sebelah jika dia bergabung,” Rizki menyahut sambil terus membaca buku.


“Heee ....” Renata berpaling dari Rizki, menatap Yogi yang masih menikmati keripik kentang. “Apa kau bercita-cita menjadi atlet?”


“Tidak. Bola basket hanya sebuah hobi,” jawab Yogi setelah menelan makanan di mulut. Tak lama, Lia menarik jaketnya dan dia mengulurkan bungkusan keripik kentang pada gadis itu. Setelah Lia mengambil beberapa potong, Yogi menarik kembali makanannya.


“Bukankah itu sedikit disayangkan?” Dua alis Renata terangkat.


“Tidak juga. Aku sudah menemukan rencana masa depanku,” jawab Yogi.


“Sepertinya aku tidak bisa melihat pertandinganmu di televisi.” Renata bersandar, memasukkan keripik singkong ekstra pedas ke mulut.


“Maaf soal itu,” jawab Yogi.


“Yah, aku tidak bisa menentukan masa depan seseorang. Jadi, aku akan melihat akan jadi seperti apa kita di masa depan,” balas Renata.


“Ya, ide bagus.” Yogi ikut bersandar, menyuapi diri sendiri.


Untuk sejenak, Yogi mengeluarkan ponsel dan mengecek waktu. Pukul 11.26 siang. Tidak lama lagi, jam istirahat makan siang akan berlangsung. Namun, belum ada pengumuman apa pun soal nilai UN. Mungkin para guru melupakannya atau ada penyebab lain.


“Sudah lelah membaca novel?” Renata dan Yogi melempar pertanyaan yang sama.


“Diamlah!” Rizki bangkit dan melakukan peregangan. “Kenapa lama sekali?” Tanya Rizki pada kekosongan.


“Entahlah ..., mungkin mereka lupa dengan nilai kita,” jawab Yogi sambil mengunyah keripik kentang.


“Jika itu benar, maka ...―”


Ding-ding-ding-ding! Suara speaker memotong Rizki.


“Untuk murid kelas sembilan, hasil UN sudah bisa dilihat di mading ruang guru. Sekali lagi, untuk murid kelas sembilan, hasil UN sudah bisa dilihat di mading ruang guru. Terima kasih,” pengumuman berakhir.


Ding-ding-ding-ding!


“Kenapa kita tidak melihatnya? Aku mulai bosan di sini,” Rizki memberi usulan sambil menunjuk bagian belakang menggunakan ibu jari.


“Ide bagus.” Yogi menghabiskan sisa keripik kentang dan bangkit. Bungkus kosong diremas dan dilempar pada tong sampah terdekat. Itu masuk tanpa halangan.


“Aku setuju.” Renata bangkit, melakukan hal yang sama seperti Yogi.

__ADS_1


Yogi menghisap es dan membawa sisanya. Begitu pula dengan Renata. Ke tiganya angkat kaki, menuju ruang guru, meninggalkan Lia yang membeku di kursi beton.


Tangan gadis itu bergerak ke samping, hendak meminta keripik kentang. Namun, Lia tak menemukan Yogi di sisi. Ketika Lia mengangkat wajah, Lia tak menemukan seorang pun. Yogi dan rekan yang lain sudah mencapai ujung lorong.


“Loh, kenapa aku ditinggal?” Lia menutup buku dan melesat, mengejar Yogi. Namun, gadis itu kembali ke kursi beton untuk mengambil minuman yang tertinggal. Setelah itu, baru menyusul Yogi.


“Kenapa aku ditinggal?” Lia melempar pertanyaan ketika berhasil mendampingi Yogi.


“Kau terlalu fokus, jadi tak ada yang berani mengganggumu,” jawab Yogi.


“Jahat,” balas Lia sambil menggembungkan salah satu pipi.


“Maaf-maaf,” ujar Yogi sambil mengelus rambut Lia.


Tidak membutuhkan waktu lama, kaki mereka sudah berada di hadapan mading. Tampak sepi, tak seorang pun yang terlihat, kecuali mereka berempat. Mungkin yang lain berpikir untuk melihat nanti. Yah, nasib baik untuk Yogi dan rekannya.


Pelan, mereka mendekati mading. Pandangan mereka menyapu tiap lembar yang tertempel, mencari nama masing-masing.


“Aku urutan 16!” Lia melompat-lompat kegirangan. Lia mendapat NUN 27,46.


“Aku puas dengan kerja kerasku. Urutan 5 bisa menjadi tempatku bernaung saat ini.” Renata mendapat nilai 28.90.


“Nilaiku tidak sempurna, tetapi urutan pertama tidaklah buruk,” Rizki bernaung di posisi teratas dengan NUN 30,76.


“Lalu, bukankah urutan 14 tidak terlalu buruk?” Yogi tersenyum puas. Dia mendapat NUN 27, 58.


“Di tryout kau menunjukkan perkembangan yang luar biasa dan sekarang kau menduduki posisi 14. Tidak buruk, kawanku,” Rizki merangkul Yogi mengacak-acak rambut Yogi.


“Selamat, Yogi,” ucap Renata.


“Kak. Yogi, hebat!” Lia bertepuk tangan. “Ah, lihat di barisan terakhir! Satu bulan lagi akan diadakan wisuda. Sepertinya itu akan menjadi hari terakhir kita di sekolah,” Lia menunjuk pada lembaran terakhir.


“Kalau begitu, kenapa kita menghabiskan waktu bersama hari ini?” Rizki mengusulkan.


“Es krim!” Lia berseru.


“Lagi?” Yogi memiringkan wajah.


“Aku setuju dengan es krim,” Renata menyetujui.


“Aku tidak keberatan,” Rizki pun tak menolak.


“Baiklah, es krim,” Yogi pun angkat kaki dan meninggalkan mading. Rekan-rekannya mengekor di belakang, hendak mengambil tas dan menuju kedai es krim terdekat.


 

__ADS_1


 


__ADS_2