
Bab 39 ~Tak berguna~
“Akan lebih baik aku diam, daripada harus berbohong.”
-Mayn Urr Izqi-
Beberapa minggu telah terlewati. Tentunya Yogi tak patah semangat dan melanjutkan hari, seperti biasa, bahkan juga belajar sebagaimana mestinya. Tiada hari tanpa mencerna buku pelajaran. Dia menjelma menjadi sosok manusia yang haus akan pengetahuan, menyimbolkan perasaannya yang tidak ingin kalah dari Rizki dan Renata.
Namun, bukan hanya itu. Lia yang awalnya berada di bawah, telah menyusulnya. Gadis mungil itu hampir berdiri sejajar dengan Rizki dan Renata.
Di tryout terakhir, Yogi berada di urutan 103; Renata berada di urutan 9; Rizki berada di urutan 7; Lia berada di urutan 20. Lia melesat bagaikan roket. Gadis itu meninggalkannya di belakang, menghampiri Rizki dan Renata di puncak.
Iri? Tentu Yogi merasa iri. Namun, Lia tak melakukan apa pun padanya. Karena itu, dia tak bisa membenci Lia. Dia justru menjadikan itu sebagai motivasi. Kalau Lia bisa melakukan itu, maka dia juga bisa. Karena itu, dia tak mengurangi waktu belajar dan terus mengulas berbagai soal-soal ujian.
Ketika dia menemukan kesulitan, dia akan mendekati Renata atau Rizki untuk meminta pencerahan. Ketika Renata, atau Rizki menjelaskan, dia akan memasuki mode fokus dan mencerna semua yang keluar dari mulut Rizki, atau Renata.
Saat hari minggu tiba, dia pergi ke toko buku. Materi ujian nasional dan kumpulan soal-soal pun dia pilih sebagai buah tangan untuk diri sendiri. Setelah itu, dia pulang dan mulai mengerjakan soal-soal tersebut.
Selama beberapa minggu terakhir, itulah yang dia lakukan. Dengan harapan bisa melihat angka delapan di kotak nilai, dia terus belajar dan belajar.
Kini Yogi tersenyum lebar. Dia tertegun dalam diam, menatap lembar kertas di mading. Kertas bukan sembarang kertas. Kertas itu menunjukkan nilai yang didapat oleh setiap murid yang mengikuti tryout ke dua.
Tampaknya Rizki dan Renata masih menetap di urutan terakhir. Renata berada di urutan 9; Rizki di urutan 7. Namun, Lia naik ke urutan 17. Sekali lagi, gadis mungil itu naik lebih tinggi seolah hendak bernaung di posisi pertama.
Itu membuatnya penasaran dengan mantra macam apa yang digunakan Lia. Gadis itu hanya belajar di waktu tertentu, sedangkan dia belajar di setiap waktu luang. Namun, entah kenapa dia tak mencapai apa pun.
Di urutan 106 dia bernaung. Nilainya tak jauh berbeda dengan tryout pertama. Tidak, sebenarnya nilainya sedikit lebih rendah kalau dibandingkan dengan tryout pertama. Namun, dia tetap tidak mengerti kenapa kerja kerasnya tidak membuahkan hasil. Apa kehidupan tak melirik kerja kerasnya? Apa takdir terlalu sibuk untuk memperhatikan kerja kerasnya?
__ADS_1
Untuk ke dua kalinya. Hati kecilnya tercabik, menarik napas pun terasa pelik. Tubuhnya seakan dimasukkan dalam ruang hampa, ditekan hingga badan tercerai berai. Kebisingan, di sekitar, pun terdengar seperti cemooh yang ditujukan padanya.
Dia tidak menjadi pusat perhatian. Namun, dia merasa bahwa tiap pasang mata tengah mengawasinya, memandang rendah dirinya yang gagal untuk ke dua kalinya. Akan tetapi, dia pun tak menginginkan kekecewaan tersebut.
Pelan, dia berbalik, mengarungi kawanan manusia yang tenggelam dalam kericuhan. Ketika dia melewati lautan manusia tersebut, dia menyimpan tangan di saku jaket lantas manjauh.
Dia menyusuri lorong sambil menghitung setiap ubin yang terlewat. Jika dia kembali ke kelas, tiga temannya pasti akan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Namun, dia tak ingin menjawab satu pertanyaan pun. Karena itu, dia mengambil arah lain di persimpangan.
Karena dia tak memiliki tempat lain untuk dituju. Dia pun menuju ke lokasi favorit. Entah kapan terakhir kali dia ke sana dengan Rizki. Namun, itu cukup lama hingga membuatnya bernostalgia ketika menatap tempat itu dari jauh.
Selama beberapa bulan terakhir, dia disibukkan oleh tugas dan kegiatan mendekati Renata. Karena itu, dia hampir tak pernah mendatangi tempat itu lagi.
“Haa ....” Yogi menghela napas seraya membanting tubuh ke kursi beton tersebut. Punggungnya disandarkan pada tembok, sedangkan penglihatan diangkat, menatap kirana yang mengintip dari balik dahan.
Mentari seakan mengamatinya dari balik pohon. Sinar-sinar tipis tersebut sampai di wajah, membelai dengan lembut dan ramah, membawa ketenangan dalam pikiran. Namun, dadanya terasa dingin, seakan terdapat sebuah es yang mencekik. Akan tetapi, bibir tetap melengkung ke atas meski hampir tak terlihat.
Dia menarik napas panjang dan membuangnya melalui mulut. Otak mulai berputar, mencoba menjcari jawaban atas kegagalan. Namun, tak satu jawaban pun yang terlintas. Pikirannya justru memutih.
“Sial, aku tidak bisa memikirkan apa pun,” keluhnya sambil menggaruk kepala dengan kasar.
“Eh?” Yogi berpaling dengan cepat pada sumber suara tersebut.
Perhatiannya tertancap pada penjepit merah, bermotif salju, yang diselipkan, pada rambut, di atas telinga. Kemudian, penglihatan menuju ke samping, menatap mata cokelat gelap yang merefleksikan wajahnya. Turun beberapa centi dan dia menemukan sebuaj garis lengkung di bibir kemerahan tersebut.
“R-Renata?” dia menyebut nama gadis itu. Dia tak menyangka bahwa Renata akan muncul.
“Apa yang kau pikirkan?” gadis itu melempar pertanyaan.
“Ah ..., itu ....” Yogi berpaling, menggaruk pipir dan mencoba mencari hal lain untuk dibicarakan, “Emm ..., apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku?” Renata menunjuk wajah sendiri dan Yogi mengangguk sebagai balasan. “Aku melihatmu berjalan sendirian. Karena penasaran, aku pun mengikutimu,” jawab Renata sembari bergerak ke sisi Yogi.
__ADS_1
Gadis itu duduk di samping Yogi. Yogi pun menyempatkan untuk mengintip senyum yang terpasang di bibir tipis tersebut. Namun, Yogi segera berpaling dan menatap angkasa. Dia tidak berada dalam kondisi yang bagus untuk berbincang dengan Renata. Dia bahkan ingin meninggalkan Renata dan tidur di kelas. Namun, dia tak bisa melakukan itu pada gadis yang mencuri perhatiannya.
“Jadi ..., kenapa kau kemari?” Renata melempar pertanyaan lain.
“Ah, tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin sendirian untuk sementara,” jawabnya tanpa menatap Renata.
“Heee ..., kukira hanya Rizki yang suka menyendiri,” Renata berkomentar.
“Ahahaha ..., dia memang suka keheningan,” balasnya.
“Lalu ..., kenapa kau ingin menyendiri?”
“Eh? Emm ..., a-apa aku harus menjawab itu?”
“Kau tidak mau menjawabnya?”
“Akan lebih baik aku diam, daripada harus berbohong.”
“Baiklah.” Renata besandar pada tembok, mengikuti Yogi yang sejak tadi menatap langit.
“Karena kau tidak mau menjawabku, kau mendapat hukuman.”
“Heee? bukankah itu tidak adil?” Yogi berpaling, menunjukkan senyum kecut pada Renata.
“Jangan mengeluh!” balas Renata sambil menggembungkan pipi.
“Ahaha ..., baiklah. Aku minta maaf. Lalu ..., hukuman seperti apa yang kudapatkan?” Yogi memiringkan wajah.
“Karena besok hari minggu. Kau harus menemaniku ke taman bermain.”
“Eh?”
__ADS_1