
Bab 19 ~Diskusi~
“Pikirkan dan rencakan sebelum bertindak”
-Unknown-
Yogi mengekor pada Lia yang memimpin jalan. Dia menyebar perhatian, memperhatikan rak-rak buku yang berbaris rapi. Matanya mendapati berbagai judul yang menarik, tetapi tak diambilnya.
Ketika dia memperhatikan punggung Lia, tampak mungil di penglihatannya. Tinggi gadis itu mungkin sama dengan adik perempuannya, yang baru memasuki bangku SMP. Pribadi Lia pun juga seperti anak kecil. Tak heran jika ada yang mengira bahwa Lia adalah anak kecil.
Dia juga ingat bahwa Lia hampir pingsan karena duduk di tanah terlalu lama. Itu menimbulkan pikiran bahwa Lia memiliki tubuh lemah. Mungkin Lia hanya ingin menemukan orang yang bisa menjaganya, seperti seorang Kakak. Entah kebetulan atau tidak, tetapi gadis itu menunjuknya sebagai sosok tersebut.
Sudah berulang kali dia mengatakan pada Lia untuk tidak memanggilnya Kakak. Namun, gadis itu berkepala batu. Ucapannya tak diindahkan.
“Kak. Yogi!” Suara Lia memasuki telinga, mengakibatkan langkahnya terhenti dan perhatiannya berpindah.
“Ya?” Dia menatap Lia yang berdiri di hadapan salah satu rak buku. Sama seperti yang lain, rak itu jauh lebih tinggi dari Lia.
“Lost, karya Mayn Urr Izqi.” Gadis itu menunjuk judul salah satu buku. Sudah jelas bahwa Lia tak mampu menggapai buku tersebut. Karena itu, dia mengambil langkah dan meraih buku yang dimaksud.
Ketika dia melihat sampul novel tersebut, dia mendapatkan nama yang tak asing. Buku tersebut berasal dari penulis yang sama dengan buku yang dia ambil tadi.
“Ini dari penulis yang sama?” Yogi melempar pertanyaan pada Lia.
“Yap, dia adalah penulis lokal. Karyanya bagus, tetapi jarang diketahui. Dia bisa menulis kisah fantasi, fiksi sains, dan romansa dengan baik,” Lia menjelaskan singkat.
“Hmm ...,” dia berdengung. Sebenarnya dia ingin menanggapi, tetapi dia tak mengerti apa pun soal kepenulisan. Dia bahkan tak bisa mengerti sebagian yang diucapkan Lia, tadi.
“Aku pernah membaca cerita ini. Ini berkisah tentang petualangan antar dimensi. Tokoh utamanya berpindah dari satu dunia ke dunia lain demi mengalahkan monster antar dimensi. Genre utamanya adalah Fantasi, tetapi memiliki unsur fiksi sains yang kental juga. Berbumbu drama dan romansa yang menyayat hati. Aku merekomendasikan cerita ini untuk laki-laki itu.” Lia mengetuk sampul novel tersebut.
“Baiklah, kita ke kasir. Akan kubayar semuanya,” Yogi berbalik dan berjalan, memimpin.
“Hore!” Lia meledak, melompat dan menyergap lengan kanannya. “Terima kasih, Kak. Yogi.”
“Ayolah! Aku bukan Kakakmu,” Yogi menghela napas, menarik lengan yang dipeluk Lia.
“Heee ..., ayolah! Aku tidak memiliki Kakak dan aku selalu ingin punya satu.” Lia mendampinginya dengan pipi menggembung seperti ikan buntal.
__ADS_1
“Haa ..., apa kau pikir aku itu benda?” Yogi menghela napas. “Ngomong-ngomong apa kesukaan Renata? Aku ingin membelikan sesuatu untuknya, juga,” Yogi kembali pada permasalahan utama.
“Ah, tentang itu. Sebenarnya Rena tidak memiliki ketertarikan khusus pada suatu hal. Dia jarang membaca, hampir tidak pernah mengenakan aksesoris, dan cara berpakaiannya pun hampir sama setiap saat. Ketika dia berulang tahun, aku hanya membelikannya aksesoris sederhana karna aku tak tahu apa yang dia sukai atau tidak,” Lia menjelaskan panjang lebar.
“Apa kau benar-benar temannya?” Yogi berwajah masam ketika melempar pertanyaan. Ketika Lia memberikan jawaban tersebut, dia mulai ragu dengan hubungan Lia dan Renata. Dua gadis itu berkata bahwa mereka, sudah, mengenal satu sama lain selama dua tahun. Seharusnya itu adalah waktu yang cukup untuk mengetahui kesukaan satu sama lain. Namun, Lia justru tak memahami tentang Renata.
“Apa maksudmu, Kak?” Lia menghantam lengannya, tetapi itu terasa seperti pijatan lembut baginya.
“Bukankah kalian sudah lama mengenal?” Yogi menghentikan langkah di hadapan Lia, Lia pun mematung di hadapannya. Kini mereka beradu pandang.
“Memang benar kami sudah mengenal selama dua tahun, tetapi Rena memang seperti itu. Dia tak pernah menunjukkan ketertarikan pada suatu hal secara berlebihan. Ketika kami membicarakan apa pun, dia selalu bisa mengikuti meski hanya sedikit. Kemampuan akademik dan non akademiknya pun merata. Itu seperti, dia tak ingin terlihat menonjol.” Lia bersendekap sambil memberikan jawaban.
“Jadi ..., dia seorang Jack Of All Trade?”
“Memang seperti itu,” Lia menjawab sambil mengagguk.
“Baiklah, lalu apa yang harus kuberikan untuknya?” Yogi menarik diri, bersendekap, dan menutup mata. Pikirannya dibuka lebih lebar, mencari informasi yang mungkin berguna.
“Memangnya Kakak ingin memberikan hadiah seperti apa?” Lia menarik lengan jaketnya, menunjukkan wajah penasaran padanya.
“Awalnya aku ingin memberikan yang dia sukai, sama seperti kalian, tetapi sekarang aku bingung karena tak ada informasi yang sesuai,” jawabnya.
“Apa tidak ada rencana cadangan?” Lia melempar pertanyaan lain.
“Kenapa tidak membelikan buku saja?”
“Dia hanya membaca ketika dia menginginkannya. Jika aku membelikan buku, itu mungkin hanya akan berakhir di nakas dan menunggu waktu yang tepat untuk dibaca.”
“Lalu?”
“Kurasa aku akan membelikan sesuatu yang berguna setiap harinya.”
“Pensil?”
“Aku mengeluarkan hampir Rp. 150.000,- untukmu dan Rizki. Kalau aku mengeluarkan seribu untuk Renata, itu akan terasa aneh.”
“Hmmm. Lalu? Bagaimana dengan aksesoris? Dia bisa menggunakan itu setiap hari, meski dia jarang memakai aksesoris, tetapi karena kau adalah teman barunya, aku cukup yakin bahwa dia akan sering memakainya.”
“Itu masuk akal, tetapi aku tidak tahu aksesoris yang cocok untuknya.”
“Kalung?”
__ADS_1
“Itu tidak akan terlihat.”
“Cincin?”
“Terlalu mahal.”
“Lalu?”
“Mungkin penjepit rambut?”
“Jika mengingat yang kau ucapkan sebelumnya, bukankah itu masih terdengar murah?” Lia memiringkan wajah.
“Memang benar, tetapi aku tidak memiliki hal lain untuk diberikan padanya.”
“Kenapa tidak menambahkan boneka?”
“Eh?”
“Semua gadis tidak membenci boneka. Kurasa dia bisa memeluk itu dalam tidurnya,” Lia memegangi dagu sambil memberikan opini.
“Ide bagus. Kurasa aku bisa membelikannya dua hal itu,” ucapnya.
Tanpa di sadari, tangan kirinya sudah melayang di udara, menuju rambut pendek Lia dan mengusap, lembut, rambut tersebut.
“Sebelumnya kau berkata untuk tidak memanggilmu Kakak, tetapi kau memperlakukan seperti seorang adik sekarang,” balas Lia sambil dengan wajah cemberut.
“Oh, biarkan aku memuji atas kerja kerasmu.”
“Lalu biarkan aku memanggilmu Kakak.”
Untuk sesaat, dia hendak menolak. Namun, kalimat itu macet di tenggorokan dan gagal dimuntahkan. Kalimat tersebut justru berubah, menjadi kalimat lain.
“Baiklah, kau boleh memanggilku seperti itu.”
“Yey! Kakak!” Lia melompat, memeluk lengannya kembali.
Dia menggaruk pipi, merasa terganggu, tetapi tak berani mendorong wajah gadis itu karena merasa berhutang.
Akhirnya mereka berbalik, meninggalkan rak-rak buku yang menjadi saksi. Kasir adalah tujuan pertama, kemudian ke kios aksesoris dan boneka. Yogi juga perlu menemui Rizki dan Kak. Yuutha. Tampak banyak, tetapi dia menantikan semua itu.
__ADS_1