Bride

Bride
Bab 20 “Berpencar”


__ADS_3

Bab 20 “Berpencar”


“Perpisahan merupakan bagian dari pertemuan”


-Mayn Urr Izqi-


 


Tepat di hadapannya adalah dua gadis kelas atas. Renata dan Lia saling mendampingi, menyusuri lorong panjang sambil bercakap-cakap. Dua gadis itu tampaknya tak memiliki keinginan untuk melibatkannya dalam percakapan tersebut. Mungkin dia adalah angin di mata mereka. Namun, menjadi angin pun tak buruk baginya. Asal bisa menikmati sosok Renata, dia tak keberatan menjadi apa pun, bahkan kerikil.


Yogi tersenyum, menggelengkan kepala seraya menutup pikiran aneh tersebut. Jika dia menjadi benda mati, maka dia tak akan bisa bercakap dengan Renata. Jika dia tak bisa bercakap dengan Renata, maka dia tak akan meraih hati gadis itu. Itu adalah kemungkinan terburuk untuknya.


Tujuannya adalah memiliki hati gadis itu. Setidaknya dia ingin itu terjadi sebelum memasuki masa SMA. Itu karena dia ingin menikmati masa SMA dengan Renata berdiri di sisinya. Dia ingin melewati hari dengan senyum Renata yang menggugah sukma, meresap dalam relung jiwa dan membangkitkan cinta. Tenggelam dalam kasih sayang yang menyelimuti badan.


Jika dia bisa melewati masa SMA dengan Renata, maka dia akan menjadi makhluk, paling, bahagia di Bumi. Namun, sebelum bisa menikmati hari-hari tersebut, dia harus menyatakan cintanya terlebih dulu.


Yogi berpaling, ke depan, memperhatikan punggung Renata dan Lia yang memimpin perjalanan. Dua gadis itu masih berbincang, tak menunjukkan rasa lelah di wajah menawan nan elok mereka.


“Ah,” langkah Lia terhenti. Gadis itu membeku di tengah lorong, mengakibatkan langkahnya dan Renata terhenti.


Gadis mungil tersebut menjadi titik perhatian Renata dan Yogi, tetapi gadis itu tak menunjukkan reaksi apa pun. Tidak lama kemudian, Lia berbalik dan menyembunyikan tubuh mungil tersebut di balik punggung Yogi.


“Lia?” tanya Renata.


“Ada apa?” Yogi ikut melempar pertanyaan.


“Dia di sini,” ketika Yogi mendengar jawaban Lia, dia segera berpaling ke sekitar, mencari apa yang membuat Lia gemetar ketakutan. Namun, dia tak menemukan apa pun. Apa yang tampak di mata hanya lautan manusia yang terus bergerak.


“Kau menemukan sesuatu?” Renata melempar pertanyaan padanya.


“Tidak,” jawabnya sambil menggeleng.


“Kenapa kalian mematung di tengah jalan?” perhatian Yogi berputar, mencari sumber suara tersebut.


Tidak jauh di sampingnya, Rizki dan Kak. Yuutha menghentikan langkah. Tangan mereka saling menggenggam. Kak. Yuutha, meminum segelas jus, sedangkan Rizki menyimpan tangan yang lain di saku celana.


Terbesit rasa iri ketika melihat mereka bergandengan seperti itu. Dia pun ingin menggenggam tangan Renata dan membawa gadis itu berkeliling. Namun, dia harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan cinta.

__ADS_1


“Lia? Bagaimana keadaanmu?”  Kak. Yuutha melempar pertanyaan seraya memiringkan wajah. Mungkin mencoba mengintip keadaaan Lia.


“Dia sudah lebih baik,” Renata menjawab cepat. Dia tak menyangka bahwa Renata akan berlaku sedingin itu, bahkan pada orang yang lebih tua.


Yogi menoleh ke belakang, mencoba mencari tahu keadaan Lia. Gadis itu masih mendekap punggunnya. Di lain sisi, dia masih bertanya-tanya kenapa Lia sampai seperti itu. Mungkin gadis itu sakit? Jika itu benar, maka dia harus mencari tempat untuk beristirahat.


“Emm ..., Renata? Aku bertanya pada Lia.” Kak. Yuutha tersenyum kecut.


“Aku akan menggantikan Lia untuk berbicara.” Renata memicing; Kak. Yuutha tak memberikan reaksi; Rizki menghela napas panjang; Lia ,mendekapnya semakin erat dan dia masih mencerna peristiwa yang terjadi di hadapannya.


Entah kenapa, tetapi Kak. Yuutha dan Renata mengeluarkan aura dingin yang menusuk. Dadanya terasa sesak, paru-parunya seakan ditekan benda berat, membuatnya tak bisa menarik udara.


“Emmm ...,” dia berdengung. Namun, akhirnya sadar akan apa yang terjadi.


Sebelumnya Lia berkata bahwa ‘dia di sini.’ Orang yang dimaksud Lia pasti adalah Kak. Yuutha. Mungkin Lia takut pada Kak. Yuutha yang sudah membuatnya hampir pingsan. Lia pasti menumbuhkan phobia Kak. Yuutha.


“Yogi, apa yang kau bawa?” Rizki memecah keheningan sehingga laki-laki itu menjadi pusat perhatian.


“Ah, ini?” Yogi mengangkat kantong plastik di tangan kanannya. Dia mengeluarkan salah satu buku dan mengulurkannya pada Rizki. “Ini untukmu! Lia berkata bahwa buku itu memiliki kisah yang bagus.”


“Yap,” jawabnya singkat seraya mengikuti sosok Rizki yang mendampinginya.


“Kenapa kau tiba-tiba baik padaku? Ada sesuatu yang kau inginkan dariku?”


“Tidak. Anggap itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah banyak membantuku,” jelasnya.


Terlarut dalam percakapan singkat dengan Rizki, dia melupakan fakta bahwa Kak. Yuutha dan Renata sedang beradu pandang. Dua gadis itu tampak seperti singa dan serigala yang hendak mengadu taring.


“Apa kau tidak menghentikan mereka?” Rizki berbisik padanya.


“Bukankah seharusnya kau menarik Kak. Yuutha?” jawabnya dengan pelan.


“Jujur saja, aku butuh istirahat,” Rizki menghela napas.


“Berpencar?” dia mengusulkan ide pada Rizki.


“Ide bagus, tetapi biarkan aku bersama Lia dan Renata. Aku lelah karena berkeliling dengan Kak. Yuutha. Jadi, aku perlu mendinginkan otak.” Rizki mengetuk kepala sendiri.

__ADS_1


“Em ...,” sebenarnya dia ragu untuk menyerahkan Lia dan Renata pada Rizki, tetapi dia juga kasihan pada Rizki. “Baiklah. Aku juga memiliki sesuatu yang harus dilakukan. Bawa buku ini! ini milik Lia.” Dia menyerahkan kantong plastik pada Rizki.


“Terima kasih kawan,” Rizki menarik diri dan kembali bersikap normal.


“Kak. Yuutha, apa aku bisa meminta tolong?” dia mendekati kembang es, meninggalkan Lia.


“Apa itu?” Wajah tajam Kak. Yuuta mencair ketika dia mendekat. Lia pun berpindah pada Renata dan menyembuyikan diri di balik punggung Renata. Itu tampak menggemaskan di matanya. Mungkin dia perlu mencubit pipi gadis itu nanti.


“Ada sesuatu yang harus kubeli, aku ingin saran Kakak,” Yogi melempar alasan.


“Tentu, tetapi apa yang akan kau beli?”


“Sebuah aksesoris. Apa Kak. Yuutha tahu kios yang bagus?”


“Ya, aku tahu. Itu ada di lantai teratas, ayo!” Kak Yuutha berbalik, mengekor padanya.


“Ah, kalian pergilah berdua! Aku perlu beristirahat,” Rizki angkat bicara.


“Ha?” Kak. Yuutha menghentikan langkah, memicingkan mata dan menusuk Rizki dengan tajam. Meski Yogi bukan target tatapan tersebut, tetapi dia bisa merasakan tatapan dingin tersebut membelai tulang belakangnya. “Kau membiarkan kekasihmu dengan pria lain?” Oh, Yogi tak mengira bahwa Kak. Yuutha melihatnya sebagai seorang pria.


“Aku kenal Yogi lebih lama dari Kakak. Jadi, aku tahu bahwa dia adalah pengecut yang tak berani macam-macam dengan milik orang lain,” jawab Rizki.


“Itu cukup jahat kau tahu.”


“Aku juga setuju. Lia masih butuh istirahat,” Renata menambahkan.


“Kalian berdua,” Kak. Yuutha bergumam.


“Ah, tenanglah Kak!” dia segera mendekat, meredam amarah Kak. Yuutha. “Bukankah Kakak tahu bahwa Lia memiliki tubuh lemah? Sebaiknya biarkan mereka beristirahat dan biarkan Rizki menjaga mereka.”


“Haa ..., baiklah!” tampak begitu berat ketika Kak. Yuutha menyetujui. “Yogi, kita pergi,” ajak Kak. Yuutha seraya mengantam tanah.


“Ah, baik,” jawabnya sambil  mengekor. Meski merasa sedikit bersalah, tetapi dia harus melakukan itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2