Bride

Bride
Bab 10 ~Di Luar Rencana~


__ADS_3

Bab 10 ~Di Luar Rencana~


If The Plan Doesn’t Work, Change The Plan! Not The Goal


-Unknown-


Hening. Satu-satunya suara yang menusuk telinga adalah langkah kaki, menggema ke ujung lorong dan kembali pada mereka. Ke mana pun mata memandang, Yogi tak menemukan seorang pun. Dia rasa itu wajar karena murid diperbolehkan meninggalkan sekolah. Ketika itu terjadi, pilihan pertama yang diambil adalah pulang. Itu bahkan berlaku padanya, jika dia tak jatuh hati pada Renata.


Di samping, kanan, Yogi adalah Rizki. Rizki berjalan di samping tembok. Ke dua tangan laki-laki itu mendekam di saku celana dan seperti biasa, laki-laki itu mengunci mulut. Dengan mata setengah terbuka, membuat Rizki terlihat setengah sadar.


Yogi berjalan menatap lantai. Pikirannya kacau, tak bisa mengolah kalimat atau kata. Ketika tubuhnya bergerak, menuju kelas, pikirannya hanya berdiam di satu tempat, masih memikirkan cara untuk mencairkan suasana yang mencekik tenggorokan. Bagaimana tidak? Sejak mereka meninggalkan perpustakaan, tak seorang pun yang berbicara.


Tepat di samping Yogi adalah pujaan hatinya, Renata. Namun, gadis itu pun bernasib sama. Bibir gadis itu pun membatu, tak mengeluarkan suara sedikit pun. Wajah Renata pun tertunduk, dalam, tampak seperti menghitung setiap ubin yang dilewati.


Kemudian yang mendampingi Renata adalah Lia. Sejak meninggalkan perpustakaan, gadis itu jadi lebih tenang, bahkan hampir tak mengeluarkan suara sedikit pun. Yogi mulai berpikir bahwa Lia juga memiliki sisi pendiam. Dia juga mengakui bahwa Lia terlihat lebih indah ketika tersenyum seperti Renata.


"Hei." Yogi berpaling, menatap Rizki yang menepuk pundaknya.


"Ya?" Ke duanya menahan suara, hendak mendiskusikan sesuatu.


"Saat kita di kelas, cobalah untuk menanyakan beberapa hal tentangnya!" Rizki memberi saran.


"Tetapi apa yang harus kutanyakan?" jangankan menanyakan sesuatu, Yogi bahkan tak bisa berpikir jernih. Apa yang terdengar sejak tadi hanya degup jantungnya sendiri.


"Apa pun yang terdengar umum dan normal. Itu saja sudah cukup untuk saat ini."


“Tetapi, apa itu akan cukup?”


“Itu cukup, mengingat bahwa ini adalah kali pertamamu.,” jawab Rizki.


"Baiklah, akan kucoba." Ketika Yogi mengatakan itu, Rizki segera menarik diri dan menepuk punggungnya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Suara Renata menusuk telinga, membuat Yogi dan Rizki segera berpaling, menatap gadis yang sama.

__ADS_1


"Ah, tidak ...—"


"Si bodoh ini hanya berpikir untuk jalan-jalan di hari minggu. Dia mengajakku untuk bergabung," Rizki menyela, mengalihkan perhatian ke arah yang berbeda.


Saat Rizki mengalihkan pembicaraan ke arah lain, sekali lagi Yogi berpikir bahwa Rizki itu hebat. Dia masih merasa beruntung karena memiliki Rizki di sisinya.


"Heee, kalian akan pergi di hari minggu? Apa kami boleh ikut? Aku tidak punya kegiatan di hari minggu, nanti," Lia menerobos, memasuki obrolan dengan berbagai pertanyaan layaknya kereta api.


"Emm ..., sebenarnya kami belum memutuskan akan pergi ke mana?" jawab Yogi, "jadi kupikir untuk menundanya.” Dia berpikir untuk mengakhiri pembicaraan yang melenceng dari rencana.


"Eh? Bagaimana jika ke mal?" Renata segera menyahut, cepat.


Reaksi Renata, cepat, bahkan terlalu cepat. Itu membuat Lia, Yogi, dan Rizki membisu untuk sejenak, bahkan langkah tiap orang terhenti karena Renata. Renata menjadi pusat perhatian dalam waktu kurang dari satu detik.


Perhatian Renata berpindah, menatap Yogi dan Rizki yang membatu.


"Ah, lupakan!" Renata berpaling, menyembunyikan wajah dari para laki-laki. Lia, yang berada di sisi Renata, mengintip wajah Renata dengan mata terbuka lebar.


"Tidak!" Yogi membuka mulut tanpa menyadarinya, membuat perhatian semua orang berpindah padanya, termasuk Renata dengan wajah merona. "Emm ....” Yogi berpaling, menggaruk pipi. “Maksudku ..., kita berempat bisa pergi ke sana," lanjut Yogi. Dia tak menyangka bahwa alasan, Rizki, akan berubah menjadi sebuah janji pertemuan. Meski itu pertemuan kelompok, setidaknya dia bisa menghabiskan waktu untuk menatap Renata. Karena itu, dia tak ingin kehilangan kesempatan tersebut.


"Aku akan ikut. Mungkin akan kuajak Kak. Yuutha," Rizki ikut serta.


"Em ....” Rizki memindah perhatian dari Rizki, menatap Renata yang tak mampu menunjukkan wajah. “Bagaimana denganmu, Renata?" Yogi melempar pertanyaan pada gadis tersebut seraya menggaruk pipi.


"Hmm ...." Renata mengangguk, kembali menyembunyikan wajah dan melanjutkan, "Aku ..., ikut."


Melebar sebuah garis lengkung di bibir Yogi. Sebuah rasa meledak-ledak dalam dada, mendorong Yogi untuk melompat ke angkasa. Bunga warna-warni seakan bermekaran dalam pandangannya. Namun, Yogi justru menghela napas, menahan diri supaya tidak melompat-lompat seperti anak kecil.


"Rizki, Kak. Yuutha yang kau sebut ini, apa dia adalah alumni?" Lia memiringkan wajah, sembari mengangkat kaki, berjalan mendahului.


"Ya, memang dia yang kumaksud," Rizki pun mendampingi gadis itu. Dua orang itu semakin menjauh. Namun, Renata dan Yogi masih mematung di tempat yang sama.


Renata masih menyembunyikan wajah. Itu membuat Yogi khawatir akan kondisi pujaan hatinya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Tanya Yogi pada Renata yang masih menatap lantai.


Renata mengangguk sebagai balasan. Tidak lama kemudian, Renata menghela napas dan menegakkan tubuh. Gadis itu membusungkan dada, berpaling padanya, dan menunjukkan senyum di bibir, tipis, tersebut.


Ketika Yogi melihat itu, dia berpikir bahwa Renata adalah gadis kuat. Tidak, Renata pasti gadis kuat yang bisa menghadapi segala rintangan.


"Sebaiknya kita menyusul mereka sebelum ...—"


"Rena! Yogi! Kenapa kalian masih di sana?" Lia berteriak, memotong ucapan Renata. Gadis itu melambaikan tangan pada mereka berdua, sedangkan Rizki tampak menggaruk kepala. Mungkin Rizki merasa bahwa Lia tak bisa dikendalikan.


"Sebelum itu terjadi?" tanya Yogi sambil menunjuk Lia dan memasang senyum kecut.


"Begitulah," jawab Renata.


Untuk beberapa detik, Yogi dan Renata saling bertukar pandang. Namun, tak lama kemudian, tawa pun pecah di antara ke duanya.


Yogi tak menyangka bahwa Lia bisa menjadi jembatan yang menghubungkannya dengan Renata. Meski tidak disengaja, tetapi itu memberikan dampak besar baginya. Yogi bahkan tidak menyangka bahwa bisa melihat tawa Renata.


Di hari minggu nanti, dia mulai berpikir untuk membeli sesuatu untuk Lia. Tentunya Rizki, juga. Tanpa alasan yang diberikan Rizki, dia tidak akan tertawa lepas dengan Renata. Jika Yogi mengingatnya kembali, Rizki juga memberi banyak bantuan padanya, bahkan sebelum mengenal Renata. Mungkin dia bisa membelikan satu buku untuk Rizki.


“Hei, cepatlah kemari! Aku ingin segera pulang,” Lia menaikkan suara sekali lagi.


“Sebaiknya kita menuruti gadis itu,”


“Ya, sebelum dia berteriak dan memecahkan kaca jendela,” jawab Renata.


Ke duanya mulai angkat kaki, mendekati Lia dan Rizki yang sudah berada di ambang pintu kelas.


“Tunggu! Apa itu pernah terjadi?”


“Tidak, tetapi aku cukup yakin bahwa dia bisa melakukan itu.”


“Itu cukup jahat, kau tahu?”

__ADS_1


“Ahahaha.” ketika Yogi melihat tawa tersebut, Yogi berpikir untuk melindungi senyum Renata, tak peduli apa yang terjadi.



__ADS_2