
Bab 11 ~Menyalin~
Pintar itu relatif, sedangkan mencontek adalah alternatif
-Unknown-
Menunggu, sesuatu yang sangat menyebalkan bagi beberapa orang. Kesepian memeluk, mencoba menemani, tetapi tak dapat mengusir rasa bosan yang mengakar. Di sisi lain, orang yang ditunggu, biasanya, justru menikmati waktu tanpa memikirkan orang yang menunggu. Itu membuat manusia terdengar menyebalkan karena menganggap enteng sebuah waktu. Namun, Yogi tak merasa seperti itu.
Dia menunggu, menatap malaikat yang menyalin catatannya. Bukan perbuatan baik dan buruk yang disalin, melainkan sebuah jadwal pelajaran. Jika kalian bertanya kenapa malaikat ini menyalin catatannya, jawabannya karena malaikat ini tertidur di perpustakaan.
Sisi itu cukup mengejutkannya, tetapi dia masih menganggap anggun sosok tersebut ketika terlelap. Wajah tenang yang menghanyutkan, lentik mata yang mencuat, dan bibir tipis yang tertutup rapat. Ketika semua itu bertemu dan bergabung, itu menjadi sebuah lukisan hidup yang mengagumkan.
Kini dia memandang sosok dalam lukisan tersebut, Renata. Mata gadis itu menyapu setiap tuisan dan menyalin segalanya. Helaian hitam menggantung di sisi pipi gadis itu, kemudian gadis itu menyelipkan helaian tersebut di belakang telinga, menunjukkan sisi menakjubkan lainnya.
Entah berapa kali Yogi dibuat kagum oleh sosok Renata, dia tak ingat. Namun, dia yakin bahwa semua itu tidak sia-sia. Segala rasa yang menumpuk dalam diri, tak memberikan penyesalan sama sekali, tetapi memberi sesuatu yang pasti. Dia mencintai Renata, sosok gadis yang tengah berada di depan mata.
“Tulisanmu bagus,” puji Renata.
“Eh? Ah, ya ....” Yogi, berpaling, tersenyum sambil menggaruk pipi. “Terima kasih.”
Entah apa yang terjadi, tetapi dia bisa berpikir lebih jernih, sejak mereka tertawa bersama. Jantungnya pun berdegup lebih tenang. Dia merasa bisa membicarakan apa pun dengan Renata.
“Renata,” dia menyebut nama gadis itu.
“Ya?” Tangan Renata berhenti bergerak, mengangkat wajah untuk menatapnya.
“Em ..., sebentar lagi kita akan lulus. Apa kau sudah menentukan sekolah tujuanmu?” dia mulai melempar pertanyaan.
“Begitulah, aku berpikir untuk melanjutkan ke SMA N 6. Bagaimana denganmu?” Ketika Renata menjawab, dia teringat bahwa dia juga akan melanjutkan ke SMA, tetapi dia belum memutuskan SMA mana. Di sisi lain, Rizki juga akan memasuki SMA N 6.
“Kebetulan, aku juga akan ke sana dengan Rizki,” jawabnya sambil menunjuk Rizki yang berada di samping.
“Apa?” tanya Rizki.
“Bukan apa-apa. Kami hanya membicarakan sekolah lanjutan kita,” jawab Renata.
“Memangnya, Renata akan melanjutkan ke sekolah mana?” Rizki mengulangi pertanyaannya.
“SMA N 6!” Lia berteriak, seperti biasa, menyela obrolan rekan lain.
__ADS_1
“Eh?” Yogi bergumam karena Lia yang masuk secara mendadak.
“Aku dan Renata akan melanjutkan ke SMA N 6.” Lia mendekati dan merangkul Renata.
“Sepertinya kita semua akan melanjutkan ke sekolah yang sama,” ucap Yogi.
“Heee, kalian berdua juga akan melanjutkan ke SMA N 6?” Lia melempar pertanyaan.
“Begitulah,” jawab Rizki.
“Itu artinya, kita tidak sendirian! Hore!” Lia melompat, memeluk Renata, sedangkan Renata tersenyum kecut.
Yogi pun membalas Renata dengan senyum kecut pula, sedangkan Rizki tak memberi reaksi sedikit pun.
Melihat Renata dan Lia, mengingatkan Yogi akan kondisinya dan Rizki. Sifat dua gadis itu berlawanan, tetapi tetap bersama, seperti dia dan Rizki. Itu menjadi sebuah bukti bahwa mereka telah melewati banyak rintangan, seperti dia dan Rizki.
“Apa maksudmu tidak sendirian?” Rizki melempar pertanyaan.
“Jawabannya akan kuserahkan pada saudara Rena,” Lia mengubah akting seraya menunjuk Renata, bahkan Lia menggunakan pulpen sebagai mik. “Saudara Rena, saya persilahkan anda untuk menjawab pertanyaan Rizki.”
“Terima kasih, saudara Lia,” Renata menaruh pulpen, mengikuti arus yang dibuat Lia. “Baiklah, kami telah mensurvei seratus orang, bohong, menggunakan pertanyaan serupa dan hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 89% siswa sekolah kita, akan melanjutkan ke SMK. Mereka beralasan untuk segera lulus dan memperoleh pekerjaan. Kemudian, 19% sisanya bermaksud untuk melanjutkan ke SMA dan kemudian ke jenjang yang lebih tinggi.” Yogi tak menyangka bahwa Renata juga bisa bersikap seperti itu.
“Pertanyaan!” Yogi mengangkat tangan tinggi-tinggi.
“Kenapa Renata dan Lia ingin melanjutkan ke SMA?” tanya Yogi.
“Saudara Rena, silahkan menjawab pertanyaan tersebut,” Lia menunjuk Renata, lagi.
“Emm ....” Renata melirik ke atas, “Aku hendak melanjutkan ke jurusan hukum.” Ketika Renata menjawab, Lia menyempatkan diri untuk kembali menempatkan pantat di kursi.
“Jadi, kau ingin menjadi hakim atau pengacara?” Rizki memangku dagu, menatap Renata yang menjadi pusat obrolan.
“Aku berpikir untuk menjadi seorang pengacara,” jawab Renata.
“Benar! Meski Renata terlihat pendiam, dia sebenarnya cerdas. Dia bahkan lebih cerdas daripada aku,” Lia menyahut, menjelaskan dan membanggakan Renata.
“Kurasa itu bukan sesuatu yang bisa kau banggakan!” Yogi berkomentar.
“Tentu saja aku bangga karena bisa memiliki teman seperti Renata. Kau juga pasti bangga karena memiliki teman seperti Rizki, bukan?”
“Memang aku senang, tetapi aku tak bisa membanggakan sesuatu yang bukan milikku,” jawab Yogi.
“Hmmm ..., benar juga. Jadi aku salah?” Lia memasang wajah polos.
__ADS_1
“Tidak. Bukan itu maksudku,” Yogi memutar otak, mencoba memikirkan cara untuk menjelaskan,“Emm ..., aku tak bisa menjelaskannya.”
“Yah, pemikiran seperti itu tidak bisa dinilai benar atau salahnya,” Rizki menjawab. “Karena itu, kau tidak salah, tetapi juga tak benar di waktu yang sama.”
“Emmm ..., baiklah. Jadi aku tidak salah, kan?” Lia mengulangi pertanyaan. Yogi, Rizki, serta Renata pun mengangguk sebagai jawaban.
“Ngomong-ngomong kalian sudah selesai?” Yogi melempar pertanyaan lain, mengingatkan Renata dan Lia yang tadinya tengah menyalin catatan.
“Ah, aku hampir selesai,” Renata segera mengambil pulpen dan kembali menyalin.
“Aku sudah selesai!” Di sisi lain, Lia mengangkat buku catatan dan menunjukkan buku tersebut pada Rizki dan Yogi.
Sebenarnya Yogi cukup terkejut degan hasil pekerjaan Lia. Selain pekerjaan yang cepat, tetapi tulisan gadis itu juga rapi. Gadis itu mungkin cocok sebagai sekretaris atau semacamnya.
“Tulisanmu bagus,” puji Rizki.
“Ya, sangat bagus,” Yogi ikut melempar pujian.
“Hehehehe ....” Lia tertawa sambil menggaruk kepala belakang, “Aku suka disanjung seperti itu.”
“Tak ada orang yang benci disanjung,” Yogi berkomentar.
Lia segera menutup buku catatan, menunggu Renata yang masih menyalin. Berselang beberapa menit, Renata telah selesai menyalin.
“Aku selesai,” ucap Renata sambil menunjukkan buku catatan pada Rizki dan Yogi.
“Tulisanmu bagus,” Rizki memberi puian yang sama.
“Ya, sangat-sangat bagus,” Yogi pun ikut memuji pujaan hatinya.
“Terima kasih,” jawab Renata. “Juga, terima kasih untuk catatannya,” Renata menyerahkan kembali buku catatannya.
Yogi menerima buku catatan tersebut dan memasukkannya ke dalam tas seraya menjawab, “Sama-sama.”
Dua gadis itu beranjak dari tempat duduk, menuju ke barisan depan untuk menyimpan buku catatan di tas. Yogi menyempatakan diri untuk memasukkan buku. Setelah itu, dia segera menggendong tas dan bangkit dari kursi.
Ketika Rizki dan Yogi menatap ke depan, Renata dan Lia sudah bersiap dengan tas di punggung.
“Ayo, pulang!” ucap Renata.
“Ya.”
__ADS_1