Bride

Bride
Bab 23 ~Adik Nakal~


__ADS_3

Bab 23 ~Adik Nakal~


“Kakak beradik memang jahil dan menyebalkan, tetapi itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka.”


-Unknown-


 


 


Detik demi detik terlewati. Menit demi menit berlalu. Jam demi jam pun terlalui, mengganti tirai angkasa dengan warna lebam, bertabur butiran cahaya. Meski dalam bentuk yang tak sempurna, tetapi dewi malam tetap tersenyum pada permukaan dunia.


Jalan raya mulai disesaki kendaraan bermotor. Suaranya saling menyahut satu sama lain. Lampu-lampu pinggir jalan mulai menunjukkan sinar, memerangi kegelapan yang menelan hari. Mamalia terbang pun bangun dari tidur, melompat ke angkasa demi memulai hari. Namun, Yogi tak berada di luar ruangan untuk menikmati semua itu.


Dia berbaring, menatap lampu yang menggantung di langit-langit kamar. Rasa lelahnya menumpuk di satu tempat, membuatnya enggan bangkit meski terjadi gempa sekali pun. Meski begitu, bibirnya melengkung dan matanya berkaca-kaca, merefleksikan sinar lampu.


Pelan, dia berpaling, mengganti posisi dan memeluk guling yang berada di sisi kiri. Senyumnya tak lenyap, justru melebar. Hanya satu yang menjadi penyebab, yaitu Renata.


Gadis cantik tersebut bernaung di pikirannya, tersenyum dengan mata yang merefleksikan cahaya. Penjepit merah menyelip di antara helaian hitam, menyebabkan gadis itu terlihat lebih menawan dengan pipi suam. Adegan sederhana tersebut tak dapat lenyap dari pikiran. Namun, dia pun tak ingin agar itu hilang.


“Ah,” sesuatu muncul di benak, “dasar bodoh! Kenapa aku lupa membelikannya boneka,” Yogi memindah posisi, menenggelamkan wajah dalam bantal dan meraung sekuat tenaga.


Pasalnya dia sudah berencana membeli boneka untuk Renata. Namun, setelah membeli penjepit rambut, dengan Kak. Yuutha, dia melupakan hal itu. Lia bahkan tidak mengingatkannya. Tidak, itu bukan kesalahan Lia, tetapi kecerobohannya.


Tenaganya lenyap. Tubuhnya tenggelam dalam balutan kasur, menyadari kebodohan yang dibuat.


Yogi menutup mata, memutar kembali memori yang didapat di akhir pekan. Tiga rekannya terlambat dan diceramahi Kak. Yuutha. Itu mengakibatkan Lia hampir pingsan, akhirnya Lia memunculkan rasa takut pada Kak. Yuutha. Dia membelikan buku untuk Lia dan Rizki, juga penjepit untuk Kak. Yuutha dan Renata.


Ketika selesai makan siang, dia memberikan penjepit sebagai hadiah untuk Renata. Bersama dengan itu, Lia dan Kak. Yuutha sudah tersenyum bersama. Dia tak tahu apa yang mereka lakukan di kamar mandi, tetapi dia beryukur karena dua gadis itu bisa tersenyum bersama, bukannya menghindari satu sama lain.


Posisinya berubah lagi. Dia berputar, kembali menatap langit-langit dengan dua tangan direntangkan ke samping. Senyum di bibirnya kembali melebar, mendapati Renata tersenyum dalam pikiran.


“Ah, akan menyenangkan jika aku bisa me ...―”


“Bisa apa?” perhatiannya berpindah dengan cepat ketika suara lain menusuk telinganya.


Apa yang dia temukan adalah Tari yang berdiri di hadapan pintu. Seperti biasa, gadis itu mengenakan celana pendek dan kaus polos. Tampak begitu terbuka, tetapi dia tahu bahwa adiknya tak pernah berpenampilan seperti itu di luar rumah. Dia dan anggota keluarga lain pun sudah terbiasa dengan itu.


Tak sekedar berdiri di sana, Tari memegang sebuah buku catatan di tangan kanan.

__ADS_1


“Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?” dia melempar pertanyaan.


“Ah, aku lupa. Hehe ...,” jawab Tari sambil melangkah memasuki kamar, membiarkan pintu terbuka lebar. Gadis itu mendekati meja belajar dan duduk di kursinya. Buku catatan dibaringkan di atas meja dan dibuka secara perlahan.


“Bukankah kau bisa mengerjakan PR di kamarmu?” dia memberikan pertanyaan lain.


“Jika aku bisa melakukannya sendiri, aku tidak akan kemari,” apa yang dikatakan Tari ada benarnya, “ajari aku matematika!”


Sebenarnya nilainya dalam matematika tidak terlalu bagus. Namun, persentase nilainya masih lebih baik jika dibandingkan dengan Tari. Dia juga tahu cara mengajar, sehingga terkadang Tari meminta diajari.


“Haaa ...,” Yogi menghela napas, “Tanyakan apa kendalamu! Jika aku bisa membantu, maka akan kubantu,” imbuhnya sambil bangkit dari tidur.


Tari benar-benar mengganggu acaranya. Padahal dia hendak membayangkan wajah Renata, hingga terlelap sampai pagi. Namun, sepertinya dia perlu mengurung niat tersebut, setidaknya sampai Tari meninggalkan kamarnya.


Jika Tari bukan adiknya, mungkin dia sudah mengusir gadis itu dari kamarnya, tetapi karena memiliki darah yang sama, dia harus memberi bantuan pada gadis itu.


Dia menempatkan diri di pinggir kasur, duduk dengan dua kaki terlipat. Guling panjang dia peluk sembari memperhatikan Tari yang fokus pada buku catatan.


“Diketahi volume sebuah balok adalah 648 cm. Jika memiliki panjang 12 cm dan lebar 9 cm, maka tentukan tinggi balok tersebut!” Tari membacakan salah satu soal.


“Sebentar! Hmmm ....” Yogi memiringkan wajah, mencari rumus yang dirasa bisa mengerjakan permasalahan tersebut. “Apa rumus volume balok?”


“Itu ..., panjang dikali lebar dikali tinggi,” jawab Tari.


“Benar.”


“Itu artinya, kau perlu mengalikan panjang dan lebar. Ketika kau menemukan hasilnya, bagi volume dengan hasil perkalian tadi, maka kau akan menemukan tinggi balok tersebut,” jelasnya sesingkat mungkin.


“Ha?” Tari memiringkan wajah, tanda kebingungan.


“Haa ..,” Yogi menghela napas sebelum mulai melanjutkan, “volume = panjang x lebar x tinggi. Tinggi = volume / panjang x lebar.”


“Ah, aku paham. Akan kucoba,” jawab Tari sambil berpaling dan mulai menghitung di atas kertas.


“Apa ada lagi?” tanyanya malas. Dia ingin segera berbaring, kembali tenggelam dalam halusinasi.


“Ini baru pertanyaan pertama,” jawab Tari dengan santai


“Haa ..., kenapa kau tidak mengerjakannya kemarin?” Yogi membanting tubuh ke kasur, kembali menatap langit-langit.

__ADS_1


“Aku malas kemarin.”


“Terserah,” balasnya tak acuh. Dia tak mengerti kenapa adiknya memiliki sifat malas yang kental, padahal sifat malasnya tak sekental itu.


“Ngomong-ngomong apa Kakak jatuh cinta pada seseorang?” matanya terbelalak ketika mendengar itu keluar dari mulu Tari.


“Ha? A-apa maksudmu?” Dia berpaling, menggaruk pipi dengan senyum yang dipaksakan.


“Jangan berbohong! Aku tahu bagaimana Kakak berbohong,” dia tak menyangka bahwa Tari bisa menebaknya.


“A ..., emm ..., itu ...,” Yogi kebingungan cara untuk meladeni gadis itu. Pikirannya bahkan tak bisa memikirkan kata yang tepat untuk dilontarkan.


“Masih mencoba mengelak?” Tari mengangkat satu alis.


“Ah, terserahlah,” jawabnya sambil berpaling.


“Apa dia cantik?”


“Bukan urusanmu.”


“Kurasa dia cantik.”


“Kerjakan tugasmu dengan benar!”


“Ahahaha ..., Kakakku ternyata jatuh cinta pada seseorang.”


“Aaaarrrggg ..., sudah kubilang diam!” Dia bangkit, membentak, tetapi Tari justru tersenyum padanya.


“Baiklah, aku minta maaf,” jawab Tari.


“Kerjakan tugasmu! Atau aku tak akan membantumu lagi.”


“Baik  ....” Akhinya Tari mengunci mulut.


Dia tak mengerti kenapa Tari bisa mengetahui hal itu, atau mungkin itu terlihat jelas di wajahnya. Apa pun alasannya, dia perlu belajar cara menyembunyikan perasaan tersebut.


“Siapa namanya?”


“Diam!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2